Kompas.com - 03/07/2020, 14:15 WIB
Gambar ilustrasi: Seorang bapak sambil menggendong anaknya mengikuti tes usap massal COVID-19 di Pasar Sukaramai, Kota Pekanbaru, Riau, (26/06). ANTARA FOTO/FB Anggoro/wsjGambar ilustrasi: Seorang bapak sambil menggendong anaknya mengikuti tes usap massal COVID-19 di Pasar Sukaramai, Kota Pekanbaru, Riau, (26/06).
Editor Rachmawati

'Komorbid berbeda'

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dokter Aman Bhakti mengatakan kematian anak di Indonesia, yang disebutnya salah satu yang tertinggi di dunia, disebabkan faktor yang kompleks.

Salah satunya adalah komorbiditas di Indonesia yang berbeda.

"Kesehatan anak kita tidak baik. Ada gizi buruk, pneumonia tinggi, diare, anemia, demam berdarah," ujar Aman.

Dalam paparannya dengan anggota DPR akhir Juni 2020 lalu, Aman menjelaskan penyebab kematian nomor satu dan dua pada anak-anak Indonesia adalah pneumonia dan diare.

Baca juga: 86 Anak Positif Covid-19, Pemprov NTB: Orangtua Tetap Saja Mengajak Keluar Rumah

Ia menjabarkan pula prevalansi stunting di Indonesia yang berkisar di angka 30 persen juga kurang gizi dan malnutrisi parah sebesar 18 persen (data 2018).

"Kombinasi dua ini, ketika kelompok anak ini terinfeksi Covid, tentu daya tubuh mereka kurang baik. [Kalau] lebih parah, kalau terlambat tentu akan meninggal," ujarnya.

Faktor lain yang disebutkan Aman adalah keterlambatan pelayanan.

Dari data IDAI, sejumlah dokter tak dapat kesempatan cukup merawat anak-anak dengan Covid-19 itu.

"Ada yang tidak sampai 24 jam, tidak sampai 48 jam, tidak sampai 72 jam. Jadi ada keterlambatan mereka dirujuk," katanya.

Baca juga: Kasus Anak Positif Covid-19 di NTB Didominasi Bayi dan Balita

Selain itu, Aman menyebutkan pengaruh ketidaksamarataan pelayanan di berbagai daerah yang memicu kematian anak dengan Covid.

Aman mengatakan dalam waktu dekat, pemerintah perlu menggencarkan penelusuran (tracing) kasus dan pengetesan pada anak.

"Pakai PCR, jangan pakai rapid tests. Tidak sempat kita menolong anak [dengan rapid test]," ujarnya.

Setiap kasus kematian anak juga perlu dianalisis, kata Aman, karena ia mengestimasi masa pandemi Covid-19 masih akan berlangsung dalam waktu cukup lama.

Baca juga: 43 Anak Positif Covid-19 di NTB, Terbanyak Kedua Setelah Jawa Timur

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Regional
Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Regional
Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Regional
Ingin Warga'Survive' di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Ingin Warga"Survive" di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Regional
6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

Regional
Masalah Sampah Terbengkalai Bertahun-tahun, Walkot Bobby Tegaskan Bersih dalam 2 Hari

Masalah Sampah Terbengkalai Bertahun-tahun, Walkot Bobby Tegaskan Bersih dalam 2 Hari

Regional
Dorong Perusahaan Bayar THR Pekerja, Walkot Semarang: 'Cash Ojo Nyicil'

Dorong Perusahaan Bayar THR Pekerja, Walkot Semarang: "Cash Ojo Nyicil"

Regional
Dapat Bantuan 'Bedah Rumah' dari Korem 074/WRT Surakarta, Agus Tak Kuasa Bendung Haru

Dapat Bantuan "Bedah Rumah" dari Korem 074/WRT Surakarta, Agus Tak Kuasa Bendung Haru

Regional
Copot Kadis Kesehatan, Wali Kota Bobby Targetkan Medan Terbebas dari Covid-19

Copot Kadis Kesehatan, Wali Kota Bobby Targetkan Medan Terbebas dari Covid-19

Regional
Optimis Pada Energi Terbarukan, Ridwan Kamil Ajak Anak Muda Tangkap Peluang

Optimis Pada Energi Terbarukan, Ridwan Kamil Ajak Anak Muda Tangkap Peluang

Regional
MDTA Direnovasi Dompet Dhuafa, Murid dan Kepala Yayasan Menangis Haru

MDTA Direnovasi Dompet Dhuafa, Murid dan Kepala Yayasan Menangis Haru

Regional
Dompet Dhuafa Bagikan 2.000 Paket Zakat Fitrah di Pati

Dompet Dhuafa Bagikan 2.000 Paket Zakat Fitrah di Pati

Regional
Cegah Penularan Covid-19, Pemprov Jabar Perpanjang Kerja Sama Penyediaan Hotel untuk Nakes

Cegah Penularan Covid-19, Pemprov Jabar Perpanjang Kerja Sama Penyediaan Hotel untuk Nakes

Regional
Meski Dihantam Pandemi, Maidi-Inda Raya Tetap Jalankan Program Kerjanya

Meski Dihantam Pandemi, Maidi-Inda Raya Tetap Jalankan Program Kerjanya

Regional
Jalin Silaturahmi di Ramadhan, Bupati Tulang Bawang Santuni 25 Anak Yatim

Jalin Silaturahmi di Ramadhan, Bupati Tulang Bawang Santuni 25 Anak Yatim

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X