Tak Ada Listrik dan Internet, Ini Kisah Anak-anak Suku Talang Mamak Belajar Saat Pandemi

Kompas.com - 09/11/2020, 12:04 WIB
Murid SDN 028 dari anak-anak Suku Talang Mamak sedang duduk-duduk di depan sekolahnya sebelum pulang ke rumah di Desa Talang Sungai Limau, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Inhu, Riau, Senin (2/11/2020). KOMPAS.COM/IDONMurid SDN 028 dari anak-anak Suku Talang Mamak sedang duduk-duduk di depan sekolahnya sebelum pulang ke rumah di Desa Talang Sungai Limau, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Inhu, Riau, Senin (2/11/2020).

 

Menembus hutan untuk sampai ke sekolah

Setiap harinya, anak-anak Suku Talang Mamak menembus hutan untuk sampai ke sekolahnya.

Jarak rumah mereka dari sekolah bervariasi, ada yang jauh dan ada pula yang dekat. Sebab, anak-anak pedalaman ini tinggal secara terpencar-pencar di dalam hutan.

Andra Brekbon salah satunya. Bocah 10 tahun ini jalan kaki lebih kurang dua kilometer untuk pergi menuntut ilmu ke sekolahnya.

"Biasanya saya jam enam pagi sudah berangkat dari rumah. Sampai ke sekolah jam tujuh pagi," kata Andra saat diwawancarai Kompas.com.

Ia mengaku pergi ke sekolah tidak seorang diri, tapi pergi berombongan.

Rumah Andra lebih dekat dari sekolah dibandingkan rumah teman-temannya. Sehingga, ia menunggu temannya terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya tunggu teman-temannya dulu. Biasanya kami 12 orang satu rombongan. Kami ke sekolah jalan kaki," ujar Andra.

Ia dan teman-temannya tak jarang melepas sepatu pergi sekolah. Karena, mereka menempuh jalan tanah berlumpur disaat musim hujan dan juga melewati anak sungai.

Saban hari, cerita Andra, ia dan teman-temannya bertemu dengan seekor ular berukuran besar melintang di jalan. Mereka tak begitu ketakutan, karena sudah biasa melihat hewan buas di hutan.

Waktu itu ia pergi ke sekolah melewati jalan pintas dalam hutan dengan kayu-kayu yang besar.

"Waktu itu musim hujan jalan banyak lumpur, jadi kami lewat jalan pintas dalam hutan. Kami kaget ketemu ular besar. Kami tak berani lewat sebelum ular itu pergi," cerita Andra.

Kalau ada uang jajan kami bersyukur, kalau tidak tak mengapa

Rata-rata anak Suku Talang Mamak pergi ke sekolah berjalan kaki. Hanya beberapa orang saja yang diantar orangtuanya ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor atau sepeda dayung.

"Orangtua kami pagi-pagi sudah pergi kerja. Ada yang menyadap karet dan kerja di kebun sawit orang," sebut murid kelas empat SD ini.

Saat ditanya soal uang jajan ke sekolah, Andra mengaku cuma sesekali dikasih uang sama ayah dan ibunya.

Setiap ke sekolah, ia kadang membawa uang Rp 2.000 buat belanja di kantin depan sekolah.

"Ya, orangtua kami di sini banyak kurang mampu. Kerja cuma bertani dan cari ikan. Kalau ada uang jajan kami bersyukur, tapi kalau tidak ada tak apa-apa," ujar Andra.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bertemu Ganjar, Dubes Denmark: Kami Tertarik Investasi di Jateng

Bertemu Ganjar, Dubes Denmark: Kami Tertarik Investasi di Jateng

Regional
Bersihkan Pesisir Mattiro Sompe, Sulsel, Dompet Dhuafa Kumpulkan 1,2 Ton Sampah

Bersihkan Pesisir Mattiro Sompe, Sulsel, Dompet Dhuafa Kumpulkan 1,2 Ton Sampah

Regional
Kiat Bupati Dharmasraya Turunkan PPKM ke Level 2, dari Vaksinasi Door-to-Door hingga Gerakan 3T

Kiat Bupati Dharmasraya Turunkan PPKM ke Level 2, dari Vaksinasi Door-to-Door hingga Gerakan 3T

Regional
Pemkot Madiun Gelar Vaksinasi untuk 750 Narapidana

Pemkot Madiun Gelar Vaksinasi untuk 750 Narapidana

Regional
Rumah Jagal Anjing di Bantul Digerebek Polisi, 18 Ekor Dievakuasi, Ini Kronologinya

Rumah Jagal Anjing di Bantul Digerebek Polisi, 18 Ekor Dievakuasi, Ini Kronologinya

Regional
Orasi di STIM Budi Bakti, Ketua Dompet Dhuafa Minta Mahasiswa Punya 4 Karakter Profetik

Orasi di STIM Budi Bakti, Ketua Dompet Dhuafa Minta Mahasiswa Punya 4 Karakter Profetik

Regional
Dijadikan Syarat PTM, Vaksinasi Pelajar di Kota Madiun Sudah Capai 90 Persen

Dijadikan Syarat PTM, Vaksinasi Pelajar di Kota Madiun Sudah Capai 90 Persen

Regional
Kisah Kuli Bangunan di Lampung Utara yang Wakafkan Upahnya untuk Bangun Masjid

Kisah Kuli Bangunan di Lampung Utara yang Wakafkan Upahnya untuk Bangun Masjid

Regional
Vaksinasi di Madiun Capai 77 Persen, Wali Kota Maidi: Akhir September Bisa 80 Persen

Vaksinasi di Madiun Capai 77 Persen, Wali Kota Maidi: Akhir September Bisa 80 Persen

Regional
Soal APBD Rp 1,6 Triliun di Bank, Bobby: Segera Dimaksimalkan untuk Gerakkan Ekonomi Medan

Soal APBD Rp 1,6 Triliun di Bank, Bobby: Segera Dimaksimalkan untuk Gerakkan Ekonomi Medan

Regional
Masjid Az Zahra di Lampung Utara Resmi Dibangun, Dompet Dhuafa Gelar Peletakan Batu Pertama

Masjid Az Zahra di Lampung Utara Resmi Dibangun, Dompet Dhuafa Gelar Peletakan Batu Pertama

Regional
Kejar Herd Immunity, Bupati IDP Optimistis Vaksinasi di Luwu Utara Capai 90 Persen

Kejar Herd Immunity, Bupati IDP Optimistis Vaksinasi di Luwu Utara Capai 90 Persen

Regional
Dongkrak Perekonomian Kota Madiun, PKL Akan Dapat Pembinaan Khusus

Dongkrak Perekonomian Kota Madiun, PKL Akan Dapat Pembinaan Khusus

Regional
Lewat Kepiting Bakau, Pembudidaya di Konawe Raih Cuan hingga Rp 352 Juta

Lewat Kepiting Bakau, Pembudidaya di Konawe Raih Cuan hingga Rp 352 Juta

Regional
Berkat Proyek Investasi Pabrik Minyak Goreng Sawit, Luwu Utara Raih Juara 2 SSIC 2021

Berkat Proyek Investasi Pabrik Minyak Goreng Sawit, Luwu Utara Raih Juara 2 SSIC 2021

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.