Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fakta Adik Mantan Wali Kota Tanam 45 Pohon Ganja di Polybag untuk Penelitian Pupuk Organik dan Konsumsi Pribadi

Kompas.com - 21/10/2020, 10:59 WIB
Rachmawati

Editor

KOMPAS.com - Muslim (50), adik kandung mantan Wali Kota Serang Bunyamin, diamankan polisi karena menanam 45 pohon ganja pada Selasa (20/10/2020).

Ia menanam puluhan pohon ganja tersebut di rumah orangtuanya di Kampung Cisirih, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya.

Rumah tersebut adalah rumah masa kecil Muslim dan keluarganya. Muslim dikenal sebagai ahli pupuk untuk tanaman durian dan mengurus ayam jago aduan.

Baca juga: Adik Mantan Wali Kota Serang Tanam 45 Batang Ganja di Polybag untuk Uji Pupuk Racikan

Di rumah tersebut, Muslim juga menggunakan tanaman ganja sebagai penelitian budidaya racikan pupuk organik miliknya.

Sementara itu, hasil panen ganja akan ia pakai sendiri dan dijual di rekan-rekannya di lapak adu ayam jago di sekitar Tasikmalaya Utara.

Konsumsi ganja sejak remaja

Rumah orang tua mantan Wali Kota Serang, Almarhum Bunyamin, di Kampung Cisirah, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, dijadikan sarang budidaya tanaman ganja digerebek oleh BNN Kota Tasikmalaya, Selasa (20/10/2020).KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA Rumah orang tua mantan Wali Kota Serang, Almarhum Bunyamin, di Kampung Cisirah, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, dijadikan sarang budidaya tanaman ganja digerebek oleh BNN Kota Tasikmalaya, Selasa (20/10/2020).
Kepada Kompas.com, Muslim bercerita bahwa ia sudah mengonsumsi ganja sejak masih remaja. Kala itu, ia masih tinggal di Tangerang bersama sang kakak, Bunyamin, dan keluarga besarnya.

Sang kakak, mantan Wali Kota Serang, meninggal dunia pada tahun 2011.

Muslim kemudian bercerai dengan sang istri dan memilih pulang ke Tasikmalaya, kemudian tinggal di rumah peninggalan orangtuanya hingga ia diciduk karena kedapatan membudidayakan pohon ganja.

Baca juga: Pria yang Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumahnya Ternyata Adik Kandung Mantan Wali Kota Serang

"Saya memang lama tinggal di Tangerang. Saya bersama keluarga besar dibawa oleh kakak. Saya cerai dengan istri di sana dan memilih kembali ke Tasikmalaya, ke rumah ini. Saya ada anak punya satu dan sekarang belajar di pesantren," tambah Muslim.

Muslim mengaku, dirinya sering memberi ganja secara cuma-cuma kepada teman-teman di rumahnya. Muslim mengatakan, teman-temannya itu yang selama ini membantunya dalam membudidayakan ganja tersebut.

"Kata siapa saya sembunyi-sembunyi, sejak dulu saya budidaya ganja ini. Saya siap bertanggung jawab dan jangan bawa-bawa orang lain dekat saya untuk ditangkap. Biar saya saja yang bertanggung jawab. Kalau saya jual ke tempat-tempat lokasi adu ayam dan memang keluar kota juga," ujar Muslim.

Baca juga: Lokasi Budidaya Ganja di Polybag Ternyata Rumah Orangtua Mantan Wali Kota Serang

Petugas BNN Kota Tasikmalaya, menunjukkan hasil bibit budidaya ganja dan 45 batang pohon ganja yang tertanam di polybag saat penggerebekan rumah di Kampung Cisirah, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (20/10/2020) kemarinKOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA Petugas BNN Kota Tasikmalaya, menunjukkan hasil bibit budidaya ganja dan 45 batang pohon ganja yang tertanam di polybag saat penggerebekan rumah di Kampung Cisirah, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (20/10/2020) kemarin
Sementara itu, Kepala Desa Cibahayu Erin Nuhrudin membenarkan bahwa Muslim adalah adik mantan Wali Kota Serang.

Ia menjelaskan, Muslim tinggal bersama saudara perempuannya di rumah orangtua mereka di Tasikmalaya. Oleh masyarakat sekitar, Muslim dikenal sebagai petani durian.

"Iya, Kang Muslim adalah adik kandung dari mantan bupati dan Wali Kota Serang Pak Bunyamin yang meninggal tahun 2011 lalu. Selama ini, Kang Muslim dikenal sebagai petani durian di kampung kami. Baru beberapa tahun dia kembali ke Tasikmalaya, setelah lama tinggal di Tangerang," jelas Erin.

Baca juga: Budidaya 45 Batang Ganja di Polybag Bertahun-tahun, Pria Ini Berdalih untuk Penelitian

Menurut dia, dengan pupuk hasil racikannya, Muslim bisa mengembangbiakkan ganja dalam waktu yang cepat.

"Jadi Kang Muslim ini ternyata bisa mengembangbiakkan ganja dalam waktu cepat. Tadi kata petugas BNN, tanaman ganja dua bulan sudah tinggi 1 meter lebih dan berbuah. Ternyata pakai racikan pupuk yang dimilikinya," kata Erin kepada wartawan, Selasa (20/10/2020).

Ia mengatakan, pihaknya sama sekali tak menyangka bahwa salah satu warganya menanam sekaligus menjual narkotika jenis ganja.

Baca juga: Pria di Tasikmalaya Tanam Ganja Puluhan Tahun Pakai Polybag, BNN: Tersangka Mengaku Sudah Memakai Ganja Sejak Kecil

Ditangkap saat tanam ganja di atap belakang rumah

Rumah orangtua mantan Wali Kota Serang, almarhum Bunyamin, di Kampung Cisirah, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, dijadikan sarang budidaya tanaman ganja digerebek oleh BNN Kota Tasikmalaya, Selasa (20/10/2020).KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA Rumah orangtua mantan Wali Kota Serang, almarhum Bunyamin, di Kampung Cisirah, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, dijadikan sarang budidaya tanaman ganja digerebek oleh BNN Kota Tasikmalaya, Selasa (20/10/2020).
Muslim ditangkap saat sedang menanam ganja bersama tiga orang pria lain di atap belakang rumahnya.

Di lokasi, petugas menemukan tanaman ganja dengan tinggi bervariasi, mulai dari 1 meter usia 2 bulan sampai puluhan bibit setinggi 15 sentimeter yang siap untuk disemai ke polybag lainnya.

Menurut Kepala BNN Kota Tasikmalaya Tuteng Budiman, penangkapan Muslim berawal saat petugas mendapatkan sampel hasil penyelidikan dengan cara membeli ganja dari tersangka.

Baca juga: Muslim, Pemilik 45 Pohon Ganja Dikenal Ahli Tanam Ganja dalam Waktu Cepat

Setelah diteliti di laboratorium, terbukti bahwa tanaman yang dijual oleh Muslim adalah ganja.

"Tersangka juga mengaku sudah memakai ganja sejak kecil. Tersangka mengaku menanam ganja sudah puluhan tahun lamanya selama ini," kata Tuteng.

"Mereka juga sering di rumah tersangka memakai barang haram tersebut secara ramai-ramai bersama teman-temannya," kata Tuteng.

Pihak BNN masih terus mengembangkan penyelidikan karena diduga ada lahan yang dijadikan lokasi penanaman ganja dalam skala besar.

Baca juga: Pria Ini Beli Ganja Asal AS Secara Online, Ditanam di Kontrakan Kakaknya

"Kalau tanaman ganjanya berasal dari biji yang diperoleh dari barang yang awalnya dikonsumsi. Terus tanaman yang sudah besar dan berbuah pun dijadikan bibit dan disemai untuk dibesarkan lagi," ujar Tuteng.

Hal senada juga dijelaskan Kepala Seksi Berantas BNN Kota Tasikmalaya, Kompol Deni Syarif. Ia mengatakan, Muslim dikenal sebagai ahli budidaya tanaman dengan racikan pupuk alami.

"Tersangka sesuai pengakuannya memang sudah beberapa tahun ini menanam dan membudidayakan ganja ini. Pupuknya berasal dari racikan kotoran sapi dan domba. Kita amankan semuanya, termasuk peralatannya," kata Deni.

Baca juga: Seorang Pria di Tasikmalaya Puluhan Tahun Tanam Ganja Pakai Polybag

Para tersangka dijerat Pasal 111 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika karena telah menanam ganja selama bertahun-tahun.

"Dengan pasal yang disangkakan, tersangka bisa dijerat maksimal hukuman mati," kata Tuteng.

SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Irwan Nugraha | Editor: Aprillia Ika, Farid Assifa, Abba Gabrillin)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Regional
Komunikasi Politik 'Anti-Mainstream' Komeng yang Uhuyy!

Komunikasi Politik "Anti-Mainstream" Komeng yang Uhuyy!

Regional
Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Regional
Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Regional
Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Regional
Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Regional
Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Regional
Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Regional
Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Regional
BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

Regional
Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Regional
Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di 'Night Market Ngarsopuro'

Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di "Night Market Ngarsopuro"

Regional
Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Regional
Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di 'Rumah' yang Sama...

Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di "Rumah" yang Sama...

Regional
Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com