Curhat Pengungsi Afghanistan di Batam, Mimpi Buruk dan Terbayang Wajah Keluarga

Kompas.com - 23/08/2021, 18:49 WIB
Ilustrasi pengungsi Shutterstock.comIlustrasi pengungsi

BATAM, KOMPAS.com - Kondisi Afghanistan yang saat ini dikuasai oleh Taliban, membuat sejumlah pencari suaka memilih untuk tetap berada di Indonesia.

Seperti Muhammad Reza dan Muhammad Zia, dua warga Afghanistan yang mencari suaka di Batam, Kepulauan Riau, sejak 2014 lalu.

Sejak tiba di Batam bersama dengan beberapa pencari suaka lain, kedua pria tersebut berada dalam pengawasan penuh petugas Kementerian Hukum dan HAM, Imigrasi, dan tercatat sebagai pengungsi oleh Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).

Baca juga: Ke Mana Pengungsi Afghanistan Pergi Setelah Negara Dikuasai Taliban?

Hingga saat ini, mereka masih berada di gedung non-detensi di Jalan RE Martadinata, Sekupang, Batam, Kepri.

Saat dihubungi melalui telepon, kedua pengungsi ini awalnya enggan bercerita.

Namun, mereka akhirnya mau menceritakan bagaimana perasaan mereka saat mengetahui bahwa saat ini pasukan Taliban telah berkuasa penuh di negara asalnya.

Muhammad Zia merasa kecewa dengan Pemerintah Afganistan di bawah kepemimpinan Ashraf Ghani.

Dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, ia mengatakan bahwa Pemerintah Afghanistan juga tidak peduli dengan nasib rakyatnya.

Tidak hanya presiden, seluruh pejabat negara Afghanistan itu malah kabur dengan membawa uang, beserta keluarga mereka.

“Sejak Taliban menyatakan berkuasa, saya selalu mengikuti pemberitaan. Saya selalu memikirkan keluarga yang masih ada di sana, dan saat ini pasti sulit keluar seperti saya, karena seluruh akses sudah dikuasai pasukan Taliban," kata Zia kepada Kompas.com, Senin (23/8/2021).

"Saya pastikan pemerintah tentunya tidak akan peduli dengan hal itu," tambah Zia.

Baca juga: Setidaknya 28.000 Orang Dievakuasi dari Afghanistan, ke Mana Mereka Akan Pergi?

Menurut Zia, saat mengetahui Taliban sudah menguasai pemerintahan, wajah adik-adik perempuannya selalu terbayang di kepala.

"Kabar mengenai Taliban berkuasa kini kembali menghantui tidur saya. Di mana beberapa malam terakhir, saya sering terbangun saat bermimpi pegang senjata," kata Zia.

Zia mengatakan, dalam situasi seperti sekarang, etnis Hazarah yang merupakan suku aslinya pasti menjadi pihak yang akan sangat dirugikan saat ini.

Zia khawatir dengan nasib ketiga adik perempuannya yang kini tengah memasuki masa perkuliahan.

Dia takut ketiga adiknya diperkosa, bahkan dibunuh oleh anggota Taliban.

"Orangtuaku sudah tua, jadi kemungkinan untuk disakiti Taliban itu kecil. Tetapi adik-adik perempuanku masih muda, aku khawatir akan nasib mereka, masa depan mereka. Mereka harusnya kuliah dan belajar, karena suatu saat akan menjadi orang besar. Harapan itu pupus selama Taliban ada di Afghanistan," ujar Zia.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kronologi Lengkap Pengepul Beras Dibunuh Istri dan Kekasih Gelapnya, Kode Mengetuk Jendela dan Rencana Menikah

Kronologi Lengkap Pengepul Beras Dibunuh Istri dan Kekasih Gelapnya, Kode Mengetuk Jendela dan Rencana Menikah

Regional
Polisi Duga Istri Terduga Bandar Judi Karang Cerita Perkosaan, Rekaman CCTV Jadi Bukti

Polisi Duga Istri Terduga Bandar Judi Karang Cerita Perkosaan, Rekaman CCTV Jadi Bukti

Regional
Eks Kapolres OKU Timur Diduga Terima Suap Saat Jabat Kasubdit Tipikor Polda Sumsel

Eks Kapolres OKU Timur Diduga Terima Suap Saat Jabat Kasubdit Tipikor Polda Sumsel

Regional
Imlek di Kota Solo, Tak Ada Festival Hanya Pasang Lampion

Imlek di Kota Solo, Tak Ada Festival Hanya Pasang Lampion

Regional
Gara-gara Ubah Nama Jalan, Bupati Kebumen Disomasi Warga

Gara-gara Ubah Nama Jalan, Bupati Kebumen Disomasi Warga

Regional
Bupati Aceh Tenggara Pecat Kepala Baitul Mal yang Diduga Perkosa Santri

Bupati Aceh Tenggara Pecat Kepala Baitul Mal yang Diduga Perkosa Santri

Regional
3 Bunga Nasional Indonesia serta Maknanya: Puspa Bangsa, Puspa Pesona, dan Puspa Langka

3 Bunga Nasional Indonesia serta Maknanya: Puspa Bangsa, Puspa Pesona, dan Puspa Langka

Regional
Bentrokan yang Tewaskan 18 Korban di Sorong Dipicu Kesalahpahaman

Bentrokan yang Tewaskan 18 Korban di Sorong Dipicu Kesalahpahaman

Regional
KPK Kembali Periksa 13 Saksi Kasus Dugaan Korupsi Proyek Jalan di Buru Selatan

KPK Kembali Periksa 13 Saksi Kasus Dugaan Korupsi Proyek Jalan di Buru Selatan

Regional
Eks Kapolres OKU Timur Sumsel AKBP Dalizon Ditahan Mabes Polri Terkait Suap Anak Alex Noerdin

Eks Kapolres OKU Timur Sumsel AKBP Dalizon Ditahan Mabes Polri Terkait Suap Anak Alex Noerdin

Regional
Ada 108 Kasus Probable Omicron di Banten, Kadinkes: Tersebar di Semua Wilayah

Ada 108 Kasus Probable Omicron di Banten, Kadinkes: Tersebar di Semua Wilayah

Regional
Kecelakaan Beruntun di Blora, Bayi Berusia 4 Bulan Tewas

Kecelakaan Beruntun di Blora, Bayi Berusia 4 Bulan Tewas

Regional
Kasus Investasi Bodong Rp 84,9 Miliar di Pekanbaru, Ini Pendapat Ahli

Kasus Investasi Bodong Rp 84,9 Miliar di Pekanbaru, Ini Pendapat Ahli

Regional
Sidang Perdana, Bupati Nonaktifkan Kolaka Timur Didakwa Melakukan Korupsi

Sidang Perdana, Bupati Nonaktifkan Kolaka Timur Didakwa Melakukan Korupsi

Regional
Polisi Gagalkan Penyelundupan 150 Kg Sabu dari Malaysia, 6 Orang Ditangkap

Polisi Gagalkan Penyelundupan 150 Kg Sabu dari Malaysia, 6 Orang Ditangkap

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.