Dedi Mulyadi: Nelayan Bangka Menangis dan Bingung Harus Mengadu ke Mana Lagi

Kompas.com - 29/11/2020, 14:00 WIB
Wakil Ketua Komisi IV Dedi Mulyadi (iket putih) dan sejumlah anggotannya sedang berdialog dengan nelayan di Bangka, Bangka Belitung, Jumat (27/11/2020). HandoutWakil Ketua Komisi IV Dedi Mulyadi (iket putih) dan sejumlah anggotannya sedang berdialog dengan nelayan di Bangka, Bangka Belitung, Jumat (27/11/2020).

KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengatakan, pihaknya kebanjiran pengaduan dari warga ketika berkunjung ke Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (27/11/2020).

Pengaduan tersebut mulai dari urusan warga yang ditahan karena konflik pencemaran lingkungan hingga masalah penambang dan nelayan.

Menurutnya, warga dan nelayan sudah merasa kebingungan dengan masalah pencemaran lingkungan yang sudah menggerus mata pencahariannya dan entah harus mengadu ke mana lagi.

"Mereka nyaruuh dan careurik (bersimpuh dan menangis). Mereka seperti kehilangan harapan hidup karena kebingungan ke mana lagi harus mengadu," kata Dedi kepada Kompas.com via sambungan telepon, Minggu (29/11/2020).

Baca juga: 6 Mantan RT Ditahan gara-gara Bau Limbah, Komisi IV DPR Datangi Kejari Bangka

Dedi mengatakan, masyarakat, terutama nelayan di Bangka, mengadu bahwa mereka kehilangan mata pencaharian karena pencemaran laut.

"Terbangun dalam pikiran mereka saya bisa menyelesaikan masalah masyarakat kecil," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dedi mengatakan ada dua persoalan besar yang dihadapi masyarakat Bangka. Pertama adalah kasus penahanan 6 mantan ketua RT karena melakukan class action terkait pencemaran lingkungan. Mereka dituduh melakukan manipulasi data gugatan.

Ia melihat kasus itu dalam kaitannya dengan persoalan lingkungan yang harus segera diselesaikan. Sementara soal aspek hukum, Dedi menyerahkan ke aparat berwenang.

"Soal prosedur administrasi gugatan dan aspek hukum silakan berjalan," kata Dedi.

Kasus pencemaran lingkungan itu sendiri bermula dari munculnya bau tak sedap yang diduga berasal dari pabrik pengolahan tepung ubi. Masyarakat sempat melakukan gugatan, tetapi ditolak pengadilan.

Kasi Pidana Umum Kejari Bangka, Rizal mengatakan, pihaknya menerima permintaan warga untuk penangguhan penahanan yang diajukan perwakilan masyarakat. Namun pihaknya masih mempelajari permintaan itu.

Masalah selanjutnya adalah kasus dugaan pencemaran di Pantai Matras akibat pertambangan. Menurut Dedi, akibat pencemaran itu, banyak nelayan yang tidak bisa melaut sehingga kehilangan mata pencahariannya.

Baca juga: IPB: Pencemaran Sungai Ciliwung dan Cisadane Sudah Melebihi Batas...

Dedi mengatakan, sebagai pimpinan Komisi IV, pihaknya meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menyelesaikan masalah ini.

"Saya beri batas waktu sampai Selasa. Saya minta agar penambangan di laut dihentikan sementara untuk melakukan proses evaluasi terhadap problem lingkungan dan menekan konflik di masyarakat," tandas Dedi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Regional
Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Regional
Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Regional
Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Regional
KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

Regional
Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Regional
Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Regional
Tinjau Vaksinasi di Karawang dan Bekasi, Wagub Uu Optimistis Herd Immunity Akan Tercapai

Tinjau Vaksinasi di Karawang dan Bekasi, Wagub Uu Optimistis Herd Immunity Akan Tercapai

Regional
Melalui Fintech, Kang Emil Minta Bank BJB Adaptasi Sistem Keuangan Masa Depan

Melalui Fintech, Kang Emil Minta Bank BJB Adaptasi Sistem Keuangan Masa Depan

Regional
Dompet Dhuafa Salurkan 106 Ekor Hewan Kurban di Pedalaman Riau

Dompet Dhuafa Salurkan 106 Ekor Hewan Kurban di Pedalaman Riau

Regional
Terkait PPKM Level 4 di Semarang, Walkot Hendi Longgarkan 3 Aturan Ini

Terkait PPKM Level 4 di Semarang, Walkot Hendi Longgarkan 3 Aturan Ini

Regional
Ingin Luwu Utara Aman dan Sehat, Bupati IDP Imbau Warga Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru

Ingin Luwu Utara Aman dan Sehat, Bupati IDP Imbau Warga Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru

Regional
Beri Bantuan Alsintan untuk Poktan, Bupati IDP: Tolong Agar Tidak Diperjualbelikan

Beri Bantuan Alsintan untuk Poktan, Bupati IDP: Tolong Agar Tidak Diperjualbelikan

Regional
UM Bandung Gelar Vaksinasi Massal untuk 3.000 Warga, Ridwan Kamil Berikan Apresiasi

UM Bandung Gelar Vaksinasi Massal untuk 3.000 Warga, Ridwan Kamil Berikan Apresiasi

Regional
Pemprov Jabar Targetkan Pembangunan TPPAS Regional Legok Nangka Rampung pada 2023

Pemprov Jabar Targetkan Pembangunan TPPAS Regional Legok Nangka Rampung pada 2023

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X