Batik Tulis Celaket dan Toleransi - Kompas.com

Batik Tulis Celaket dan Toleransi

Kontributor Malang, Andi Hartik
Kompas.com - 02/10/2017, 15:18 WIB
Seorang model memperagakan salah satu motif Batik Tulis Celaket (BTC) di atas catwalk di depan Balai Kota Malang untuk memperingati Hari Batik Nasional 2017, Senin (2/10/2017)KOMPAS.com / Andi Hartik Seorang model memperagakan salah satu motif Batik Tulis Celaket (BTC) di atas catwalk di depan Balai Kota Malang untuk memperingati Hari Batik Nasional 2017, Senin (2/10/2017)

MALANG, KOMPAS.com - Para model itu tampil memukau di atas catwalk sederhana di depan Balai Kota Malang, Senin (2/10/2017). Tubuh tinggi semampainya terbalut batik khas Malang atau biasa disebut dengan Batik Tulis Celaket (BTC).

Dengan diiringi musik gamelan dan tari - tarian khas Malang, para model itu menampilkan batik yang dipakainya ke hadapan para mahasiswa dan pejabat yang tengah memperingati Hari Batik Nasional 2017.

Sejumlah turis asing yang tengah berwisata ke Malang juga dibikin terpukau oleh penampilan model berbalut batik itu. Sebagian dari mereka memilih untuk mengabadikannya dengan kameranya, sebagian lainnya ada yang ikut naik ke atas catwalk dan ikut menari mengiringi musik gamelan.

Selain menampilkan sejumlah batik khas Malang, para peserta peringatan Hari Batik juga mendeklarasikan toleransi dunia. Ada lima poin yang disuarakan dalam deklarasi tersebut. Poin terakhir adalah menjaga dan memperjuangkan kehidupan yang harmonis tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras dan golongan.

Baca juga: Harmoni Sulaman Karawo dan Batik di Gorontalo

Anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka mengatakan, batik memiliki banyak warna yang menjadi harmoni. Hal itu selaras dengan makna toleransi, yakni memadukan perbedaan dan menjadikannya indah.

"Kita bisa mengorganisasi banyak anak muda lintas organisasi, juga dari berbagai agama, suku, ras dan golongan juga para pimpinan agama untuk sama - sama bahwa tanggal 2 Oktober itu bukan hanya sebagai hari batik, tetapi batik sebagai simbol toleransi dunia," katanya.

"Karena di dalam batik itu ada kedalaman dan penghayatan bagaimana warna - warna bisa berharmoni," sebut politisi PDI Perjuangan itu.

Tidak sekedar itu, setiap daerah yang memiliki motif batik khas dan berbeda - beda motif menunjukkan keragaman yang tersimpan di Indonesia. Batik itu berkembang dengan motifnya masing - masing dan menjadi penghidupan bagi warganya.

"Setiap daerah di Indonesia memiliki batik yang itu tidak perlu berantem dengan coraknya masing - masing dan memberikan kehidupan ekonomi bagi banyak orang," sebutnya.

Namun demikian, industri batik di Indonesia harus mendapat perhatian dari pemerintah. Apalagi, rata - rata batik di Indonesia dihasilkan oleh sektor usaha kecil menengah. Pemerintah ucap Rieke, harus lebih serius mendorong pertumbuhan usaha batik.

Sejumlah model memperagakan salah satu motif Batik Tulis Celaket (BTC) di atas catwalk di depan Balai Kota Malang untuk memperingati Hari Batik Nasional 2017, Senin (2/10/2017)KOMPAS.com / Andi Hartik Sejumlah model memperagakan salah satu motif Batik Tulis Celaket (BTC) di atas catwalk di depan Balai Kota Malang untuk memperingati Hari Batik Nasional 2017, Senin (2/10/2017)
Sementara itu Wakil Wali Kota Malang, Sutiaji mengatakan, batik mampu mengangkat ekonomi kerakyatan. Ia berharap keberadaan sentra batik di Kota Malang akan terus berkembang.

"Batik ini kan mengangkat ekonomi kerakyatan. Kita punya harapan tinggi kepada sentra - sentra industri," katanya.

Pencetus Batik Tulis Celaket, Hanan Jalil mengatakan, dalam setiap motif batik tersimpan makna toleransi. Yakni melalui perpaduan model torehan dan warna yang ada pada setiap motif.

"Batik itu sejatinya sangat toleran. Motif apapun yang ditorehkan pada kain itu sudah menunjukkan keberagaman. Mereka yang terjadi adalah harmoni yang berujung pada keindangan. Sehingga tidak salah kalau mengusung batik sebagai lambang toleransi antar bangsa," jelasnya.

Baca juga: Hari Batik, Seratusan Anak TK di Kendal Membatik di Atas Kertas

Bangkit lagi

Perjalanan Batik Tulis Celaket (BTC) tidak mulus. Banyak rintangan yang harus dilalui. Terutama pengaruh perekonomian Indonesia yang membuatnya sempat bangkrut dan bangkit lagi.

Berawal pada tahun 1997 saat Hanan Jalil mulai fokus mengembangkan Batik Tulis Celaket. Sejak saat itu, ia mengangkat Batik Tulis Celaket sebagai branding dari produksinya.

Celaket sendiri merupakan nama kampung di Kecamatan Klojen, Kota Malang. Di kampung itu, Hanan menggagas munculnya batik khas Malang dan diberi nama Batik Tulis Celaket (BTS).

Hanan menyebut, di Kampung Celaket pernah berdiri Kerajaan Pamulang dengan Raja Empu Sindok pada tahun 927 masehi. Sehingga dengan adanya sejarah itu, Hanan berkeyakinan bahwa di kampung itu memiliki potensi untuk menjadi industri tenun kain.

Namun pada tahun 1998 usahanya bangkrut. Keterpurukan ekonomi menyebabkan usaha Batik Tulis Celaket itu harus gulung tikar. "Bangkrut karena tidak ada keberpihakan penguasa," katanya.

Kendati demikian, upaya Hanan untuk memunculkan batik khas Malang belum surut. Pada tahun 2000, dia memulai lagi usahanya.

Nasib yang sama terjadi pada tahun 2003. Hanan kembali mengalami kebangkrutan. Setahun kemudian ia memulai lagi dan bertahan hingga saat ini.

Ada banyak motif yang dimiliki oleh Batik Tulis Celaket. Setiap motif menggambarkan kondisi sosial, ekonomi, politik dan geografis Malang.

"Apa yang dilihat dan yang didengar di Malang kita batik. Bunga teratai, ada tugu kita pakai tugu, ada singa pakai singa," katanya.

Untuk menghasilkan motif yang beragam, Hanan membebaskan setiap karyawannya untuk berkreasi membikin motif tersendiri. Namun tidak boleh keluar dari kekhasan yang dimiliki Malang.

Kompas TV Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan

PenulisKontributor Malang, Andi Hartik
EditorErlangga Djumena

Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM