Kekeringan, Warga Dua Desa Antre di Mata Air hingga Tengah Malam - Kompas.com

Kekeringan, Warga Dua Desa Antre di Mata Air hingga Tengah Malam

Kontributor Nunukan, Sukoco
Kompas.com - 10/09/2017, 21:59 WIB
Warga 2 desa di wilayah perbatasan Kecamatan Seimenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, terpaksa mengantre hingga tengah malam di sumber mata air.KOMPAS.com/SUKOCO Warga 2 desa di wilayah perbatasan Kecamatan Seimenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, terpaksa mengantre hingga tengah malam di sumber mata air.

NUNUKAN, KOMPAS.com - Dua minggu tidak turun hujan membuat warga di dua desa, yakni Desa Srinanti dan Desa Tabur Lestari di wilayah perbatasan RI-Malaysia di Kecamatan Seimenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, harus antre untuk mandi dan mencuci pakaia.

Mereka mengantre di sebuah mata air yang dibuat kolam dan dialirkan ke sebuah tempat mencuci dan mandi dengan tiga buah pipa berdiameter 20 sentimeter.

Warga memberi nama mata air tersebut Mata Air Kehidupan, karena tempat itu merupakan satu-satunya sumber air bagi warga saat musim kemarau.

“Walau musim kemarau tidak pernah kering. Airnya bersih dan segar. Sudah dua minggu ini tidak hujan, makanya kita ngantre,” ujar Niar, salah satu warga Desa Taburlestari, Minggu (10/9/2017).

Bahkan, warga ada sampai antre hingga tengah malam untuk mandi dan mencuci di mata air Sumber Kehidupan.

Baca juga: 12 Kabupaten di NTT Alami Kekeringan

Yuni, salah satu warga Desa Taburlestari yang rumahnya 4 kilometer dari mata air bahkan terpaksa memilih datang sore agar bisa mandi dan mencuci lebih awal.

"Sampai tengah malam masih pada ngantre. Ada yang nyuci, ada yang mandi, bahkan ada yang ngambil untuk persediaan air minum,” katanya.

Mata air Sumber Kehidupan sebenarnya juga dimanfaatkan oleh PDAM untuk melayani kebutuhan air pelanggannya. Mata air yang dibuatkan kolam berukuran 10x20 meter oleh warga desa disedot dan ditampung oleh PDAM kemudian dialirkan kepada ratusan pelanggannya.

Namun terbatasnya bahan bakar minyak membuat layanan PDAM hanya melayani warga seminggu sekali. Sekali mendapat layanan air, pelanggan diharuskan membayar Rp 25.000.

Salah satu warga Desa Srinanti, Indrayanto mengatakan, seminggu terakhir PDAM tidak bisa melayani warga karena mesin diesel untuk menyedot air rusak. Warga pun terpaksa mengambil air di mata air Sumber Kehidupan.

"Seminggu tidak ngalir karena mesin PDAM rusak, terpaksa nyari air di sini," ucapnya.

Baca juga: Kekeringan, Petani Tanami Lahan Waduk Dawuhan dengan Palawija

Meski menjadi tumpuan warga dua desa untuk mendapatkan air di saat kemarau, namun keberadaan mata air Sumber Kehidupan kurang terawat. Tempat mandi dan mencuci warga hanya terbuat dari kayu yang sudah lapuk. Jalan menuju mata air juga mulai rusak karena sering dilewati mobil tangki milik perusahaan.

Selain itu, pohon-pohon yang berada di sekeliling mata air juga terlihat mulai di tebang warga karena sebagian area ditanami pohon sawit.

Kompas TV Warga Banyumas Kesulitan Air Bersih Akibat Kemarau Panjang

PenulisKontributor Nunukan, Sukoco
EditorFarid Assifa
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM