Kompas.com - 06/01/2021, 13:43 WIB
Abu Bakar Baasyir dalam sebuah persidangan di Cilacap, Jawa Tengah, pada 2016 lalu. Ulet Ifansasti/Getty ImagesAbu Bakar Baasyir dalam sebuah persidangan di Cilacap, Jawa Tengah, pada 2016 lalu.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Pembebasan Abu Bakar Ba'asyir dianggap tidak akan berdampak signifikan pada gerakan terorisme di Indonesia.

Namun ia diprediksi bakal merebut massa simpatisan Front Pembela Islam (FPI) yang baru-baru ini aktivitasnya dilarang pemerintah.

Setelah belasan tahun menjalani hukuman penjara, terpidana terorisme sekaligus pendiri Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba'asyir akan bebas murni pada Jumat (8/1/2021).

Baca juga: Fakta Rencana Kepulangan Abu Bakar Baasyir, Dikawal Densus hingga Ancaman Bubarkan Penyambutan

Pengamat Terorisme Al Chaidar menganggap walau pernah dikenal sebagai salah satu pemimpin gerakan Islam radikal yang kerap melakukan aksi terorisme, pembebasan Ba'asyir dianggap tidak akan berdampak signifikan pada gerakan terorisme di Indonesia

Sebab peran dan pengaruhnya sudah jauh berkurang.

"Tidak akan signifikan, tidak akan ada pengaruh apa-apa pada gerakan terorisme karena dia adalah pemimpin tua yang sudah lewat, yang sudah tak lagi berpengaruh karena dia dianggap sudah tidak konsisten," jelas Al Chaidar kepada BBC News Indonesia, Selasa (5/1/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Polres Sukoharjo Ancam Bubarkan Kerumunan Saat Kepulangan Abu Bakar Baasyir

Abu Bakar Baasyir tiba untuk perawatan medis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta, pada 29 Januari 2019.JEPAYONA DELITA /Barcroft Media via Getty Images Abu Bakar Baasyir tiba untuk perawatan medis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta, pada 29 Januari 2019.
Setelah dibebaskan, pihak keluarga mengatakan Abu Bakar Ba'asyir akan kembali melakukan dakwah.

Akan tetapi, salah satu putra Abu Bakar Ba'asyir, Abdul Rochim Ba'asyir mengaku tak bisa menjamin isi dakwah yang bakap disampaikan pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki yang berlokasi di Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut.

Sedangkan Kepolisian Indonesia dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memastikan tetap akan melakukan pengawasan terhadap aktivitas Ba'asyir.

Sebab ia disebut tidak menjalani program deradikalisasi selama pemenjaraanya.

Baca juga: Abu Bakar Baasyir Pulang, TNI Bantu Polisi Lakukan Penyekatan Cegah Kerumunan

Ba'asyir telah menjalani hukuman selama 11 tahun dari 15 tahun vonis hukuman penjara karena dinyatakan bersalah dalam kasus mendanai pelatihan terorisme di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia pada Juni 2011.

Pada Januari 2019, Abu Bakar Ba'asyir sempat akan dibebaskan oleh pemerintah melalui program pembebasan bersyarat dengan alasan kemanusiaan.

Namun rencana itu batal, sebab Abu Bakar Ba'asyir enggan menandatangani dokumen setia pada Pancasila dan NKRI yang menjadi syarat pembebasannya.

Baca juga: Jelang Bebas, Abu Bakar Ba’asyir dalam Kondisi Sehat

Akan tetap diawasi

Baasyir akan kembali berdakwah begitu bebas, dikatakan putra bungsunya.Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO Baasyir akan kembali berdakwah begitu bebas, dikatakan putra bungsunya.
Pendiri Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba'asyir bakal menghirup udara bebas pekan ini setelah menjalani masa hukuman atas tindak pidana terorisme dengan vonis penjara selama 15 tahun.

Kepala bagian humas dan protokol Direktorat Jenderal Permasyarakatan Rika Aprianti mengatakan Abu Bakar Ba'asyir akan bebas dari Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur di Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (8/1/2021) "sesuai dengan tanggal ekspirasi atau berakhirnya masa pidana".

Rita menambahkan dalam pembebasan Ba'asyir pihaknya akan bersinergi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88 Mabes Polri.

Baca juga: Kapolda Jateng: Ada Kerumunan Saat Jemput Abu Bakar Baasyir Segera Bubarkan

Adapun Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris, menegaskan pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas Ba'asyir setelah dibebaskan.

Apalagi, selama menjalani hukuman, ia tidak mau mengikuti program deradikalisasi pemerintah.

Kepolisian juga akan turut serta dalam pengawasan aktivitas Ba'asyir pascapembebasannya.

Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, sama seperti pelaku tindak pidana lainnya, intelijen akan mengawasi pergerakan Abu Bakar Ba'asyir.

Baca juga: Abu Bakar Baasyir Bebas Murni, Keluarga Berharap Benar-benar Bebas

"Sifatnya, setiap orang [yang melakukan tindak pidana] akan dilakukan pemantauan, jadi bukan khusus pada Abu Bakar Ba'asyir," ujar Ramadhan dalam konferensi pers pada Senin (4/1/2021).

"Kita ada jajaran intelijen yang terus mengawasi orang-orang yang pernah melakukan tindak pidana … Jadi kegiatannya, pergerakannya kita akan terus mengawasi," lanjutnya.

Ia menambahkan Kepolisian juga akan melakukan pengamanan saat hari pembebasan Ba'asyir.

 

Tak ada acara penyambutan

Spanduk imbauan tidak digelarnya upacara penyambutan Abu Bakar Baasyir di Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki.Fajar Sodiq Spanduk imbauan tidak digelarnya upacara penyambutan Abu Bakar Baasyir di Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki.
Salah satu putra Ba'asyir, Abdul Rochim Ba'asyir, kini dalam perjalanan menjemput ayahnya dari Sukoharjo, Jawa Tengah

Setelah bebas, Rochim mengatakan Ba'asyir akan langsung dibawa pulang ke Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Ia menegaskan, keluarga tidak akan menggelar acara penyambutan lantaran situasi pandemi Covid-19.

"Imbauan kita kepada masyarakat supaya tidak perlu datang berkerumun di sini. Jadi doakan saja Ustaz Ba'asyir dari rumah masing-masing," katanya kepada BBC News Indonesia.

"Kita di sini juga menghindari kerumunan karena tidak bagus untuk kesehatan kita dan juga mengganggu warga sekitar, apalagi situasi saat ini masih pandemi," katanya kemudian.

Baca juga: Abu Bakar Baasyir Bebas Murni, Keluarga Bakal Jemput ke Lapas Gunung Sindur Bogor

Akan melanjutkan dakwah

Abu Bakar Baasyir divonis 15 tahun penjara tahun 2011 lalu setelah dinyatakan terbukti mendanai pelatihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.Dimas Ardian/Getty Images Abu Bakar Baasyir divonis 15 tahun penjara tahun 2011 lalu setelah dinyatakan terbukti mendanai pelatihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.
Lebih jauh, Rochim mengatakan setelah dibebaskan dari penjara, Ba'asyir akan melanjutkan dakwah.

Ia mengaku pihak keluarga tidak bisa menghalangi kegiatan dakwah yang dilakukan Ba'asyir setelah bebas dari penjara nanti.

"Siapa yang bisa membatasi beliau. Saya terus terang kalau sekarang upaya membatasi dakwah beliau, kebebasan berbicara beliau itu tidak bisa."

Baca juga: Abu Bakar Baasyir Akan Bebas, Simpatisan Diimbau Tak Berkerumun Saat Menjemput

"Pemerintah yang punya kuasa saja tidak takuti apalagi seorang anak. Kalau saya ngomong pasti dibilangin wis kowe cah cilik rasah ngomong macem-macem, " kata dia saat ditemui di Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki, Selasa (8/1/2021).

Menurut Rochim, bagi Ba'asyir dakwah merupakan kewajiban sebagai seorang ulama dan bagian dari menyampaikan ajaran Islam.

"Untuk urusan ini ustaz Abu Bakar Ba'asyir itu memang tidak peduli, artinya kalau ada yang mau menghalangi siapapun dalam urusan kewajiban melaksanakan kewajiban, siapapun beliau akan lawan. Itu memang karakternya beliau seperti itu," tegasnya.

Baca juga: Kalapas: Abu Bakar Baasyir Bebas 8 Januari adalah Bebas Murni, Kemenkumham: Dapat Remisi 55 Bulan

Meski demikian, dengan kondisi fisik yang kian melemah dibandingkan sebelum mendekam di penjara, pihak keluarga memperkirakan Ba'asyir akan lebih banyak di rumah dan menyampaikan dakwah dari rumah.

"Yang penting bagi keluarga, beliau bisa sehat, bisa berdakwah sesuai dengan kemampuannya karena itu kewajibannya sebagai seorang ulama," katanya.

Abu Bakar Ba'asyir divonis 15 tahun penjara tahun 2011 lalu setelah dinyatakan terbukti mendanai pelatihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.

Baca juga: Polri Bakal Amankan Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir

'Pemimpin oportunis dan populis'

Baasyir saat ditemui di LP Gunung Sindur, Bogor, pada 2019.Yusril Ihza Mahendra Baasyir saat ditemui di LP Gunung Sindur, Bogor, pada 2019.
Pakar Terorisme Al Chaidar, mengungkapkan pembebasan Ba'asyir tidak akan berdampak signifikan pada gerakan terorisme di Indonesia, sebab peran dan pengaruhnya sudah jauh berkurang.

"Dia sudah berada di titik nadir, artinya pendukungnya mungkin tinggal 10%, paling banyak, dari 16.000 ketika ia ditangkap. Paling sekarang tinggal 160 orang. Saya kira tidak banyak lagi yang mau mendukung dia itu," jelas Al Chaidar.

Ia menggolongkan Abu Bakar Ba'asyir sebagai "pemimpin oportunis dan populis", yang tidak konsisten.

"Ia adalah orang terpengaruh dan mengikuti apa yang disarankan oleh pengikutnya."

Baca juga: Jumat, Abu Bakar Baasyir Bebas Murni

Ketika Abu Bakar Ba'asyir meninggalkan Jamaah Islamiyah, kata Al Chaidar, banyak pendukungnya yang kecewa dan berpaling darinya.

Ia kemudian bergabung ke Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan menjadi pemimpin kelompok itu.

Namun tiba-tiba, menurut Al Chaidar, Abu Bakar Ba'asyir mengkritisi sistem organisasi MMI yang disebutnya sebagai "sistem Yahudi".

"Itu membuat kecewa orang-orang Majelis Mujahidin di Yogyakarta dan seluruh cabangnya yang ada di Indonesia," terang Al Chaidar.

Baca juga: Kesehatan Menurun, Abu Bakar Baasyir Dilarikan ke RSCM

Personel kepolisian mengawal sejumlah tersangka yang dituduh terlibat kelompok afiliasi ISIS, pada Mei 2019 lalu.AFP/Getty Images Personel kepolisian mengawal sejumlah tersangka yang dituduh terlibat kelompok afiliasi ISIS, pada Mei 2019 lalu.
Lalu, ketika meninggalkan MMI dan mendirikan JAT, Abu Bakar Ba'asyir terlibat dalam pelatihan terorisme di Bukit Jalil, Aceh.

Ia kemudian diadili atas keterlibatannya dalam pelatihan teroris itu. Namun di pengadilan, ia membantahnya.

Al Chaidar melanjutkan Abu Bakar Ba'asyir telah mengecewakan pendukungnya ketika pada 2014 - ketika menjalani vonis hukuman penjara - ia meninggalkan JAT dan bergabung ke Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang mendukung ISIS.

Itu membuat semua pengikutnya di JAT meninggalkan Ba'asyir dan membentuk organisasi bernama Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) pada 2015.

Baca juga: Abu Bakar Baasyir Ajukan Permohonan Asimilasi ke Presiden Jokowi

Kelompok-kelompok Jamaah Islamiyah, dan kelompok pendukungnya yang lain menganggap perubahan haluan itu sebagai "sikap plin-plan" Abu Bakar Ba'asyir.

"Semua pendukung setia dia sudah meninggalkan dia hingga hari ini," kata Al Chaidar.

Lebih lanjut, pengamat terorisme yang juga dosen Antropologi di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe itu mengatakan ketika bergabung dengan JAD, ia berbaiat kepada ISIS.

Menurut Al Chaidar, itu membuat Ayman al-Zawahiri - penerus Osama bin Laden di Al Qaeda - murka.

Baca juga: Ini Alasan Abu Bakar Baasyir Golput Pada Pemilu 2019

Salah seorang napi teroris mengangkat tangan saat keluar dari rumah tahanan cabang Salemba di kompleks Mako Brimob, Senin (10/05).AFP/DOK.Polri Salah seorang napi teroris mengangkat tangan saat keluar dari rumah tahanan cabang Salemba di kompleks Mako Brimob, Senin (10/05).
Selama ini, Al Qaeda berada di belakang kegiatan Jamaah Islamiyah di Indonesia.

Selama ini, ISIS dipandang sebagai musuh utama Al Qaeda yang berkonfrontasi langsung di Suriah, Irak, Yaman dan Afghanistan.

"Ini menunjukkan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir tidak lagi didukung dan tidak lagi memiliki afiliasi apapun. Al Qaeda kemudian bahkan memutuskan untuk tidak mendukung ustaz Abu Bakar Ba'asyir," katanya.

Baca juga: Abu Bakar Baasyir Jalani Pemeriksaan Kesehatan di RSCM

Setelah tidak ada dukungan lagi, pada tahun 2018, ia keluar dari JAD atas permintaan pendukungnya yang berada di bawah JAS.

"Ketika ia keluar, itu membuat orang-orang ISIS tak lagi mengidolakan dia dan justru mengidolakan Aman Abdurrahman yang berani menerima hukuman mati ketimbang ustaz Abu Bakar Ba'asyir yang selalu menyiapkan tim pembelanya untuk menghindari hukuman mati," jelas Al Chaidar.

"Dia dianggap tidak cukup radikal," lanjutnya.

Baca juga: Temui Fadli Zon, Ini yang Dibicarakan Pengacara Abu Bakar Baasyir

'Pemimpin tua yang melayang-layang'

Seorang pendukung Abu Bakar Baasyir memegang spanduk bergambarkan Baasyir dan pemimpin Al Qaeda kala itu, Isama bin Laden, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 16 Juni 2011.Dimas Ardian/Getty Images Seorang pendukung Abu Bakar Baasyir memegang spanduk bergambarkan Baasyir dan pemimpin Al Qaeda kala itu, Isama bin Laden, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 16 Juni 2011.
Lebih lanjut Al Chaidar menyebut Abu Bakar Ba'asyir sebagai "floating leader, atau pemimpin tua yang melayang-layang".

Sehingga, dibebaskannya Abu Bakar Ba'asyir dari penjara, ia ibaratkan "seperti berada di ruang hampa".

"Tidak ada massa yang menyambut dia. Ini sebuah tragedi bagi pemimpin jihad yang sangat luar biasa," ujarnya.

Akan tetapi, pembebasan Abu Bakar Ba'asyir setelah pemerintah melarang aktivitas Front Pembela Islam (FPI), ditambah pemimpin FPI Rizieq Shihab kini menjalani proses hukum, akan menguntungkan Abu Bakar Ba'asyir.

Baca juga: Tim Pengacara Tagih Janji Bebas Tanpa Syarat Abu Bakar Baasyir

"Saya melihat dalam perkembangan terakhir, ustaz Abu akar Ba'asyir kemungkinan akan merebut massa FPI dan dia akan menyamakan warna fatwa dan tauziyah dia dengan gaya dan langgam pendukung FPI," jelas Al Chaidar.

Gaya dan langgam pendukung FPI, kata Al Chaidar, "lugas, nasionalistik dan islami, radikal boleh tapi tidak menganjurkan kekerasan".

Selain itu, jika ingin menggaet massa FPI maka Ba'asyir akan bersifat inklusif.

"Yang tadinya bersifat anti-Syiah dan anti-Ahmadiyah, dia mungkin tidak akan berkomentar tentang itu," katanya.

"Untuk melihat apakah tendensi ini benar atau tidak, kita lihat sepuluh hari setelah dia dibebaskan," lanjut Al Chaidar.

Baca juga: Merunut Rencana Pembebasan Abu Bakar Baasyir dan Polemiknya...

Lantas, siapa pemimpin yang paling berpengaruh?

Aman Abdurrahman disebut-sebut sebagai Ketua Jemaah Ansyaru Daulah (JAD).BAY ISMOYO/AFP/Getty Images Aman Abdurrahman disebut-sebut sebagai Ketua Jemaah Ansyaru Daulah (JAD).
Al Chaidar menganggap, mantan pemimpin Jamaah Islamiyah, Abu Tholut adalah pemimpin yang paling berpengaruh, sebab ia mampu mengubah metode perjuangan Jamaah Islamiyah.

"Yang bisa melakukan itu bukan Abu Bakar Ba'asyir, melainkan Abu Tholut dan dia sangat dihormati oleh berbagai angkatan di Jamaah Islamiyah, termasuk Dulmatin," katanya.

Ansyaad Mbai, ketika menjabat sebagai BNPT, pernah menyematkan label "teroris paling berbahaya" kepada Abu Tholut.

Ia dianggap lebih berbahaya ketimbang gembong teroris Noordin M Top dan Dulmatin.

Baca juga: Maju Mundur Pembebasan Abu Bakar Baasyir

Abu Tholut disebut telah bebas pada 2015, setelah menjalani vonis hukuman penjara 8 tahun atas keterlibatannya dalam aksi terorisme di Medan.

Ia memprediksi Abu Tholut akan berperan sebagai pemimpin gerakan Islam radikal yang akan menjadi "gerakan oposisi yang paling logis dan rasional".

"Dia bisa menterjemahkan manhaj atau metode dan cara-cara keagamaan secara Islam dalam merebut kekuasaan," katanya.

Baca juga: Bola Ada di Tangan Abu Bakar Baasyir...

Petugas membongkar atribut-atribut saat melakukan penutupan markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta, Rabu (30/12/2020).ANTARA FOTO Petugas membongkar atribut-atribut saat melakukan penutupan markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta, Rabu (30/12/2020).
Walaupun, kata Al Chaidar, saat ini Abu Tholut tidak dianggap sebagai seorang imam lantaran ia menghindari hal tersebut karena masih ingin bergerak di atas tanah.

"Kalau suatu saat nanti dia dalam dalam satu setting sejarah mengharuskan dia harus bergerak di bawah tanah, maka dia memiliki infrastruktur jaringan yang sangat luas dengan metode yang pernah dipakai Jamaah Islamiyah yang bisa menyebar ke seluruh Asia Tenggara, tidak hanya Indonesia," jelas Al Chaidar.

Adapun pendiri JAD, Aman Abdurrahman, kata Al Chaidar, hanya diikuti oleh pendukung yang sangat tradisonal.

"Banyak dari mereka yang ikut dalam gerakan ISIS dan JAD adalah mereka-mereka yang tidak begitu mengandalkan logika dan itu akan habis dengan sendirinya," kata Al Chaidar.

Baca juga: Pemerintah Batal Bebaskan Abu Bakar Baasyir, Ini Kata Yusril

Selain itu, lanjutnya, aksi yang mereka lakukan sangat brutal dan cara mereka beroposisi melawan negara layaknya "pemberontak primitif".

"Jadi nggak secanggih dan sehebat Jamaah Islamiyah yang mengadopsi teori-teori dan manajemen modern."

JIka disandingkan antara Aman Abdurrahman dan Abu Bakar Ba'asyir, Al Chaidar menganggap Aman lebih "sangat radikal" ketimbang Ba'asyir.

"Ia sangat hitam putih dan tidak memiliki referensi yang rumit. Sehingga karena hitam putih itulah dia gampang didukung oleh pengikutnya yang rata-rata kurang pendidikan," katanya.

Baca juga: Pemerintah Pastikan Batal Bebaskan Abu Bakar Baasyir, Ini Sebabnya...

Aman Abdurrahman dijatuhi hukuman mati karena terbukti menjadi penggerak sejumlah aksi teror di Indonesia.

Antara lain, aksi teror bom di gereja Samarinda pada 13 November 2016, bom Thamrin pada Januari 2016, bom Kampung Melayu pada 24 Mei 2017, serta penusukan polisi di Sumut dan penembakan polisi di Bima pada 2017



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal APBD Rp 1,6 Triliun di Bank, Bobby: Segera Dimaksimalkan untuk Gerakkan Ekonomi Medan

Soal APBD Rp 1,6 Triliun di Bank, Bobby: Segera Dimaksimalkan untuk Gerakkan Ekonomi Medan

Regional
Masjid Az Zahra di Lampung Utara Resmi Dibangun, Dompet Dhuafa Gelar Peletakan Batu Pertama

Masjid Az Zahra di Lampung Utara Resmi Dibangun, Dompet Dhuafa Gelar Peletakan Batu Pertama

Regional
Kejar Herd Immunity, Bupati IDP Optimistis Vaksinasi di Luwu Utara Capai 90 Persen

Kejar Herd Immunity, Bupati IDP Optimistis Vaksinasi di Luwu Utara Capai 90 Persen

Regional
Dongkrak Perekonomian Kota Madiun, PKL Akan Dapat Pembinaan Khusus

Dongkrak Perekonomian Kota Madiun, PKL Akan Dapat Pembinaan Khusus

Regional
Lewat Kepiting Bakau, Pembudidaya di Konawe Raih Cuan hingga Rp 352 Juta

Lewat Kepiting Bakau, Pembudidaya di Konawe Raih Cuan hingga Rp 352 Juta

Regional
Berkat Proyek Investasi Pabrik Minyak Goreng Sawit, Luwu Utara Raih Juara 2 SSIC 2021

Berkat Proyek Investasi Pabrik Minyak Goreng Sawit, Luwu Utara Raih Juara 2 SSIC 2021

Regional
Upaya Berau Coal Sinarmas Atasi Pandemi, dari Bakti Sosial hingga Dukung Vaksinasi

Upaya Berau Coal Sinarmas Atasi Pandemi, dari Bakti Sosial hingga Dukung Vaksinasi

Regional
Selain Dana Sponsor Rp 5 Miliar, PLN Investasi Rp 300 Miliar untuk Dukung PON XX Papua

Selain Dana Sponsor Rp 5 Miliar, PLN Investasi Rp 300 Miliar untuk Dukung PON XX Papua

Regional
Gerakkan Masyarakat untuk Tangani Pandemi, BNPB Gelar Pelatihan 1.000 Relawan Covid-19 di DIY

Gerakkan Masyarakat untuk Tangani Pandemi, BNPB Gelar Pelatihan 1.000 Relawan Covid-19 di DIY

Regional
Entaskan Pandemi di Samarinda, Satgas Covid-19 Gelar Pelatihan 1.000 Relawan

Entaskan Pandemi di Samarinda, Satgas Covid-19 Gelar Pelatihan 1.000 Relawan

Regional
Kendalikan Pandemi di Riau, Gubernur Syamsuar Harap Relawan Covid-19 Lakukan Ini

Kendalikan Pandemi di Riau, Gubernur Syamsuar Harap Relawan Covid-19 Lakukan Ini

Regional
Pemkab Dharmasraya Targetkan Vaksinasi Pelajar Selesai September, Jokowi Berikan Apresiasi

Pemkab Dharmasraya Targetkan Vaksinasi Pelajar Selesai September, Jokowi Berikan Apresiasi

Regional
Ekspor Pertanian Meningkat Rp 8,3 Triliun, Jateng Raih Penghargaan Abdi Bakti Tani

Ekspor Pertanian Meningkat Rp 8,3 Triliun, Jateng Raih Penghargaan Abdi Bakti Tani

Regional
TNI, Polri, dan IPDN Gelar Vaksinasi Massal Jelang PON XX 2021 di Papua

TNI, Polri, dan IPDN Gelar Vaksinasi Massal Jelang PON XX 2021 di Papua

Regional
Mendadak Jadi Penyiar Radio, Gubernur Ganjar Dapat Curhatan dari Pendengar

Mendadak Jadi Penyiar Radio, Gubernur Ganjar Dapat Curhatan dari Pendengar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.