Menguak "Human Trafficking" di NTT: Berkedok Uang Sirih Pinang, Incar Anak Keluarga Miskin

Kompas.com - 27/11/2019, 10:10 WIB
Ilustrasi korban perdagangan manusia. THINKSTOCKPHOTOSIlustrasi korban perdagangan manusia.

“Saat itu, dia datang bersama seorang laki-laki yang mengaku dari Soe. Laki-laki itu meminta saya agar Metilia bekerja di Malaysia sebagai pekerja di restoran dengan gaji yang besar. Dia kasih saya uang sirih pinang sebesar Rp 1,5 juta," ungkap Agustina.

Uang yang diberikan itu lanjut Agustina, kemudian diterimanya dan digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Meski menerima uang, Agustina sempat menolak anaknya bekerja ke luar negeri. karena masih terlalu kecil.

Apalagi saat itu Metilia masih sekolah. Metilia kemudian minta izin lagi untuk menghubungi sepupunya, tapi rupanya dia kabur sampai hari ini dan tak kunjung kembali.

Beberapa minggu setelah pergi dari rumah, Metilia sempat menghubungi kakak kandungnya yang bekerja di Kalimantan. Dia mengabarkan kalau Metilia sudah berada di Jakarta.

“Anak saya yang kerja di Kalimantan lalu menelpon saya dan memberitahu kalau saat ini Metilia sudah di Jakarta. Saya pun sempat terpukul mendengar kabar itu sehingga saya kasih tahu kakaknya agar menyampaikan pesan ke Metilia, bahwa kamu sudah ambil keputusan untuk kerja sehingga harus dipikul sendiri, apalagi usianya belum pantas untuk bekerja,” ucap dia.

Yang Agustina ingat, Metilia hanya menelpon pada 2004 dan hingga kini tak pernah memberi kabar kepada keluarga tentang kondisi dan lokasi di mana dia bekerja saat ini

“Saya sekarang bingung harus buat apa karena tidak tahu siapa yang membawa Metilia ke Jakarta, sehingga mau lapor polisi pun saya tidak punya bukti kuat. Saya sekarang hanya pasrah saja, apalagi suami saya juga sudah meninggal tahun 2003 lalu. Walaupun begitu saya masih optimis suatu saat anak saya pasti kembali ke kampung,” jelas Agustina dengan mata berkaca-kaca.

Agustina berharap, suatu hari kelak anaknya bisa kembali ke rumah. Meski sudah lama tak bersua, Agustina rupanya masih menyimpan kerinduan yang mendalam pada Metilia.

Baca juga: Imigrasi Soekarno-Hatta Akui Sulit Deteksi Perdagangan Manusia lewat Pengantin Pesanan

Dibawa kabur calo

Usai menggali informasi di Desa Fatukoko, kami berempat lalu kembali dan bergerak menuju Desa Bonleu, Kecamatan Mollo Utara.

Di Desa Bonleu yang berada di bawah kaki Gunung Mutis (Gunung tertinggi di Pulau Timor), kami menemui seorang warga bernama Welmince Fallo

Welmince Fallo bercerita, soal anaknya Dina Mariana Fallo yang hilang sejak 21 April 2015.

Menurut Welmince, putri sulungnya menghilang dari rumah saat dirinya bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Mendengar kabar anaknya raib dari rumah, dia segera meminta izin majikannya untuk kembali ke Indonesia pada Mei 2015 silam.

“Saya sudah bekerja di Malaysia sejak tahun 2007 dan setiap tahun saya selalu izin pulang libur ke kampung. Anak saya ada dua orang dan Dina ini anak pertama, sedangkan adik laki-lakinya saat ini masih kelas VI SD Bonleu,” jelas Welmince.

Dina sempat menghubungi Welmince lewat telepon genggam. Saat itu, sang ibu dalam perjalanan menuju kampung halaman Soe, Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS).

Waktu berbicara jarak jauh dengan dirinya, anaknya Dina tengah berada di Surabaya. Tetapi percakapan berlangsung singkat lantaran telepon genggam Dina direbut oleh seorang pria.

Pria itu menjelaskan ke Welmince kalau Dina akan diperkerjakan dengan baik. Si pria yang tak menyebutkan namanya itu tak menjelaskan kapan dan di mana Dina akan bekerja. Tetapi sejak itu, nomor selular Dina anaknya tak lagi bisa dihubungi.

Setiba di kampung, Welmince segera berembuk dengan keluarga. Termasuk mencari tahu dari tetangga mengenai keberadaan Dina.

Titik terang mengenai keberadaan Dina muncul saat anak perempuan bernama Marlis Tefa dideportasi dari Malaysia. Marlis dikembalikan lantaran tak memiliki dokumen resmi, saat menjadi TKI di negeri jiran itu.

Kepada keluarga Welmince, Marlis mengatakan kalau Dina bekerja di Malaysia bersama dirinya.

Mereka berdua bersama anak-anak perempuan lain direkrut oleh tiga calo Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia di Kupang. Ketiga calo itu yakni berinisial MO, AM dan RT

Bersama orang tua Marlis dan keluarganya, Welmince melaporkan tiga orang calo ke Kepolisian Sektor Mollo Utara pada akhir April 2015.

Kasus tersebut telah diproses oleh polisi dan tiga calo itu telah divonis tiga tahun penjara oleh pengadilan setempat dan sudah mendekam di Rutan Soe, TTS.

Baca juga: Di Balik Modus Human Trafficking di Cianjur, Dijanjikan Kerja di Arab hingga Terima Uang Rp 2 Juta

 

Calo incar anak perempuan keluarga miskin

Welmince hanyalah satu dari sedikit orang tua yang berani melaporkan kasus kehilangan anak ke kepolisian. Sebab orang tua lainnya tak berani melapor ke polisi karena takut dan juga rasa sungkan.

Jumlah anak perempuan yang menghilang dari rumah di TTS tak sedikit. Di Desa Bonleu, selain Dina Mariana Fallo dan Marlis, ada juga Yetri Liem, Serli Liem, Silpa Fallo, Vony Fobia dan Ida Ola.

Dari penelusuran Kompas.com pada empat desa di tiga kecamatan di TTS, anak-anak perempuan meninggalkan rumah karena termakan bujuk rayu para calo perusahaan pengerah jasa tenaga kerja.

Para calo berkeliaran di desa-desa miskin TTS untuk merekrut calon TKI. Semua anak-anak perempuan yang terekrut pun harus bekerja secara ilegal di luar NTT dengan dokumen yang dipalsukan.

Berbagai cara ditempuh para calo untuk merekrut calon TKI. Umumnya mereka mengincar anak perempuan belia dari keluarga miskin.

Ada juga calo yang menyerahkan sedikit uang alias “uang sirih pinang” kepada orang tua agar mengizinkan anaknya bekerja menjadi TKI di luar negeri. Rata-rata besaran uang sirih pinang yang diberikan berkisar Rp 1,5 juta – Rp 5 juta.

Sementara jika orang tua tetap berkeras menolak, para calo membawa kabur anak-anak perempuan dengan iming-iming diperkerjakan di tempat layak dengan gaji yang tinggi. Iming-iming lainnya adalah hidup mewah.

Saat ini, Kabupaten TTS menjadi daerah strategis untuk para calo memburu calon TKI. Sebabnya, di daerah ini termasuk banyak keluarga yang miskin.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2014, jumlah penduduk miskin di Kabupaten TTS mencapai 124.010 atau 27,53 persen dari total jumlah penduduk 456.152 jiwa.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X