Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (2)

Kompas.com - 27/10/2020, 07:45 WIB
Salah seorang anggota kelompok tani Berkat Usaha memanen cabai rawit yang berbuah lebat berkat pupuk kascing yang dihasilkan dari budidaya cacing merah di Kelurahan Ukui, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, Sabtu (24/10/2020). KOMPAS.COM/IDONSalah seorang anggota kelompok tani Berkat Usaha memanen cabai rawit yang berbuah lebat berkat pupuk kascing yang dihasilkan dari budidaya cacing merah di Kelurahan Ukui, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, Sabtu (24/10/2020).

PEKANBARU, KOMPAS.com - Usaha budidaya cacing merah digeluti Ramin sejak tahun 2019 lalu. Usaha ini ia dapati dari bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina EP Asset 1 Lirik Field.

Ia waktu itu diberi pelatihan dan pemahaman tentang budidaya cacing merah.

Budidaya cacing merah ini pun memberikan keuntungan ganda, yakni bisa jadi kompos dan bisa dijual untuk menghasilkan uang. 

Ramin bercerita, sebelum adanya kotoran cacing yang dijadikan pupuk di lahan pertanian, kata dia, kelompok taninya hanya menggunakan pupuk kandang yang di fermentasi.

Menurut Ramin, pembuatan fermentasi pupuk kandang prosesya cukup memakan waktu hingga dua bulan.

Pupuk kotoran cacing lebih subur

Namun, dengan reaktor cacing, prosesnya lebih cepat menjadikan pupuk.

Ramin sebagai ketua kelompok tani Berkat Usaha, kini memiliki lahan pertanian seluas dua hektar. Sekitar satu kilometer dari rumahnya.

Tanah itu adalah miliknya. Dulunya, tanah itu berisi tanaman karet sebagai mata pencaharian.

Namun, harga karet yang anjlok di tengah pandemi Covid-19, ia menebang semua pohon karetnya.

Baca juga: Bangkit dari Kelumpuhan, Maridi Mampu Hidupi Keluarga dengan Kerupuk Buatannya

"Kami menggarap lahan pertanian ini sejak bulan Juni 2020 lalu. Di dalamnya ada cabai rawit, tomat, pepaya, ubi kayu, cabai merah, terong, kacang panjang, tanaman naga dan tanaman palawija lainnya. Alhamdulillah, sebagian besar sudah kami rasakan hasilnya," ucap Ramin.

Suami Saliyem (50) ini mengaku dalam seminggu hasil panen cabai merah dan cabai rawit lima sampai sepuluh kilogram.

Hasil pertanian dijual dan juga buat kebutuhan sehari-hari anggota kelompok tani.

"Kalau uang hasil panen cabai ada Rp 400.000 hingga Rp 500.000 perminggu. Ya, namanya usaha kami masih baru sekitar empat bulan. Tapi, setidaknya kebutuhan sayur kami tak beli lagi," ujar Ramin seraya bersyukur.

Baca juga: 400 Petani di Kebumen Beralih Gunakan Mesin Pompa Air Berbahan Bakar Gas Elpiji 3 Kg

Lebih cepat panen

Namun, kata dia, perkembangan tanaman di lahan pertanian itu sangatlah cepat setelah menggunakan pupuk kascing atau kotoran cacing yang diurai cacing merah dari kotoran sapi.

Seperti misalnya cabe, dalam waktu dua bulan sudah bisa panen.

Kompas.com berkesempatan melihat langsung lahan pertanian yang digarap kelompok tani Berkat Usaha.

Lahan ini berada di areal perbukitan. Di sekelilingnya terdapat kebun sawit dan karet sejauh mata memandang.

Di dalam lahan itu, di tengahnya dibuat sebuah pondok dari papan. Di sekelilingnya terdapat puluhan jenis tanaman lunak yang nampak tumbuh dengan subur. Buah cabai dan terong begitu lebat, meski ukuran batangnya baru sekitar 40 sentimeter.

Begitu juga dengan tanaman naga. Kata Ramin, dalam dua bulan sudah berukuran dua meter lebih. Menurutnya, sekitar empat sampai lima bulan lagi akan berbuah.

Lahan ini dijaga siang dan malam. Beberapa anggota kelompok tani tidur di ladang itu.

Baca juga: Kisah Aisyah Racik Minuman Sehat Ramuan Ibu, Mampu Buka Lapangan Kerja Saat Pandemi hingga Bantu Petani Karet

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Ayah Angkat Bocah 8 Tahun yang Konsumsi Susu Campur Narkoba sejak Bayi: Dia Pusing Jika Tak Mencuri

Cerita Ayah Angkat Bocah 8 Tahun yang Konsumsi Susu Campur Narkoba sejak Bayi: Dia Pusing Jika Tak Mencuri

Regional
Cerita Warga Malang Kehilangan Ratusan Juta, Modus Pulsa Gratis hingga Diminta Sebut OTP

Cerita Warga Malang Kehilangan Ratusan Juta, Modus Pulsa Gratis hingga Diminta Sebut OTP

Regional
Cerita Ibu Laporkan Anaknya Sendiri, Emas yang Dipersiapkan Untuk Kuliah Dicuri, Dipakai Foya-foya Bersama Pacar

Cerita Ibu Laporkan Anaknya Sendiri, Emas yang Dipersiapkan Untuk Kuliah Dicuri, Dipakai Foya-foya Bersama Pacar

Regional
Sudah 2 Bulan Luwu Gelar Sekolah Tatap Muka, Jumlah Siswa Dibatasi 50 Persen

Sudah 2 Bulan Luwu Gelar Sekolah Tatap Muka, Jumlah Siswa Dibatasi 50 Persen

Regional
Nikahkan Putrinya di Mushala Polsek, Tersangka Pencurian Tak Kuasa Menahan Tangis

Nikahkan Putrinya di Mushala Polsek, Tersangka Pencurian Tak Kuasa Menahan Tangis

Regional
Tertipu Modus Pulsa Gratis, Perempuan Ini Kehilangan Uang Ratusan Juta Rupiah

Tertipu Modus Pulsa Gratis, Perempuan Ini Kehilangan Uang Ratusan Juta Rupiah

Regional
Pukat UGM soal KPK Tangkap Menteri Edhy: Tangkapan yang Signifikan

Pukat UGM soal KPK Tangkap Menteri Edhy: Tangkapan yang Signifikan

Regional
Klaim 80 Persen SMA/SMK Siap Gelar Belajar Tatap Muka, Disdik Papua: Harus Banyak OPD Terlibat

Klaim 80 Persen SMA/SMK Siap Gelar Belajar Tatap Muka, Disdik Papua: Harus Banyak OPD Terlibat

Regional
Tercatat 74 Kasus Positif Covid-19 Baru di NTT, Paling Banyak di Kota Kupang

Tercatat 74 Kasus Positif Covid-19 Baru di NTT, Paling Banyak di Kota Kupang

Regional
Debat Pilkada Karawang Soal Atasi Kemiskinan, Ada Paslon yang Mau Bangun 'Silicon Valley' hingga Tawarkan Kartu Kewirausahaan

Debat Pilkada Karawang Soal Atasi Kemiskinan, Ada Paslon yang Mau Bangun "Silicon Valley" hingga Tawarkan Kartu Kewirausahaan

Regional
25 Petugas Sortir dan Lipat Surat Suara di Solo Diupah Rp 225.000

25 Petugas Sortir dan Lipat Surat Suara di Solo Diupah Rp 225.000

Regional
Kadisdik Jatim Belum Cuti meski Istrinya Maju Pilkada, Inspektorat: Gubernur Sudah Mengingatkan

Kadisdik Jatim Belum Cuti meski Istrinya Maju Pilkada, Inspektorat: Gubernur Sudah Mengingatkan

Regional
Ribuan Buruh Cianjur Unjuk Rasa Tuntut Kenaikan UMK 2021

Ribuan Buruh Cianjur Unjuk Rasa Tuntut Kenaikan UMK 2021

Regional
Nenek Rasiti Rela Serahkan Naskah hingga Tongkat Kuno Warisan Keluarganya ke Pemerintah

Nenek Rasiti Rela Serahkan Naskah hingga Tongkat Kuno Warisan Keluarganya ke Pemerintah

Regional
Hendak Melaut, 2 Nelayan Ini Tersambar Petir, Satu Tewas

Hendak Melaut, 2 Nelayan Ini Tersambar Petir, Satu Tewas

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X