Weleng Wulang, Tradisi Suku-suku di NTT Sambut Gerhana Bulan yang Mulai Langka

Kompas.com - 23/11/2018, 12:23 WIB
Theodorus Madur, pensiunan guru, didampingi saudaranya Benediktus Nehe dan Nobertus Manggut bersama dengan tetua adat kampung tetangga Yoseph Jaman di kediaman Petrus Ngempeng, bercerita soal mulai pudarnya tradisi menabuh gendang dan gong saat gerhana bulan kepada KOMPAS.com, Senin (19/11/2018).  KOMPAS.com/MARKUS MAKURTheodorus Madur, pensiunan guru, didampingi saudaranya Benediktus Nehe dan Nobertus Manggut bersama dengan tetua adat kampung tetangga Yoseph Jaman di kediaman Petrus Ngempeng, bercerita soal mulai pudarnya tradisi menabuh gendang dan gong saat gerhana bulan kepada KOMPAS.com, Senin (19/11/2018).

LABUAN BAJO, KOMPAS.com — Masyarakat di berbagai belahan dunia mempiliki tradisi tersendiri menyambut gerhana bulan, termasuk masyarakat suku Besi yang tinggal di Beo Wajur, Desa Wajur, Kolang, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Hingga tahun 1980-an, suku Besi yang memiliki bahasa Manggarai dengan dialek Kolang ini menyebut gerhana bulan dengan sebutan Weleng Wulang. Hingga tahun tersebut, Bahasa Indonesia belum lazim dipakai oleh masyarakat. 

Tradisi Weleng Wulang ini merupakan tradisi masyarakat suku Besi untuk menyambut gerhana bulan dengan penuh kegembiraan. Mereka akan melakukan ritual adat dan melaksanakan tradisi menabuh gendang dan gong di rumah adat kampung setempat. 

Saat menabuh gendang dan gong, semua anggota suku berkumpul dan dimpimpin oleh sang kepala suku. 


Baca juga: Melihat Tradisi Weh-wehan untuk Menyambut Maulid Nabi Muhammad

Menurut kepercayaan leluhur Suku Besi dan suku-suku lain di kawasan Kolang, “weleng wulang” atau gerhana bulan tidak membawa bahaya bagi warga kampung melainkan memberikan tanda-tanda rezeki dalam kehidupan masyarakat.

Weleng Wulang juga dipercaya membawa tanda-tanda kebaikan dan keberhasilan dalam usaha dan mengolah lahan pertanian.

Wujud dari tanda-tanda alam itu disambut dengan penuh kegembiraan oleh seluruh warga suku di kawasan Kolang dengan melantunkan nyanyian (mbata) sambil menabuh gendang dan memukul gong adat.

“Dulu nenek moyang dan orangtua-orangtua kami menyambut Weleng Wulang dengan penuh kegembiraan dan ceria karena tanda-tanda itu membawa berkah bagi hidup keluarga di masa akan datang,” jelas Theodorus Madur, pensiunan guru SD yang juga pemuka adat di Beo Wajur, kepada Kompas.com, Senin (19/11/2018).

Baca juga: Tawurji, Tradisi Sedekah Keraton di Cirebon, dan Konteks yang Terlupakan (1)

Semakin langka

Theodorus Madur yang didampingi saudaranya, Benediktus Nehe dan Nobertus Manggut menjelaskan, dalam bahasa Manggarai dialek Kolang, Weleng artinya kehilangan arah jalan sedang Wulang artinya bulan.

Jadi Weleng Wulang bisa diartikan secara harafiah dalam bahasa Indonesianya, bulan yang sedang kehilangan arah jalan cahayanya. 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Aksi Bocah Matikan Lampu PJU di Flyover Palur Karanganyar, Tuai Kecaman Warganet

Aksi Bocah Matikan Lampu PJU di Flyover Palur Karanganyar, Tuai Kecaman Warganet

Regional
Hujan dan Angin Kencang Landa Ponorogo, 1 Tewas Tertimpa Reruntuhan Lapak

Hujan dan Angin Kencang Landa Ponorogo, 1 Tewas Tertimpa Reruntuhan Lapak

Regional
Tiga Warga Cianjur Tersambar Petir, Orang Satu Tewas

Tiga Warga Cianjur Tersambar Petir, Orang Satu Tewas

Regional
Perampok Bersenjata Api Beraksi di Riau, Dua Orang Sekuriti Ditembak

Perampok Bersenjata Api Beraksi di Riau, Dua Orang Sekuriti Ditembak

Regional
Daftar Korban Tewas Kecelakaan Bus Rombongan Guru TK di Blitar

Daftar Korban Tewas Kecelakaan Bus Rombongan Guru TK di Blitar

Regional
Viral, Jutaan Kerang Muncul di Sungai Buntu Karawang

Viral, Jutaan Kerang Muncul di Sungai Buntu Karawang

Regional
Polisi Masih Fokus Tangani Korban Kecelakaan Bus Guru TK yang Tewaskan 5 Orang

Polisi Masih Fokus Tangani Korban Kecelakaan Bus Guru TK yang Tewaskan 5 Orang

Regional
Gagal Menikah gara-gara Maskawin, Pria Ini Sebarkan Video Porno Calon Istrinya

Gagal Menikah gara-gara Maskawin, Pria Ini Sebarkan Video Porno Calon Istrinya

Regional
Ditinggal Ibu ke Pengajian, Gadis Remaja Diperkosa Bapak Tirinya

Ditinggal Ibu ke Pengajian, Gadis Remaja Diperkosa Bapak Tirinya

Regional
Ganjar: Sebelum Daftar ke PDI-P Jateng, Gibran Harus Ngobrol dengan Rudy

Ganjar: Sebelum Daftar ke PDI-P Jateng, Gibran Harus Ngobrol dengan Rudy

Regional
Bus Rombongan Guru TK Asal Tulungagung Terjun ke Sungai, Hindari Truk Mogok dan 5 Tewas

Bus Rombongan Guru TK Asal Tulungagung Terjun ke Sungai, Hindari Truk Mogok dan 5 Tewas

Regional
Kronologi Kecelakaan Bus Rombongan Guru TK yang Tewaskan 5 Orang

Kronologi Kecelakaan Bus Rombongan Guru TK yang Tewaskan 5 Orang

Regional
Di Kampung Halamannya, Eks Dirut Garuda Ari Askhara Dikenal Orang Baik

Di Kampung Halamannya, Eks Dirut Garuda Ari Askhara Dikenal Orang Baik

Regional
Mengenal Bipolar Disorder dan Cara Penyembuhannya

Mengenal Bipolar Disorder dan Cara Penyembuhannya

Regional
Viral, Seorang Anak Bermain Sakelar Lampu PJU Flyover Palur Karanganyar

Viral, Seorang Anak Bermain Sakelar Lampu PJU Flyover Palur Karanganyar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X