Mencegah Api, Meredam Asap di Riau

Kompas.com - 06/09/2013, 22:06 WIB
Petugas Kementerian Kehutanan memadamkan kebakaran hutan di Pekanbaru, Riau, 320 kilometer dari Singapura, 20 Juni 2013. Kebakaran hutan ini mengakibatkan kabut asap menyelimuti negara tetangga. AFP PHOTO / HAFIZ ALFARISSIPetugas Kementerian Kehutanan memadamkan kebakaran hutan di Pekanbaru, Riau, 320 kilometer dari Singapura, 20 Juni 2013. Kebakaran hutan ini mengakibatkan kabut asap menyelimuti negara tetangga.
EditorKistyarini

KOMPAS.com - Selama berabad-abad, sejumlah masyarakat di Provinsi Riau terbiasa membakar lahan untuk membuka lahan pertanian baru. Kebiasaan di masa perladangan berpindah dengan luas lahan di bawah dua hektar itu bertahan hingga masa perkebunan dengan luas ratusan hektar saat ini.

Salah seorang warga Kabupaten Indragiri Hilir, Mono (45), masih membakar lahan pada Juni 2013 sebagai persiapan pembukaan ladang jagung. Dengan pembakaran lahan, pengurus RT di Desa Gurah Baru itu mendapat dua keuntungan. Pertama, lahan cepat bersih. Tidak sampai tiga hari, ladang terbebas dari semak dan aneka tumbuhan. Jika menggunakan tenaga manusia atau memakai mesin keruk, diperlukan waktu lebih dari sepekan untuk membersihkan ladang lebih dari satu hektar itu.

Keuntungan kedua, Mono tidak perlu menghabiskan banyak biaya untuk memupuk lahan. Ladang yang terdiri atas gambut membutuhkan pupuk antara lain untuk meningkatkan pH tanah dari rata-rata 3,5 menjadi minimal 6,5. Di beberapa perkebunan besar yang ladangnya di tanah gambut, dibutuhkan biaya hingga Rp 20 juta memupuk setiap hektar lahan.

Petani seperti Mono tidak akan sanggup menyediakan dana sebesar itu. Karena itu, ia tetap membakar lahan meski tepat di depan ladangnya ada papan pengumuman larangan membakar lahan. Dari jarak 30 meter, peringatan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara dan denda Rp 15 miliar bagi pembakar lahan yang dicantumkan di papan itu terbaca dengan jelas.


Mono tidak terlalu berpikir bahwa kebakaran di ladang jagung terpantau satelit NOAA pada Juni. Kebakaran di ladangnya merupakan salah satu dari 812 titik panas di Riau yang terdata Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama Juni. Dengan titik api sebanyak itu, tidak heran Riau menghasilkan asap yang berembus hingga ke sejumlah provinsi dan negara lain.

Meski sekarang kabut asap sudah berkurang drastis, bukan berarti pembakaran lahan sudah berhenti. Pada 16 dan 18 Agustus, BNPB mendata 261 titik panas di seluruh Riau. Saat titik api di provinsi lain kurang dari 100 titik selama Agustus 2013, di Riau sudah tercatat 313 titik.
Pengendalian

Berdasarkan data BNPB, setiap tahun dipastikan terjadi kebakaran hutan di Riau dan sejumlah provinsi lain di Indonesia. Dengan kebiasaan sebagian penduduk dan pihak-pihak yang diduga terkait perusahaan perkebunan, sulit diharapkan Riau sama sekali terbebas dari kebakaran lahan. ”Kami tidak mengenal cara yang lebih mudah dan murah untuk persiapan lahan selain membakar,” ujar Yosi Ismail, Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Teluk Bunian, Indragiri Hilir.

Bersama sembilan rekannya di regu MPA Teluk Bunian, Ismail memilih pendekatan lain. Mereka tidak mengajak orang sama sekali berhenti membakar lahan. ”Boleh membakar asal terkendali. Kebun satu hektar jangan dibakar sekaligus. Bakar dua atau tiga kali dan dijaga saat membakar. Jadi, api tidak ke mana-mana dan asap tidak tebal,” ujarnya.

Mereka menyosialisasikan cara pengendalian api dan melokalisasi kebakaran lahan. Sosialisasi dilakukan di tengah pengajian, gotong royong, atau kegiatan lain ketika warga berkumpul. ”Di mana bisa jumpa orang ramai, di sana kami pelan-pelan sampaikan,” ujarnya.

Sosialisasi oleh anggota MPA lebih mudah diterima walau tetap butuh waktu sampai diterapkan masyarakat sepenuhnya. Sebab, sosialisasi disampaikan kepada kenalan dan orang-orang yang setiap hari berinteraksi. ”Kalau ditegur oleh orang yang kita kenal setiap hari, rasanya lebih mudah diterima dibandingkan orang dari luar desa yang tahu-tahu buat sosialisasi,” ujar Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Indragiri Hilir Ardi Yusuf.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X