Oknum Guru Honorer Cabuli 10 Bocah Laki-laki

Kompas.com - 25/09/2019, 12:54 WIB
Kapolres Banjar AKBP Yulian Perdana memperlihatkan sejumlah barang bukti kasus pencabulan saat ekspos kasus di Aula Mapolres, Rabu (25/9/2019). KOMPAS.COM/CANDRA NUGRAHAKapolres Banjar AKBP Yulian Perdana memperlihatkan sejumlah barang bukti kasus pencabulan saat ekspos kasus di Aula Mapolres, Rabu (25/9/2019).

 

BANJAR, KOMPAS.com - Seorang oknum guru honorer sekolah dasar (SD) di Kota Banjar, Jawa Barat diduga mencabuli sepuluh anak laki-laki di bawah umur.

Tersangka berinisial HA (43) kini telah ditahan di Mapolres Banjar.

"Kami telah mengungkap kasus kekerasan terhadap anak, pencabulan," kata Kapolres Banjar, Ajun Komisaris Besar Yulian Perdana saat konferensi pers di Aula Mapolres, Rabu (25/9/2019).

Baca juga: Kasus Pencabulan Santri, Pimpinan dan Guru Pesantren Segera Diadili di Aceh

Dia menjelaskan, kasus ini berawal dari laporan dua anak berusia enam dan tujuh tahun. Kedua korban mengaku dicabuli seorang pelaku yang berusia 11 tahun.

"Saat diamankan pelaku yang berusia 11 tahun ternyata merupakan korban (pencabulan) anak usia 12 tahun. Setelah diselidiki, kita bisa tangkap pelaku (anak 12 tahun)," jelas Yulian.

Ternyata, lanjut dia, pelaku 12 tahun ini merupakan korban pencabulan HA.

"Tersangka guru honorer sekolah dasar di daerah Pataruman," kata dia.

Tersangka mencabuli korban-korbannya di konter ponsel miliknya di daerah Pataruman, Kota Banjar. Korban dikelabui, dipaksa, diiming-imingi sampai menjadi korban pencabulan HA.

"Diiming-imingi diberikan servis HP gratis di konter tersangka," jelas Yulian.

Berdasarkan pengakuan HA, menurut Yulian, tersangka mengaku pernah menjadi korban pencabulan saat kelas dua SMA. Pencabulan terjadi sekitar tahun 1993.

"Pelakunya masih keluarga dekat HA," ujarnya.

Pascapencabulan, HA beraktivitas seperti biasa. Dia menempuh pendidikan.

"Sejak 2006, tersangka melakukan hal tersebut," kata Yulian.

Baca juga: Polisi Ungkap 6 Anak yang Jadi Korban Pencabulan oleh Guru Agama

Tersangka HA ditangkap Minggu (22/9/2019). Saat ditangkap, tersangka sedang bersama dua anak yang diduga jadi objek seksual tersangka.

"Kami temukan dua anak dalam penguasaannya. Pengakuan tersangka, anak itu tiga bulan jadi objek seksual," kata Yulian.

Dia menyampaikan, semua pihak perlu waspada. Pada kasus di atas, korban pencabulan bisa menjadi pelaku pencabulan di masa datang.

"Anak (korban) bisa menjadi pelaku berikutnya. Kajian-kajian psikologi sudah ada yang mengkaji seperti itu," kata dia.

Menurut Yulian, bukan hanya tugas kepolisian saja menangani kasus seperti itu. Semua pihak terkait harus bersama-sama mencegahnya.

Hukuman penjara bisa saja tidak efektif. Perlu adanya rehabilitasi, langkah-langkah edukasi untuk mencegah kasus ini.

"Kita harap ini kejadian terakhir. Kita harus melindungi masa depan anak bangsa," jelas dia. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gunung Semeru Meletus Keluarkan Awan Panas dan Guguran Lava, Mengarah ke Lumajang

Gunung Semeru Meletus Keluarkan Awan Panas dan Guguran Lava, Mengarah ke Lumajang

Regional
BNPB Minta Warga Waspadai Lahar Dingin Pasca-letusan Gunung Semeru

BNPB Minta Warga Waspadai Lahar Dingin Pasca-letusan Gunung Semeru

Regional
Mantan Pejabat BNN Sumut Jadi Tersangka Dugaan Penggelapan Rp 756 Juta

Mantan Pejabat BNN Sumut Jadi Tersangka Dugaan Penggelapan Rp 756 Juta

Regional
Harga Cabai Rawit Merah di Cianjur Tembus Rp 100.000 Per Kg

Harga Cabai Rawit Merah di Cianjur Tembus Rp 100.000 Per Kg

Regional
Sungai di Manado Meluap, Warga Diminta Mengungsi

Sungai di Manado Meluap, Warga Diminta Mengungsi

Regional
Kronologi Kejar-kejaran Satgas Bea Cukai Vs Kapal Rokok Ilegal, Kapal Satgas Sempat Dilempari Bom Molotov

Kronologi Kejar-kejaran Satgas Bea Cukai Vs Kapal Rokok Ilegal, Kapal Satgas Sempat Dilempari Bom Molotov

Regional
Di Tengah Pandemi, Lapangan Migas di Sumsel Bukukan Kenaikan Produksi

Di Tengah Pandemi, Lapangan Migas di Sumsel Bukukan Kenaikan Produksi

Regional
BPPTKG Rekomendasikan Pengungsi di Luar Daerah Bahaya Letusan Merapi untuk Pulang

BPPTKG Rekomendasikan Pengungsi di Luar Daerah Bahaya Letusan Merapi untuk Pulang

Regional
Marah Tanah Warisan Ayahnya Digarap, Keponakan Aniaya Paman Hingga Tewas

Marah Tanah Warisan Ayahnya Digarap, Keponakan Aniaya Paman Hingga Tewas

Regional
PLN Pasang Telepon Satelit, Perlancar Koordinasi Penanganan Pasca-gempa Sulbar

PLN Pasang Telepon Satelit, Perlancar Koordinasi Penanganan Pasca-gempa Sulbar

Regional
Sumbar Siapkan 5 RS Rujukan bagi Warga yang Alami Efek Samping Vaksinasi

Sumbar Siapkan 5 RS Rujukan bagi Warga yang Alami Efek Samping Vaksinasi

Regional
Gubernur NTB Promosikan Sepeda Listrik Buatan Lokal ke Menpar

Gubernur NTB Promosikan Sepeda Listrik Buatan Lokal ke Menpar

Regional
Pegiat Bahasa Sunda Bersiap Sambut Hari Bahasa Ibu Internasional

Pegiat Bahasa Sunda Bersiap Sambut Hari Bahasa Ibu Internasional

Regional
Kematian Pasien Covid-19 di Atas 50 Tahun di Kulon Progo Terus Bertambah

Kematian Pasien Covid-19 di Atas 50 Tahun di Kulon Progo Terus Bertambah

Regional
Alumni Sekolah dan Komunitas Sosial Gelar Aksi Teaterikal Doakan Rahmania, Korban Sriwijaya Air SJ 182 Asal Kediri

Alumni Sekolah dan Komunitas Sosial Gelar Aksi Teaterikal Doakan Rahmania, Korban Sriwijaya Air SJ 182 Asal Kediri

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X