Mereka yang Merawat Ikrar Sumpah Pemuda di Maluku, Kalbar, dan Sumbar

Kompas.com - 28/10/2020, 06:07 WIB
Museum Sumpah Pemuda, Jakarta ANTARA/Rivan Awal LinggaMuseum Sumpah Pemuda, Jakarta
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Sudah 92 tahun berlalu sejak para peserta Kongres Pemuda II di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, mencetuskan ikrar bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu: Indonesia.

Berbeda dengan masa penjajahan Belanda, para pemuda kini menghadapi permasalahan kontemporer yang sebagian di antaranya mengancam perekat Indonesia sebagai bangsa.

Inilah sejumlah pemuda yang tidak tinggal diam menyaksikan permasalahan itu. Mereka dengan berani menantang arus demi merawat ikrar pada 28 Oktober 1928.

Baca juga: Contoh Teks Eksplanasi tentang Sumpah Pemuda

Isa Oktaviani, pendiri Sadap Indonesia

Ketegangan pada Mei 2017 silam masih segar dalam ingatan Isa Oktaviani, perempuan berusia 24 tahun asal Pontianak, Kalimantan Barat.

Saat itu, organisasi Front Pembela Islam bersitegang dengan massa yang menggelar Pekan Gawai Dayak. Insiden itu terjadi setahun sebelum digelarnya Pilkada untuk lima kabupaten kota dan provinsi Kalbar.

Efek ketegangan di Pontianak pada 2017 membuat Isa terkenang akan doktrin yang diterimanya sejak kanak-kanak.

Baca juga: Memaknai Sumpah Pemuda dari Spirit Kewirausahaan

Isa Oktaviani mendirikan Satu dalam Perbedaan Indonesia atau Sadap Indonesia guna memusnahkan prasangka terhadap orang yang berbeda keyakinan, etnis atau ras.Dok.Pribadi Isa Oktaviani mendirikan Satu dalam Perbedaan Indonesia atau Sadap Indonesia guna memusnahkan prasangka terhadap orang yang berbeda keyakinan, etnis atau ras.
Isa baru berusia satu tahun ketika konflik meletup pada 1997 antara suku Dayak, Melayu dan Madura.

"Aku mendapat doktrin bahwa ada satu suku yang kita seperti bermusuhan," kata perempuan dari suku Dayak kepada BBC News Indonesia.

Isa mengaku merasa sedih tatkala duduk di bangku kuliah bahwa doktrin rasial serupa juga ditanamkan pada teman-temannya dari etnis dan agama lain.

Untuk memastikan akar penyebab permasalahan yang dilihat dan dialaminya, Isa mengadakan survei sederhana soal toleransi di Kota Pontianak.

"Coba tanya ke teman-teman sebaya: 'Kenapa ya kita seolah-olah tersegregasi?' Kebanyakan menjawab punya prasangka. Nah, saya berpikir bagaimana agar prasangka itu hilang," katanya.

Baca juga: Nilai-Nilai Penting Sumpah Pemuda

Berdasarkan hasil survei tersebut, Isa berinisiatif mengumpulkan para pemuda dari berbagai latar belakang dan mendirikan organisasi Satu dalam Perbedaan Indonesia atau Sadap Indonesia guna memusnahkan prasangka terhadap orang yang berbeda keyakinan, etnis atau ras.

"Sadap ini dijadikan sebagai ruang jumpa untuk kita saling mengenal, agar kita saling tahu sehingga tidak ada prasangka. Sebenarnya sesederhana itu," kata Isa.

Keinginan Isa untuk menciptakan ruang jumpa bagi para pemuda dia wujudkan dengan mengadakan Temu Pemuda Lintas Iman atau Tepelima.

Salah satu pesertanya adalah Danica Ivana Liu, remaja berusia 19 tahun.

Baca juga: Gedung Kramat di Jakarta, Indekos yang Jadi Saksi Bisu Lahirnya Sumpah Pemuda

Keinginan Isa untuk menciptakan ruang jumpa bagi para pemuda dia wujudkan dengan mengadakan Temu Pemuda Lintas Iman atau Tepelima.SADAP Keinginan Isa untuk menciptakan ruang jumpa bagi para pemuda dia wujudkan dengan mengadakan Temu Pemuda Lintas Iman atau Tepelima.
Kegiatan Tepelima, menurutnya, telah meruntuhkan stereotipe negatif tentang orang dari keyakinan lain, suku lain, serta berbagai perbedaan lainnya.

Pesertanya yang majemuk dari berbagai latar belakang, memperkaya perspektifnya.

"Dalam diskusi tentang agama, setelah saling mengenal, saya menjadi tahu bahwa pandangan saya selama ini tentang orang-orang dari agama dan suku lain itu salah. Walaupun kita tampak berbeda secara fisik, dari agama yang kita anut, kita tetap satu," papar Danica.

Andreas Acui Simanjaya, tokoh Tionghoa Pontianak, mengapresiasi keberadaan Sadap Indonesia.

Baca juga: Menag: Masjid Hadiah Pangeran Abu Dhabi untuk Jokowi Perkuat Toleransi

"Dialog antarpemuda ini sangat baik. Mereka tidak mudah termakan isu yang dilemparkan, tidak mudah dihasut atau terbawa provokasi," ujarnya.

Leo Prima, dosen komunikasi Universitas Tanjungpura Pontianak, berharap agar organisasi seperti Sadap bisa bermunculan di tempat-tempat lain di Indonesia untuk membangun pemahaman terhadap perbedaan.

"Saya harapkan bisa muncul pengalaman yang lebih besar, sehingga satu kelompok dengan satu kelompok lain memiliki kedekatan emosional," tutupnya.

Baca juga: Mendambakan Toleransi Umat Beragama

Sudarto, aktivis keberagaman di Sumatera Barat

Sudarto adalah salah satu pendiri Pusat Studi Antar Komunitas (Pusaka), lembaga riset, dialog antar agama, serta mengadvokasi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Sumatera Barat.Dok.Pribadi Sudarto adalah salah satu pendiri Pusat Studi Antar Komunitas (Pusaka), lembaga riset, dialog antar agama, serta mengadvokasi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Sumatera Barat.
Sejak Januari lalu, Sudarto wajib lapor dua kali seminggu ke Polda Sumatera Barat. Ia menjadi tersangka terkait unggahannya di Facebook tentang pelarangan perayaan Natal di Kabupaten Dharmasraya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Yaya Karsan, Guru Honorer yang Punya Omzet Rp 1 M dari Layanan Titip Transfer

Cerita Yaya Karsan, Guru Honorer yang Punya Omzet Rp 1 M dari Layanan Titip Transfer

Regional
Jalani 'Rapid Test' Wajib, 40 Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya Reaktif Covid-19

Jalani "Rapid Test" Wajib, 40 Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya Reaktif Covid-19

Regional
Cerita Nelayan Benur di Lombok yang Hidupnya Tak Tentu karena Tengkulak

Cerita Nelayan Benur di Lombok yang Hidupnya Tak Tentu karena Tengkulak

Regional
Fakta Seorang Warga Kalsel Diterkam Buaya, Berawal dari Cuci Tangan di Pintu Air Tambak

Fakta Seorang Warga Kalsel Diterkam Buaya, Berawal dari Cuci Tangan di Pintu Air Tambak

Regional
Benteng Hock, Kantor Satlantas Polres Salatiga yang Dikenal Angker, Kini Jadi Spot Foto

Benteng Hock, Kantor Satlantas Polres Salatiga yang Dikenal Angker, Kini Jadi Spot Foto

Regional
Gubernur Banten: Tak Ada Konflik, Jadwal Pilkada Banten Masih Sesuai Agenda

Gubernur Banten: Tak Ada Konflik, Jadwal Pilkada Banten Masih Sesuai Agenda

Regional
Kasus Covid-19 Melonjak di Ciamis, Sebulan Lebih dari 100 Orang Positif

Kasus Covid-19 Melonjak di Ciamis, Sebulan Lebih dari 100 Orang Positif

Regional
Pesan Pensiunan Guru: Kalau Anda Sukses, Tolong Perhatikan Guru...

Pesan Pensiunan Guru: Kalau Anda Sukses, Tolong Perhatikan Guru...

Regional
Modus Ganti Isi Galon dengan Air Biasa tapi Tutup Segel Resmi, 2 Agen Ditahan Polisi

Modus Ganti Isi Galon dengan Air Biasa tapi Tutup Segel Resmi, 2 Agen Ditahan Polisi

Regional
Minuman Literasi, Produk Herbal Kekinian ala Siswa SMK Gresik, Peluang Bisnis Baru di Balik Pandemi

Minuman Literasi, Produk Herbal Kekinian ala Siswa SMK Gresik, Peluang Bisnis Baru di Balik Pandemi

Regional
Main Perahu di Rawa Pening tapi Tiba-tiba Bocor, Pemancing Tewas Tenggelam

Main Perahu di Rawa Pening tapi Tiba-tiba Bocor, Pemancing Tewas Tenggelam

Regional
Diterkam Buaya Usai Panen Bandeng, Anggota Tubuh Pria Ini Belum Ditemukan

Diterkam Buaya Usai Panen Bandeng, Anggota Tubuh Pria Ini Belum Ditemukan

Regional
Niat Memijat Muridnya yang Cedera, Oknum Guru di Kalsel Justru Berbuat Cabul

Niat Memijat Muridnya yang Cedera, Oknum Guru di Kalsel Justru Berbuat Cabul

Regional
Bayar Uang Muka Tagihan Listrik yang Capai Belasan Juta Rupiah, Suratno Harus Jual 7 Pohon Miliknya

Bayar Uang Muka Tagihan Listrik yang Capai Belasan Juta Rupiah, Suratno Harus Jual 7 Pohon Miliknya

Regional
Sosok Mendiang Bupati Situbondo di Mata Khofifah dan Emil Dardak

Sosok Mendiang Bupati Situbondo di Mata Khofifah dan Emil Dardak

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X