BANDUNG, KOMPAS.com – Tahun 2017 menjadi awal pertemuan petani asal Cimenyan, Kabupaten Bandung, Ujang Margana (25) dengan TaniHub (TH) dan TaniFund (TF).
TF adalah perusahaan financial technology (fintech) bidang pertanian. Sedangkan TH adalah e-commerce pertanian yang menghubungkan petani dengan pasar.
“Saya diperkenalkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bandung karena TH membutuhkan pasokan bawang untuk dijual,” ujar Ujang kepada Kompas.com di kebunnya, belum lama ini.
Di tahun yang sama, TF menawarkan kerja sama namun tidak diambil. Baru tahun 2019, kelompok taninya, Tricipta, menerima tawaran TF untuk budi daya bawang seluas 5 hektare (ha).
Ia sendiri ikut 1 ha dalam program ini. Nilai kerja samanya 6 ton per ha. Dalam hitungan normal, 1 ha lahan biasanya menghasilkan 9-12 ton bawang dengan masa tanam 70 hari.
Baca juga: Mendagri: Indonesia Perlu Miliki Desain Besar Sektor Pertanian
Nantinya, 6 ton bawang akan langsung diambil TF. Hasil inilah yang akan dibagi hasil antara TF dan petani.
Sedangkan sisa panen, bisa dipasarkan sendiri atau ikut dipasarkan TH. Sesuai kerja sama, harga yang disepakati adalah Rp 16.000 per kg.
Namun pertanian tidak bisa ditebak. Karena masalah cuaca, panen pertama bawang kurang dari target. Lulusan Universitas Al Ghifari ini hanya mendapat 2,5 ton per ha.
“Hitung-hitungannya nunggu panen bawang yang 5 hektare ini selesai,” tuturnya.
Baca juga: Simalakama Petani Indonesia: Jatuh Bangun Cari Modal Saat Musim Tanam Tiba (1)
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanPeriksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.