Kompas.com - 03/10/2017, 09:13 WIB
|
EditorCaroline Damanik

PADANG, KOMPAS.com - Bicara soal batik kini tak hanya bicara soal Pulau Jawa. Hampir seluruh daerah di Nusantara juga sudah memiliki batik dengan motif khas masing-masing.

Di Sumatera Barat, misalnya. Batik bahkan menjadi salah satu kelengkapan pakaian adat. Namanya Batik Tanah Liek.

Namanya memang jarang dikenal karena tergerus oleh penggunaan songket dan sulaman dari Sumatera Barat. Batik ini sempat hilang dari peredaran, tidak diproduksi lagi oleh masyarakat sejak Islam masuk ke Minangkabau.

Namun belakangan, batik tanah liek mulai dikenal lagi seiring dengan banyaknya gerai-gerai batik yang menjual batik kuno khas Sumatera Barat ini.

Ahli sejarah dari Universitas Andalas Prof Gusti Asnan menuturkan, hadirnya batik di Sumatera Barat dipengaruhi oleh orang Jawa yang datang dalam jumlah besar ke wilayah Minangkabau sebelum Islam masuk.

Menurut dia, masuknya seni membatik ini sejalan dengan Ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singosari dari Tanah Jawa. Ekspedisi ini juga berhasil membawa Putri Minangkabau ke Tanah Jawa yang melahirkan Raja Aditiawarman, salah satu raja di Pagaruyuang. Pagaruyuang dikenal sebagai pusat pemerintahan di Minangkabau. 

Kembali ke Ekspedisi Malayu, utusan Kerajaan Singosari ini masuk ke Sumatera melalui aliran Sungai Batang Hari Jambi. Yang jika ditelusuri aliran sungai ini menembus wilayah Kabupaten Dharmasraya saat ini. Pasukan ini juga sempat mendirikan kerajaan di Dharmasraya dan dianggap salah satu kerajaan terbesar yang menguasai Pulau Sumatera waktu itu.

"Saat ini Bumi Lansek Manih (sebutan Dharmasraya) dikenal sebagai sentral penghasil batik tanah liek yang produktif di samping Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan," tutur Gusti.

(Baca juga: Batik Tidayu, Harmoni di Singkawang dalam Selembar Kain)

Namun, lanjut Gusti, kejayaan batik ini tidak berlangsung lama karena kuatnya pengaruh Islam di Tanah Minangkabau. Ini diperkirakan terjadi pada akhir abad ke-18.  Masuknya Islam juga turut mempengaruhi corak pakaian masyarakat yang saat itu hanya didominasi pakaian bewarna putih dan hitam.

"Pada waktu itu pakaian bercorak yang lahir dari seni tradisi kreatif dianggap tak lazim. Akibatnya batik tanah liek tidak lagi dikenal hingga berpuluh tahun kemudian," ujarnya.

"Bangun" kembali

Belakangan, batik tanah liek kembali bangun dari mati suri, diperkirakan sejak awal reformasi. Saat itu, ide-ide kreatif dan inovatif bermunculan. Tak hanya itu, keinginan pemerintah daerah untuk memiliki produk khas daerah masing-masing juga turut membangkitkan semangat tradisi di daerah masing-masing.

"Saya lihat Pemerintah Kabupaten Dharmasraya cukup getol memberikan dukungan terhadap batik tanah liek ini," tutur Gusti.

Perajin batik tanah liek saat membuat motif. IstKompas.com/Rahmadhani Perajin batik tanah liek saat membuat motif. Ist
Hal ini diamini oleh Bambang Hermawanto, seorang perajin dan pebisnis batik tanah liek dari Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya.

Pada tahun 2000, pemilik merek Citra Batik ini mencoba menghidupkan kembali semangat pembuatan batik tanah liek ini di tengah masyarakat melalui kegiatan pelatihan.

"Saat Dharmasraya memekarkan diri tahun 2003 lalu, saya membawa batik tanah liek ke Bumi Lansek Manih ini," ucapnya.

Tak hanya menghidupkan kembali produksi batik, dia juga menambahkan satu motif batik yang dikenal dengan motif bunga sawit.

"Hal ini dilatarbelakangi dengan alam Dharmasraya yang dipenuhi kebun sawit," ujarnya.

Kini motif tersebut laku di pasaran dan menjadi ciri khas batik tanah liek Dharmasraya. Bambang tetap memproduksi motif tradisional lain sesuai pesanan, termasuk menerima masukan masyarakat untuk pewarnaan.

"Ada yang menawarkan pada saya lilin madu lebah. Tapi belum saya lihat. Kami cenderung menggunakan pewarna alami, di samping tanah liat yang menjadi ciri khas," ucapnya.

Bangunnya kembali batik kuno ini juga menaikkan harga jual. Kain batik yang dijual Bambang berkisar dari Rp 200.000 hingga Rp 1,5 juta.

Karena peluang bisnis yang menjanjikan. Batik tanah liek juga sudah memasuki rumah-rumah mode di Kota Padang.

Belajar hingga Yogyakarta

Wirda Hanim (62), perajin batik yang meneruskan batik tanah liek dengan merek dagang Citra Monalisa. KOMPAS/M CLARA WRESTI Wirda Hanim (62), perajin batik yang meneruskan batik tanah liek dengan merek dagang Citra Monalisa.
Wirda Hanim, salah satu pelopor pengembangan batik kuno di Kota Padang sejak tahun 1995, menyebutkan, batik asal Sumbar ini dinamakan tanah liek karena menggunakan tanah liek (liat) dalam proses pewarnaannya. Warna tanah liat yang kuning kecoklatan ini akhirnya menjadi warna dasar kain sebelum diberi motif.

Perjalanan Wirda menemukan batik tanah liek ini juga tidak mudah. Awal ketertarikannya terhadap batik ini saat melihat upacara adat di kampung halamannya di Sumanik, Kabupaten Tanah Datar.

Dia melihat batik yang dikenakan para pemuka adat, datuak dan bundo kanduang tersebut sudah lapuk dan robek di sana-sini.

Kain serupa kain lapuk ini pun sudah tidak diproduksi sejak lama. Dengan niat memproduksi kembali batik kuno ini, dia belajar membatik hingga ke Yogyakarta.

(Baca juga: Batik Pesisir Madura yang Berwarna Mencolok dan Menantang)

Usai belajar membatik, kali ini dia harus berusaha keras mencari perpaduan warna yang mirip dengan warna batik tanah liek yang pernah dilihatnya sebelumnya.

Meskipun berhasil membuat perpaduan warna dengan bahan kimia, dia belum puas. Batik yang dihasilkan tidak sama dengan aslinya.

Akhirnya dia kembali ke Kampung Sumanik dan menelusuri proses pembuatannya. Saat itu, baru tahulah dia bahwa pewarnaan batik tanah liek menggunakan getah tumbuh-tumbuhan dan tanah liat.

"Kini namanya sudah dipatenkan menjadi batik tanah liek. Untuk warna digunakan getah gambir, rambutan, pinang, jengkol dan lainnya," ujarnya.

Pembuatannya hampir sama dengan batik pada umumnya, tetapi kain sebelum diberi motif terlebih dahulu direndam dalam air yang sudah dicampur dengan tanah liat. Barulah dibuat motif menggunakan canting dengan model batik tulis.

Setelah motif selesai dibuat, kain lalu diwarnai. Untuk menguatkan warna tanah liek, kain bisa direndam lagi dengan air tanah liat.

Untuk motif, hingga saat ini masih tetap menggunakan motif-motif tradisional yang biasanya juga digunakan untuk ukiran Rumah Gadang, seperti motif itiak pulang patang, kaluak paku, pucuak rabuang, dan lainnya.

Motif ini diambil dari fenomena alam yang terjadi di wilayah Minangkabau dan memiliki filosofi hidup orang Minangkabau. Itiak pulang patang misalnya, diambil dari kebiasaan itik yang berbaris rapi saat akan masuk kandang.

Hal ini melambangkan hubungan mamak atau paman dan kemenakan di Minangkabau. Induk itik sebagai mamak adalah panduan bagi anak itik yang dalam hal ini kemenakan. Dalam kebudayaan Minangkabau, mamak memiliki kewajiban untuk membimbing keponakannya.


 

Kompas TV Fashion show unik ini digelar di jalanan depan Pasar Klewer Solo, Jawa Tengah, Senin (2/10) siang.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menguak Keluh Kesah Warga Mentawir Kaltim akibat Air Sungai Tercemar Bekas Galian Tambang

Menguak Keluh Kesah Warga Mentawir Kaltim akibat Air Sungai Tercemar Bekas Galian Tambang

Regional
Wagub Jabar: Harkitnas Jadi Momentum Bangkitkan Semangat Usai Terpukul Pandemi

Wagub Jabar: Harkitnas Jadi Momentum Bangkitkan Semangat Usai Terpukul Pandemi

Regional
Gawai Adat Dayak: Melihat Manusia sebagai Makhluk Berdimensi Vertikal dan Horizontal

Gawai Adat Dayak: Melihat Manusia sebagai Makhluk Berdimensi Vertikal dan Horizontal

Regional
Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Regional
Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Regional
Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Regional
Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Regional
Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Regional
BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

Regional
Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Regional
Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Regional
Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Regional
Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Regional
Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Regional
KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.