Menyoal Kematian Anak di Indonesia karena Covid-19, Tak ada Biaya hingga Ditolak karena RS Penuh

Kompas.com - 03/07/2020, 14:15 WIB
Gambar ilustrasi: Dokter berbincang dengan pasien anak berstatus Orang Tanpa Gejala COVID-19 di halaman samping mess karantina Rusunawa IAIN Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/06). ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/wsj Gambar ilustrasi: Dokter berbincang dengan pasien anak berstatus Orang Tanpa Gejala COVID-19 di halaman samping mess karantina Rusunawa IAIN Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/06).
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Tiga orang tua di Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat menceritakan saat-saat anak mereka meninggal akibat Covid-19.

Lebih dari 40 anak Indonesia (yang berusia di bawah 18 tahun) meninggal akibat virus corona, menurut data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (diakses 02/07).

Sebagian besarnya adalah balita.

Angka itu setara 1,7% total kematian akibat Covid-19, yang menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, salah satu yang tertinggi di Asia dan dunia.

Baca juga: Dokter di Madura dan Orangtuanya Meninggal karena Corona, Istri dan Bayi Positif

Gizi buruk, 'nggak ada biaya'

Ilustrasi anak-anak dengan virus coronaShutterstock Ilustrasi anak-anak dengan virus corona
Salah satu yang meninggal adalah anak bernama Joni, bukan nama sebenarnya, di Manado, Sulawesi Utara.

Di usianya yang hampir menginjak dua tahun, Joni, hanya berbobot enam kilogram, setengah dari bobot ideal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.

Awal tahun 2020, Joni dirawat di rumah sakit akibat muntaber dan sakit paru-paru, yang kata ayahnya, dipengaruhi juga oleh kondisinya yang kurang gizi.

"Baru tiga hari rawat, sudah kita minta keluar karena nggak ada dana. Dokter mau tahan, kita bilang nggak ada biaya ... belum tuntas dia berobat," ujar ayahnya, RW, kepada BBC News Indonesia.

Baca juga: Bayi Positif Covid-19 Harus Ditunggui Keluarga yang Negatif, Ini Penjelasannya

Empat bulan kemudian, pada awal Mei, kondisi Joni memburuk. Ia batuk-batuk, tapi membawanya ke rumah sakit bukan pilihan saat itu, ujar ayahnya.

"Lantaran torang (kami) nggak ada uang sama sekali. Kami untuk makan sehari-hari saja pas-pasan. Jadi (dirawat) di rumah saja," ujar RW, yang bekerja sebagai buruh bangunan itu.

Namun, kondisi Joni tak juga membaik. RW dan istrinya memutuskan membawa Joni ke klinik dekat kediaman mereka.

Oleh karena kondisinya yang kritis, Joni dirujuk ke RSUP Prof Kandou Malalayang dan dirawat selama sembilan hari di ruang isolasi.

Baca juga: 5 Kasus Bayi Positif Covid-19 dalam Sepekan Terakhir, Tertular TKI hingga Orangtua

RW bercerita, di tanggal 16 Mei, ia mendapat firasat buruk.

"Kami bermimpi dia meninggal. Kami datang ke rumah sakit, peluk, cium, (Joni). Kami panggil nama Tuhan Yesus... Menangis adik (Joni) dalam mimpi," ujarnya.

Keesokannya, mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Joni meninggal. Petugas kesehatan mengatakan Joni positif Covid-19.

"Adik so nyanda ada, rasa-rasa tape kaki, dari tape jiwa rasa-rasa mo malayang (bayi kami sudah tiada, rasa-rasanya kaki dan jiwa mau melayang)."

Baca juga: Fakta Baru, Pasien Anak Positif Corona di Yogyakarta Membaik, Orangtua Diperiksa

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Antisipasi Arus Balik di Bakauheni, Disiapkan 200.000 Alat Rapid Test

Antisipasi Arus Balik di Bakauheni, Disiapkan 200.000 Alat Rapid Test

Regional
Beberapa Titik di Medan Dilanda Banjir, Bobby Pastikan Warga Terdampak Tak Kekurangan Pangan

Beberapa Titik di Medan Dilanda Banjir, Bobby Pastikan Warga Terdampak Tak Kekurangan Pangan

Regional
Bupati Bener Meriah Alami Pecah Pembuluh Darah, Dibawa ke Medan

Bupati Bener Meriah Alami Pecah Pembuluh Darah, Dibawa ke Medan

Regional
Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Regional
Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Regional
Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Regional
H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

Regional
12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

Regional
Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Regional
Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Regional
Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Regional
Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Regional
Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Regional
Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X