Menguak "Human Trafficking" di NTT: Berkedok Uang Sirih Pinang, Incar Anak Keluarga Miskin

Kompas.com - 27/11/2019, 10:10 WIB
Ilustrasi korban perdagangan manusia. THINKSTOCKPHOTOSIlustrasi korban perdagangan manusia.

SOE, KOMPAS.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur ( NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat, langsung mengumumkan moratorium pengiriman tenaga kerja dari wilayahnya ke luar negeri, beberapa saat setelah dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Presiden, Jakarta, Rabu (5/9/2018) lalu.

Sikap tegas Viktor tersebut, lantaran maraknya kasus human trafficking ( Perdagangan manusia) di wilayah yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia.

Viktor menyebut, NTT harus memiliki tenaga kerja yang terampil, namun bukan dikirim ke luar negara, melainkan bekerja di negeri sendiri.

"Saya akan pergi ke Malaysia untuk mengajak saudara-saudara kita yang bekerja sebagai buruh, kembali bangun NTT. Mereka kembali sebagai owner di tanah mereka sendiri," kata Viktor kepada sejumlah wartawan di Kupang, belum lama ini.

Hingga kini, TKI legal asal NTT yang bekerja di Malaysia berjumlah sekitar 50.000 orang.

Angka itu, belum termasuk tenaga kerja ilegal yang jumlahnya juga mencapai puluhan ribu orang. Para TKI ilegal itu sebagian besar merupakan korban perdagangan manusia.

Mereka bekerja di berbagai sektor seperti perkebunan dan asisten rumah tangga.

Baca juga: Soal TKI Ilegal, Gubernur NTT: Kalau Sukses Syukur, jika Tewas Dikubur

TKI NTT yang meninggal di Malaysia meningkat

Berdasarkan data dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI), Kupang, jumlah TKI asal NTT yang meninggal di Malaysia dalam enam tahun terakhir ini cenderung meningkat setiap tahunnya.

Kepala BP3TKI Kupang, Siwa mengatakan, pada tahun 2013 sebanyak 31 orang TKI meninggal, tahun 2014 menurun menjadi 21 orang, tahun 2015 sebanyak 28 orang, tahun 2016 naik menjadi 49 orang dan tahun 2017 meningkat menjadi 62 orang.

Kemudian, pada tahun 2018 jumlah TKI yang meninggal meningkat pesat mencapai 105 orang dan tahun 2019, hingga November tercatat 105 orang meninggal.

Khusus untuk tahun 2019, TKI yang paling banyak meninggal di Malaysia, berasal dari Kabupaten Ende dan Kabupaten Malaka serta Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Siwa menyebut, mereka tidak memiliki dokumen atau TKI ilegal yang menjadi korban perdagangan orang.

"Sebagian besar TKI yang meninggal undocumented atau ilegal, yang menjadi korban human trafficking," ungkap Siwa kepada Kompas.com.

Baca juga: Selama 11 Bulan, 104 TKI Ilegal Asal NTT Meninggal di Malaysia

Menelusuri jejak perdagangan manusia di NTT

Melihat maraknya kasus itu, Kompas.com pun menelusuri salah satu daerah yang menjadi kantong perdagangan manusia di Pulau Timor yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Cuaca pagi itu Kamis (21/11/2019) cerah. Sinar mentari pagi terasa menyengat kulit, meski waktu baru menunjukan pukul 9.00 WITA.

Kendaraan Toyota Avanza warna hitam yang saya tumpangi bersama penumpang lain, perlahan-lahan mulai keluar dari Kota Kupang menuju Soe, ibukota Kabupaten TTS. Ongkos bayar mobil rental tersebut sekali jalan Rp 50.000

Jarak dari Kupang yang merupakan ibu kota provinsi NTT ke Soe, yakni 110 kilometer. Kondisi jalan negara yang mulus dengan lalu lintas yang tidak terlalu padat, mempercepat waktu tempuh kami yakni selama kurang dari dua jam.

Sebelum tiba di lokasi, saya sudah berkomunikasi dengan beberapa rekan saya di Soe yang konsen dengan masalah perdagangan orang.

Ada tiga orang teman yang saya hubungi, di antaranya Megi Fobia, Rudi dan Ike. Mereka sudah merekomendasikan beberapa tempat di Kabupaten TTS yang menjadi lokasi para korban perdagangan manusia.

Kurang 5 menit pukul 11.00 Wita, mobil yang saya tumpangi tiba di Kota Soe. Kami sepakat bertemu di rumah Ike.

Kami lalu duduk berdiskusi sembari menyeruput kopi panas. Meski waktu siang, namun udara Kota Soe memang dingin dan sejuk karena topografinya berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Soe dijuluki kota dingin, karena cuacanya lebih dingin ketimbang ibu kota kabupaten lainnya di Pulau Timor.

Usai duduk ngobrol, kami langsung bergerak ke lokasi pertama yakni di Desa Fatukoko, Kecamatan Mollo Barat, yang berjarak sekitar 24 kilometer arah selatan Kota Soe.

Jalan ke Desa Fatukoko memang mulus, karena melintasi jalan negara Trans Timor.

Namun, sekitar empat kilometer jalan masuk ke Desa Fatukoko, belum beraspal dan rusak parah, sehingga kami memutuskan untuk mengendarai dua sepeda motor sambil berboncengan.

Butuh tenaga ekstra untuk sampai ke desa itu, karena harus melintasi dua sungai kering dan jalan terjal berlubang dan penuh bebatuan besar berserakan di sepanjang jalan.

Bahkan, jelang 100 meter hendak masuk ke Kampung Fatukoko, sebatang pohon kelapa kering dengan panjang empat meter melintang menutup jalan.

Praktis tak ada jalan alternatif. Kami berempat dengan sekuat tenaga lalu memindahkan batang pohon kelapa untuk melanjutkan perjalanan.

Tiba di Desa Fatukoko, kami langsung menuju rumah seorang warga yang bernama Agustina Naku.

Kami disambut ramah oleh Agustina dan beberapa orang kerabatnya. Mereka ramai-ramai menyampaikan keluhan soal beberapa anak mereka yang hilang tanpa kabar hingga hari ini, akibat menjadi korban perdagangan manusia.

Baca juga: Polda NTT Bantah Anggotanya Disandera Suku Tukan di Flores

Uang sirih pinang

Sejumlah anak asal Desa Fatukoko yang menghilang tanpa kabar, di antaranya Metilia Usboko, Marselia Nenobota, Amelinda Takentanu dan Silvina Usboko.

Agustina Naku mengaku, putrinya Metilia Usboko yang berusia 26 tahun, menghilang dari rumahnya sejak menjadi murid kelas VI di SD Fatukoko.

Metilia hilang dari rumah, sekitar pertengahan April 2004 silam. Metilia sempat meminta izin untuk bekerja bersama sepupunya di Kupang.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Keluar Rumah Tak Pakai Masker, 68 Warga Pontianak Langsung Dites Swab

Keluar Rumah Tak Pakai Masker, 68 Warga Pontianak Langsung Dites Swab

Regional
Diperkosa Kakak Kandung hingga Hamil, Remaja 13 Tahun Juga Jadi Korban Perundungan Warga

Diperkosa Kakak Kandung hingga Hamil, Remaja 13 Tahun Juga Jadi Korban Perundungan Warga

Regional
Pelajar SMP Korban Perkosaan Akan Melahirkan, Keluarga Ingin Cabut Laporan di BK DPRD Gresik

Pelajar SMP Korban Perkosaan Akan Melahirkan, Keluarga Ingin Cabut Laporan di BK DPRD Gresik

Regional
Mengaku Khilaf Saat Diamankan, 10 Pesepeda Perempuan Berbaju Ketat di Banda Aceh Diberi Bimbingan Ustaz

Mengaku Khilaf Saat Diamankan, 10 Pesepeda Perempuan Berbaju Ketat di Banda Aceh Diberi Bimbingan Ustaz

Regional
Ketika Akademi TNI 'Keukeuh' Minta Wali Kota Magelang Pindah Kantor

Ketika Akademi TNI "Keukeuh" Minta Wali Kota Magelang Pindah Kantor

Regional
Cerita Dokter Forensik Bertaruh Nyawa Tangani Jenazah Pasien Covid-19

Cerita Dokter Forensik Bertaruh Nyawa Tangani Jenazah Pasien Covid-19

Regional
[POPULER NUSANTARA] Misteri 31 Jam Pendaki Hilang di Gunung Guntur | Pengambilan Paksa Jenazah Covid-19 di Jeneponto

[POPULER NUSANTARA] Misteri 31 Jam Pendaki Hilang di Gunung Guntur | Pengambilan Paksa Jenazah Covid-19 di Jeneponto

Regional
PKB Pertimbangkan 3 Nama di Pilkada Sidoarjo, Salah Satunya Putra Saiful Ilah

PKB Pertimbangkan 3 Nama di Pilkada Sidoarjo, Salah Satunya Putra Saiful Ilah

Regional
'Bapak Pergi Saja, Tak Ada Corona di Sini, Kalau Ada akan Kami Kubur Sendiri'

"Bapak Pergi Saja, Tak Ada Corona di Sini, Kalau Ada akan Kami Kubur Sendiri"

Regional
Terungkap, 240 Polisi di Sumsel Ternyata Gunakan Narkoba

Terungkap, 240 Polisi di Sumsel Ternyata Gunakan Narkoba

Regional
Gempa 6,1 Magnitudo Guncang Jepara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa 6,1 Magnitudo Guncang Jepara, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
Ingin Shalat Idul Adha di Masjid Al-Akbar Surabaya, Calon Jemaah Harus Daftar Online

Ingin Shalat Idul Adha di Masjid Al-Akbar Surabaya, Calon Jemaah Harus Daftar Online

Regional
'Mereka Tolak Diisolasi karena Anggap Corona Proyek Memperkaya Dokter'

"Mereka Tolak Diisolasi karena Anggap Corona Proyek Memperkaya Dokter"

Regional
Fakta Kakak Setubuhi Adik Kandung hingga Hamil 4 Bulan, Korban Keguguran

Fakta Kakak Setubuhi Adik Kandung hingga Hamil 4 Bulan, Korban Keguguran

Regional
Fakta Santri Pondok Gontor Positif Covid-19, Tak Bawa Surat Kesehatan hingga Akses Pesantren Ditutup

Fakta Santri Pondok Gontor Positif Covid-19, Tak Bawa Surat Kesehatan hingga Akses Pesantren Ditutup

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X