Menjaga Asa Pelestarian Tradisi Lisan

Kompas.com - 08/11/2019, 19:53 WIB
Maestro tradisi Massureq dari Sulawesi Selatan, Indo Masse dan putrinya Indo Werro. Massureq adalah membaca naskah Lontara dengan cara dilantunkan tanpa musik. Adapun pembacanya disebut passureq.   SUSI IVVATY UNTUK KOMPAS.COMMaestro tradisi Massureq dari Sulawesi Selatan, Indo Masse dan putrinya Indo Werro. Massureq adalah membaca naskah Lontara dengan cara dilantunkan tanpa musik. Adapun pembacanya disebut passureq.

Tampak jelas dan sudah kita rasakan, bahwa dalam hal penetapan budaya, negara mengintervensi. Kebudayaan di bawah Soeharto digunakan untuk membenarkan hubungan hierarkis kekuasaan.

Pascareformasi, terutama sejak lahirnya Permen 2014 itu, tradisi sebagai bagian dari kebudayaan, bisa dikatakan mendapat perlakuan lebih baik, menyusul UU Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017.

Ada keberpihakan negara pada tradisi , setidaknya diupayakan melalui payung hukum, dan memasukkan tradisi menjadi satu dari sepuluh objek kebudayaan yang harus dimajukan.

Sembilan objek lain meliputi manuskrip, adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Bahwa upaya memang belum optimal, memang benar.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadjamuddin Ramly menegaskan, keberpihakan pemerintah pusat dan daerah pada kebudayaan bisa dilihat dari seberapa besar alokasi anggarannya.

Kebudayaan adalah semacam tenda besar dari seluruh elemen kepentingan kita sebagai manusia. Di dalamnya ada banyak sektor. Oleh karena itu, keberpihakan kepada kebudayaan adalah sebuah keharusan.

“Selama ini nyatanya, kebudayaan masih dianggap sebagai pelengkap penderita,” katanya dalam sambutan seminar di Makassar.

Persoalan lain yang tidak kalah mengganggu adalah sebuah kekuatan yang laten sejak tahun 1980-an dan mencuat kuat pada satu dasawarsa terakhir: radikalisasi.

Ketika negara berupaya memajukan kebudayaan, gempuran datang dari “kelompok” yang mengusung pemurnian ajaran agama. Tradisi dianggap bid’ah. 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X