Untuk Mempertahankan Tradisi Lisan Harus Disokong Anggaran Memadai

Kompas.com - 26/10/2019, 19:58 WIB
Direktur WDB Kemdikbud Nadjamuddin Ramly (enam dari kiri depan) bersama para anggota Asosiasi Tradisi Lisan di Makassar. SUSI IVVATYDirektur WDB Kemdikbud Nadjamuddin Ramly (enam dari kiri depan) bersama para anggota Asosiasi Tradisi Lisan di Makassar.
Penulis Susi Ivvaty
|

MAKASSAR, KOMPAS.com - Keperbihakan pemerintah pusat dan daerah pada kebudayaan bisa dilihat dari seberapa besar anggaran APBN dan APBD bagi kebudayaan.

Tradisi lisan adalah satu dari sepuluh obyek pemajuan kebudayaan yang termaktub di dalam UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi semua pihak, utamanya pemerintah, untuk menyokong pemertahanan tradisi lisan melalui anggaran yang memadai agar tidak musnah dilahap zaman.

Demikian dikatakan Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadjamuddin Ramly sebagai pembicara kunci acara Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan XI (Lisan XI) di Aula Prof Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (26/10/2019).

Baca juga: Asosiasi Tradisi Lisan Gelar Munas dan Seminar Internasional di Makassar

Selain tradisi lisan, sembilan obyek pemajuan kebudayaan lainnya meliputi manuskrip, adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisonal.

Nadjamuddin mengatakan, kebudayaan adalah semacam tenda besar dari seluruh elemen kepentingan kita sebagai manusia.

Di dalamnya ada banyak sektor, termasuk kesehatan hingga pariwisata. Oleh karena itu, keberpihakan kepada kebudayaan adalah sebuah keharusan.

"Pemerintah daerah yang peduli kebudayaan bisa dilihat dari seberapa besar APBD untuk kebudayaannya. Selama ini kebudayaan menjadi pelengkap penderita. Dalam urusan seni, misalnya, seniman itu cuma dikasih uang transportasi kecil, padahal sudah menari dan menyanyi untuk acara penyambutan. Itu sewa kostumnya berapa, sudah pakai riasan wajah. Bagaimana kita menghargai semua itu," kata Nadjamuddin.

Dalam hal tradisi lisan, selama ini Asosiasi Tradisi Lisan tidak pernah lelah bergiat untuk bertahan.

Bagaimana pewarisan tradisi bisa terus berlanjut ketika para penutur asli sudah banyak yang meninggal.

Selain itu, ATL juga telah bermitra dengan pemerintah dalam pencatatan warisan budaya Nusantara, yang di dalamnya tercakup sepuluh obyek pemajuan kebudayaan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X