Sudah 15 Tahun, Nelayan di Banyuwangi Tidak Menggunakan Cantrang

Kompas.com - 24/01/2018, 13:23 WIB
Nelayan di pelabuhan Muncar saat berangkat melaut Rabu (24/1/2018) KOMPAS.COM/Ira RachmawatiNelayan di pelabuhan Muncar saat berangkat melaut Rabu (24/1/2018)
|
EditorFarid Assifa

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Selama 15 tahun nelayan di Banyuwangi sudah menolak penggunaan cantrang untuk menangkap ikan karena dianggap tidak ramah lingkungan.

Hal tersebut dijelaskan Hasan Basri, ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Banyuwangi kepada Kompas.com, Rabu (24/1/2018).

"Walaupun pemerintah telah mencabut pelarangan penggunaan cantrang dan pukat tarik, kami nelayan Banyuwangi khususnya yang di Muncar tetap menolak penggunaan cantrang karena bisa merusak ekosistem laut. Belum lagi overfishing," jelas Hasan.

Bukan hanya menolak menggunakan cantrang, para nelayan di Banyuwangi juga berharap nelayan yang berasal dari luar Banyuwangi menghargai keputusan mereka dengan tidak menggunakan cantrang saat berada di kawasan Banyuwangi.

" Cantrang ini kan jaring yang bagian bawahnya dikasih kayu hingga sampai dasar, lalu ditarik menggunakan kapal. Bisa dibayangkan bagaimana kerusakan karang tempat ikan dan pemijahan telur ikan. Sekarang sudah sulit cari ikan, dan habitatnya juga dirusak. Cantrang ini memang jadi dilema sendiri," jelasnya.

Baca juga : Meski Diperbolehkan, Nelayan Cantrang Belum Berani Melaut

Hasan basri bercerita, tidak mudah mengambil keputusan untuk menolak menggunakan cantrang, apalagi banyak nelayan dari luar Banyuwangi yang menggunakan cantrang.

"Dulu jika ada yang menggunakan cantrang kita ingatkan dan kita tegur dan sekarang sudah tidak ada lgi. Kalau ada nelayan dari luar Banyuwangi, akan kita ingatkan," jelasnya.

Saat ini jumlah nelayan di Banyuwangi sebanyak 25.000 orang, namun yang memiliki kartu nelayan sebanyak 13.000 orang dan terbanyak berada di Pelabuhan Muncar.

"Untuk di Banyuwangi nelayan banyak menggunakan gillnets, lift net atau jaring angkat serta pancing, dan itu lebih ramah lingkungan dibandingkan cantrang," pungkas Hasan.

Baca juga : Larangan Cantrang Ditunda, Nelayan Beri Nama Bayinya Putri Cantrang

Kompas TV Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menyatakan penggunaan cantrang yang kini kembali diperbolehkan juga ada batasannya dan tidak sembarangan.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bayi 6 Hari Positif Covid-19 dan Disebut Kasus Pertama di Indonesia

Bayi 6 Hari Positif Covid-19 dan Disebut Kasus Pertama di Indonesia

Regional
Di Jatim, Anak Tenaga Kesehatan yang Tangani Covid-19 Bebas Masuk SMA Negeri

Di Jatim, Anak Tenaga Kesehatan yang Tangani Covid-19 Bebas Masuk SMA Negeri

Regional
38 Warga Keracunan usai Santap Nasi Kuning di Acara Ulang Tahun

38 Warga Keracunan usai Santap Nasi Kuning di Acara Ulang Tahun

Regional
[POPULER NUSANTARA] Ayah Setubuhi 2 Anaknya hingga Hamil | Polisi Ketakutan Dipeluk Keluarga Pasien Covid-19

[POPULER NUSANTARA] Ayah Setubuhi 2 Anaknya hingga Hamil | Polisi Ketakutan Dipeluk Keluarga Pasien Covid-19

Regional
Usir Petugas Ber-APD yang Jemput PDP Kabur, Warga: Balik, di Sini Tak Ada Corona!

Usir Petugas Ber-APD yang Jemput PDP Kabur, Warga: Balik, di Sini Tak Ada Corona!

Regional
Bupati Wonogiri: Kami Sudah Zero Covid-19

Bupati Wonogiri: Kami Sudah Zero Covid-19

Regional
Saat Karya Imelda Adams Seniman Asal Cilegon Tampil di Akun Resmi Instagram

Saat Karya Imelda Adams Seniman Asal Cilegon Tampil di Akun Resmi Instagram

Regional
Dihantam Kereta dan Terseret 30 Meter, Honda Jazz Ringsek, Sopir Lecet-lecet

Dihantam Kereta dan Terseret 30 Meter, Honda Jazz Ringsek, Sopir Lecet-lecet

Regional
Tenaga Medis Covid-19 Diintimidasi hingga Trauma, Ganjar: Siapa yang Mengancam?

Tenaga Medis Covid-19 Diintimidasi hingga Trauma, Ganjar: Siapa yang Mengancam?

Regional
Buntut Rencana Diskusi CLS UGM, Penyelenggara dan Narasumber Mendapat Teror dan Ancaman Pembunuhan

Buntut Rencana Diskusi CLS UGM, Penyelenggara dan Narasumber Mendapat Teror dan Ancaman Pembunuhan

Regional
Diduga Unggah Gambar Mirip Logo PKI di Instagram, Seorang Pria di Jambi Ditangkap Polisi

Diduga Unggah Gambar Mirip Logo PKI di Instagram, Seorang Pria di Jambi Ditangkap Polisi

Regional
Detik-detik Honda Jazz Tertabrak Kereta Api di Grobogan, Pengemudi Selamat meski Mobil Ringsek

Detik-detik Honda Jazz Tertabrak Kereta Api di Grobogan, Pengemudi Selamat meski Mobil Ringsek

Regional
BIN Gelar Rapid Test Massal di Kawasan Zona Merah Surabaya, 153 Orang Reaktif

BIN Gelar Rapid Test Massal di Kawasan Zona Merah Surabaya, 153 Orang Reaktif

Regional
Pasien Positif Covid-19 di Sulut Bertambah 17, Terbanyak dari Klaster Pasar Pinasungkulan Manado

Pasien Positif Covid-19 di Sulut Bertambah 17, Terbanyak dari Klaster Pasar Pinasungkulan Manado

Regional
Pilkada Diundur, Bakal Cagub Sumbar Siapkan Dana Ekstra sampai Rp 50 Miliar

Pilkada Diundur, Bakal Cagub Sumbar Siapkan Dana Ekstra sampai Rp 50 Miliar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X