Kisah Pengungsi Gempa Ambon, Takut Kembali ke Rumah hingga Tinggal Terpencar di Gunung

Kompas.com - 07/10/2019, 05:45 WIB
Warga korban gempa Maluku berada di tenda yang dibuat secara mandiri di Negeri Oma, Pulau Haruku, Maluku, Selasa (1/10/2019). Warga di kawasan tersebut menyatakan belum ada bantuan dari pemerintah pascagempa bumi magnitudo 6,8 SR yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya pada Kamis (26/9/2019). ANTARA FOTO/Baronda/wpa/aww. ANTARA FOTO/BARONDAWarga korban gempa Maluku berada di tenda yang dibuat secara mandiri di Negeri Oma, Pulau Haruku, Maluku, Selasa (1/10/2019). Warga di kawasan tersebut menyatakan belum ada bantuan dari pemerintah pascagempa bumi magnitudo 6,8 SR yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya pada Kamis (26/9/2019). ANTARA FOTO/Baronda/wpa/aww.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Setidaknya 108.000 orang masih mengungsi lebih dari satu pekan setelah gempa 6,5 skala richter mengguncang Pulau Ambon dan Kabupten Seram Bagian Barat.

Pihak berwenang telah meminta pengungsi kembali ke rumah, tapi mayoritas enggan pulang karena gempa susulan masih berlangsung. Catatan BMKG, sudah 1.017 kali gempa susulan terjadi.

"Katong (kita) masih trauma, belum bisa pulang. Setiap hari goyang terus," ujar Nia Mony, warga Desa Morella di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah kepada BBC Indonesia, Jumat (4/10/2019).

"Pulang cuma ambil pakaian, tapi balik lagi ke bukit."

Ibu dua anak ini kini mengungsi bersama warga desa lainnya ke bukit. Sebuah terpal besar dijadikan tempat tinggal sementara sampai ia merasa betul-betul aman untuk pulang.

Baca juga: Gempa Ambon: 135.875 Orang Mengungsi, 6.795 Rumah Rusak

"Satu tenda ini beta tinggal dengan tiga keluarga. Total ada sembilan orang," katanya lirih.

Ketika gempa mengguncang pada Kamis (26/9/2019) pagi, ia sedang mencuci pakaian. Tiba-tiba getaran kencang terasa. Dinding dapur dari keramik dan barang pecah belah berjatuhan dan menimpa kakinya.

"Getaran kuat dalam rumah, kan ada tehel dinding terlepas. Ambruk. Bak air macam gelombang, goyang-goyang."

Tapi begitu melihat air pantai surut, dan naik langsung naik, perempuan 42 tahun ini tak lagi pikir panjang. Ia lari sekencang-kencangnya ke bukit bersama anak sulungnya.

"Beta keluar, kebetulan lihat air surut, tiba-tiba naik lagi. Langsung lari," ucapnya.

"Saat itu rasanya paling sedih," ceritanya dengan suara pelan.

Baca juga: 1.105 Gempa Susulan Guncang Maluku hingga Minggu Pagi Ini

Nia Mony, warga Desa Morella di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, yang terkena dampak gempa. BBC News Indonesia Nia Mony, warga Desa Morella di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, yang terkena dampak gempa.

Begitu sampai di bukit, Nia ingat anak sulungnya yang berusia 12 tahun dan sedang sekolah. Selama tiga jam, ia mencari-cari sang anak menyisiri bukit dan hutan.

"Di hutan cari anak yang kecil. Jam satu siang baru ketemu anak."

Nia Mony dan keluarga sudah puluhan tahun tinggal di pesisir pantai. Jarak rumah dan bibir pantai sekitar 10 meter. Karena gempa itu, dinding rumahnya rusak, retak di beberapa bagian.

Hingga saat ini, belum ada bantuan dari pemerintah daerah.

Di Dusun Lengkong, Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, kondisinya sama. Mama Oci --begitu ia disapa--enggan kembali ke rumah seperti arahan pemerintah.

Baca juga: Pengungsi Gempa Ambon Terserang Berbagai Penyakit, Dinkes Akui Sanitasi Buruk

"Kalau katong masuk (rumah) bagaimana, apakah pemerintah bisa tanggung jawab katong punya nyawa? Kan tidak toh?" ujarnya dengan suara meninggi tanda marah.

Mama Oci, saat ini mengungsi ke gunung. Sebab rumahnya rusak berat. Meski kalau siang hari, sesekali ia menengok. Tapi malamnya, ia kembali ke tenda pengungsian.

"Rumah itu tanahnya terbelah. Paku-paku dinding terbongkar."

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Regional
Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Regional
Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Regional
Pemkot Tangsel Sampaikan LPPD 2020, Berikut Beberapa Poinnya

Pemkot Tangsel Sampaikan LPPD 2020, Berikut Beberapa Poinnya

Regional
Kang Emil Paparkan Aspirasi Terkait RUU EBT, Berikut 2 Poin Pentingnya

Kang Emil Paparkan Aspirasi Terkait RUU EBT, Berikut 2 Poin Pentingnya

Regional
Diluncurkan, Program SMK Membangun Desa di Jabar Gandeng 27 Desa

Diluncurkan, Program SMK Membangun Desa di Jabar Gandeng 27 Desa

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X