Kisah Pengungsi Gempa Maluku, Sengsara di Tenda, Dipungut Rp 100.000 untuk Nikmati Penerangan

Kompas.com - 13/11/2019, 16:38 WIB
Anak-anak korban pengungsi di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah bermain di lokasi pengungsian desa tersebut, Rabu (13/11/2019) KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTYAnak-anak korban pengungsi di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah bermain di lokasi pengungsian desa tersebut, Rabu (13/11/2019)

AMBON, KOMPAS.com - Sudah lebih dari sebulan pengungsi korban gempa di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, menjalani kehidupan di tenda-tenda darurat.

Beberapa tenda darurat berada di hutan dan perbukitan desa.

Ribuan warga desa harus rela meninggalkan perkampungan dan memilih tinggal di tenda darurat, setelah rumah mereka roboh saat gempa bermagnitudo 6,8 yang mengguncang wilayah Pulau Ambon dan sekitarnya pada 26 September lalu.

“Mau bagaimana lagi kita harus ikhlas terima semua cobaan ini, kita tahu ini cobaan dari Allah,” kata Firda Sangaji, salah satu pengungsi, saat ditemui Kompas.com di lokasi pengungsian di perbukitan Rahaban, Desa Liang, Rabu (13/11/2019) sore.

Baca juga: Derita Korban Gempa Maluku dari Tenda Pengungsian, Sampai Curhat ke Jokowi

Firda mengisahkan, saat hari pertama mengungsi, keluarganya hanya tidur beralaskan tanah.

MSaat itu mereka begitu dihantui rasa takut karena gempa susulan terus terjadi. Mereka tidak berani kembali ke perkampungan untuk mengambil perbekalan.

Saat ini pun dia dan pengungsi lainnya masih sangat trauma untuk turun ke perkampungan, karena gempa susulan masih terus terjadi.

“Kalaupun turun ke kampung hanya cepat-cepat langsung balik lagi, karena saya takut di sana,” ujar dia.

Selama di lokasi pengungsian, Firda dan keluarganya menggantungkan hidup dari bantuan yang disalurkan.

Namun, meski bantuan terus berdatangan, mereka jarang mendapatkannya.

Dia mengaku sejak gempa pertama sampai saat ini mereka belum pernah ke bagian terpal yang dibagi di lokasi pengungsian.

Mau tidak mau, suaminya harus mengeluarkan uang untuk membeli beberapa terpal untuk dibuatkan tenda.

“Kalau beras, mi instan dan telur serta air mineral memang kita dapat dua minggu sekali. Tapi untuk kain, handuk dan selimut kita tidak pernah dapat itu semua. Padahal banyak bantuan yang masuk, tapi tidak apa-apa kita sabar saja,” ungkap dia.

Saat ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Firda berjualan kue di lokasi pengungsian.

Uang yang terkumpul digunakan untuk keperluan makan dan kebutuhan sekolah anaknya.

”Kalau tidak begini siapa yang mau lihat kita jadi harus berjualan,” ujar dia.

Pilih kasih

Beberapa pengungsi lain yang ditemui di lokasi pengungsian mengaku penyaluran bantuan selama ini sangat tidak merata.

Itu karena posko induk  yang mengelola pendistribusian bantuan kepada pengungsi baik dari pemerintah maupun relawan kerap pilih kasih dalam membagikan bantuan.

Fatima Lessy salah seorang pengungsi mengaku banyak sekali bantuan yang disalurkan ke posko induk di desa tersebut.

Sayangnya banyak pengungsi tidak kebagian bantuan.

“Dong (mereka) itu bagi lihat-lihat orang, kalau suadaranya mereka bagi sampai dua tiga kali, kadang mereka panggil diam-diam lalu kasih. Kalau kita yang bukan sudara begini saja,” keluh Fatima.

Menurut Fatima, untuk mendapatkan jatah terpal saja dia harus mengemis ke posko dan menunggu kurang lebih satu bulan lamanya barulah diberikan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Guru Honorer di Samarinda, 11 Tahun Jalan Kaki Susuri Hutan Demi Mengajar

Kisah Guru Honorer di Samarinda, 11 Tahun Jalan Kaki Susuri Hutan Demi Mengajar

Regional
Dimaafkan Satgas Covid-19, Penahanan Warganet yang Ancam Polisi dan Dokter Ditangguhkan

Dimaafkan Satgas Covid-19, Penahanan Warganet yang Ancam Polisi dan Dokter Ditangguhkan

Regional
Debat Pilkada Mataram, Jaga Jarak Diabaikan, Para Pendukung Tak Pakai Masker dengan Benar

Debat Pilkada Mataram, Jaga Jarak Diabaikan, Para Pendukung Tak Pakai Masker dengan Benar

Regional
Setelah Lobi Sipir 1 Jam, Polisi Akhirnya Periksa Bandar Narkoba di Lapas Pekanbaru

Setelah Lobi Sipir 1 Jam, Polisi Akhirnya Periksa Bandar Narkoba di Lapas Pekanbaru

Regional
Libur Panjang, 113.283 Kendaraan dari Jakarta Masuk ke Puncak Bogor

Libur Panjang, 113.283 Kendaraan dari Jakarta Masuk ke Puncak Bogor

Regional
Alasan Hari Libur, Polisi Dihalangi Saat Akan Periksa Napi Bandar Sabu di Lapas Pekanbaru

Alasan Hari Libur, Polisi Dihalangi Saat Akan Periksa Napi Bandar Sabu di Lapas Pekanbaru

Regional
Malu karena Hamil di Luar Nikah, Seorang Siswi SMA Buang Bayi yang Baru Dilahirkannya di Depan Panti Asuhan

Malu karena Hamil di Luar Nikah, Seorang Siswi SMA Buang Bayi yang Baru Dilahirkannya di Depan Panti Asuhan

Regional
Liburan Bersama Teman-teman, Seorang Bocah Tewas Tenggelam di Sungai

Liburan Bersama Teman-teman, Seorang Bocah Tewas Tenggelam di Sungai

Regional
Diduga Gangguan Jiwa, Sutejo Angkut Jenazah Ibunya Pakai Sepeda Motor

Diduga Gangguan Jiwa, Sutejo Angkut Jenazah Ibunya Pakai Sepeda Motor

Regional
Tim Polda Riau Ditolak Saat Hendak Periksa Bandar Narkoba di Lapas Pekanbaru

Tim Polda Riau Ditolak Saat Hendak Periksa Bandar Narkoba di Lapas Pekanbaru

Regional
Fakta Pria di Boyolali Bawa Jenazah Ibunya Pakai Bronjong, Jadi Viral dan Penjelasan Polisi

Fakta Pria di Boyolali Bawa Jenazah Ibunya Pakai Bronjong, Jadi Viral dan Penjelasan Polisi

Regional
Enam Jam Api Berkobar Hanguskan Ratusan Rumah di Kotabaru Kalsel

Enam Jam Api Berkobar Hanguskan Ratusan Rumah di Kotabaru Kalsel

Regional
Positif Covid-19 DIY Capai 82 Kasus, Terbanyak dari Bantul

Positif Covid-19 DIY Capai 82 Kasus, Terbanyak dari Bantul

Regional
Bayi Baru Lahir Ditemukan di Depan Panti Asuhan, Ternyata Dibuang Ibunya yang Masih SMA

Bayi Baru Lahir Ditemukan di Depan Panti Asuhan, Ternyata Dibuang Ibunya yang Masih SMA

Regional
Kena Razia Polisi gara-gara Tak Pakai Helm, Pria Ini Rusak Motor Pakai Batu Besar

Kena Razia Polisi gara-gara Tak Pakai Helm, Pria Ini Rusak Motor Pakai Batu Besar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X