Pungutan Sekolah di Masa Pandemi, Dilarang Bupati Banyumas, Sekolah Kebingungan

Kompas.com - 10/07/2020, 17:00 WIB
Ilustrasi siswa SD ShutterstockIlustrasi siswa SD

KOMPAS.com- Bupati Banyumas Achmad Husein melarang SD dan SMP negeri di wilayahnya menarik pungutan apapun di masa pandemi.

Namun, larangan itu membuat sejumlah sekolah kebingungan lantaran mereka terlanjur menarik iuran untuk keperluan siswa.

Sedangkan larangan bupati keluar setelah proses PPDB dan daftar ulang selesai.

Baca juga: Ekonomi Terpuruk, Bupati Banyumas: SD dan SMP Negeri Harus Kembalikan Pungutan dari Wali Murid

Bupati Banyumas: larangan termasuk untuk iuran seragam

Bupati Banyumas, Achmad Husein dalam siaran daring di akun instagram pribadi @ir_achmadhusein, Kamis (97/2020).KOMPAS.COM/Tangkapan Layar Instagram Bupati Banyumas, Achmad Husein dalam siaran daring di akun instagram pribadi @ir_achmadhusein, Kamis (97/2020).
Pada Kamis (9/7/2020) lalu, Bupati Banyumas Achmad Husein mengeluarkan larangan mengambil pungutan bagi SD dan SMP di wilayah Banyumas.

Larangan itu ia sampaikan melalui akun instagram pribadi @ir_achmadhusein.

"Iuran atau pungutan dalam bentuk apapun dan untuk alasan apapun dilarang dan tidak diperbolehkan. Termasuk untuk iuran seragam dan lain-lain," kata dia.

Larangan tersebut dikeluarkan lantaran kondisi ekonomi masyarakat mengalami perubahan di masa pandemi Covid-19.

Bupati menilai, dalam keadaan ekonomi terpuruk tidak seharusnya sekolah mengambil pungutan.

Ia pun meminta sekolah yang terlanjur meminta iuran untuk mengembalikan uang tersebut.

"Bilamana ada yang terlanjur membayar maka harus dikembalikan kepada orangtua siswa," kata dia.

Baca juga: Sederet Potret Kemiskinan di Tengah Pandemi, Tak Makan 2 Hari, Jual HP Rp 10.000, dan Nekat Mencuri

Ilustrasi PPDBRONY ARIYANTO NUGROHO Ilustrasi PPDB

Sekolah bingung

Namun rupanya, ada beberapa sekolah di Banyumas yang terlanjur menarik iuran ke wali murid untuk keperluan murid, seperti seragam, atribut serta buku ajar.

Sebab, kebijakan bupati tersebut keluar setelah PPDB dan daftar ulang selesai.

"Karena tidak bisa dibebankan dalam dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) jadi kami pasrahkan kepada musyawarah wali murid dan kesepakatannya seperti ini (ada pungutan)," kata Kepala SMP Negeri 2 Banyumas Edi Priyono.

Sekolah merasa bingung lantaran terlanjur memesan dan mengambil bahan seragam dari rekanan, serta memotongnya sesuai ukuran badan siswa.

Tidak mungkin mengembalikan begitu saja ke rekanan, ia pun meminta pemerintah mengeluarkan solusi.

"Jujur kami bingung mau seperti apa, soalnya kain seragam sudah dipotong jadi tidak bisa dikembalikan ke rekanan, kami berharap pemkab ada kebijakan baru agar sekolah dan pihak rekanan tidak menanggung kerugian,” kata dia.

Meski demikian, Edi berkomitmen akan mengembalikan pungutan ke wali murid sesuai dengan instruksi bupati.

Baca juga: Sederet Cerita PHK karena Corona Berujung Kriminal, Ada yang Tikam Sang Nenek dan Bakar Warung

Pastikan semua sekolah tahu, kawal pengembalian

ilustrasi uangThinkstock ilustrasi uang

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Banyumas Irawati menjelaskan, dinas akan mengawal pengembalian uang pungutan bagi sekolah yang terlanjur melakukannya.

"Instruksi bupati sudah jelas, dikembalikan, kami akan mengawal pelaksanaan di lapangan," tutur Irawati.

Dia juga memastikan, seluruh sekolah telah mengetahui aturan bupati. Sehingga tak ada alasan mereka tetap memungut lantaran tidak tahu.

Keputusan tidak mengambil pungutan itu juga disepakati dalam rapat internal dan rapat video conference dengan kepala SD dan SMP di Banyumas.

"Kami sudah sampaikan sejak awal kepada seluruh sekolah untuk tidak memungut apapun kepada wali murid baru," tutur dia.

Sumber: Kompas.com (Penulis: Kontributor Banyumas, M Iqbal Fahmi | Editor: Khairina)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER NUSANTARA] Jadi Kuasa Hukum dan Gugat Ayahnya Rp 3 Miliar, Masitoh Meninggal | Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur

[POPULER NUSANTARA] Jadi Kuasa Hukum dan Gugat Ayahnya Rp 3 Miliar, Masitoh Meninggal | Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur

Regional
PAN NTB Akan Pecat Kadernya yang Jadi Pelaku Pelecehan Anak Kandung

PAN NTB Akan Pecat Kadernya yang Jadi Pelaku Pelecehan Anak Kandung

Regional
Cerita Arina Pangku Kotak Biru Berisi Vaksin Covid-19, Naik Kapal Penumpang Selama 4 Jam Menuju Pulau Aceh

Cerita Arina Pangku Kotak Biru Berisi Vaksin Covid-19, Naik Kapal Penumpang Selama 4 Jam Menuju Pulau Aceh

Regional
Kisah Pilu Pengantin Baru yang Jadi Korban Longsor Malang, Menikah Sebulan Lalu, Tewas dan Ditemukan Pemulung

Kisah Pilu Pengantin Baru yang Jadi Korban Longsor Malang, Menikah Sebulan Lalu, Tewas dan Ditemukan Pemulung

Regional
Bagian Tubuh Diduga Korban Sriwijaya SJ 182 yang Ditemukan Anak-anak Saat Bermain di Pantai Kis Hanya Menyisakan Rambut

Bagian Tubuh Diduga Korban Sriwijaya SJ 182 yang Ditemukan Anak-anak Saat Bermain di Pantai Kis Hanya Menyisakan Rambut

Regional
Fenomena Angin Puting Beliung Berpusar di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Terjadi 15 Menit, Ini Penjelasan Ahli

Fenomena Angin Puting Beliung Berpusar di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Terjadi 15 Menit, Ini Penjelasan Ahli

Regional
Saat Istri Terkena Covid-19, Eks Anggota DPRD NTB Ini Lecehkan Anak Kandung

Saat Istri Terkena Covid-19, Eks Anggota DPRD NTB Ini Lecehkan Anak Kandung

Regional
5 Fakta Sosok TS, Penyebar Hoaks Mayor Sugeng Meninggal Usai Divaksin, Ternyata Napi yang Tak Percaya Vaksinasi

5 Fakta Sosok TS, Penyebar Hoaks Mayor Sugeng Meninggal Usai Divaksin, Ternyata Napi yang Tak Percaya Vaksinasi

Regional
Darurat RS Pasien Covid-19, Bangsal ODGJ Jadi Ruang Isolasi, Gerbong Kereta Terpaksa Dipinjam

Darurat RS Pasien Covid-19, Bangsal ODGJ Jadi Ruang Isolasi, Gerbong Kereta Terpaksa Dipinjam

Regional
Gubernur Babel Kaget Perawat di Instalasi Karantina Covid-19 Didominasi Perempuan

Gubernur Babel Kaget Perawat di Instalasi Karantina Covid-19 Didominasi Perempuan

Regional
Anak Kandung Minta Uang Les Rp 1 Juta, Mantan Anggota DPRD NTB Ini Malah Melecehkannya

Anak Kandung Minta Uang Les Rp 1 Juta, Mantan Anggota DPRD NTB Ini Malah Melecehkannya

Regional
Pernyataan Terakhir Kristen Gray Sebelum Tinggalkan Indonesia: Maaf kalau Memang Bersalah

Pernyataan Terakhir Kristen Gray Sebelum Tinggalkan Indonesia: Maaf kalau Memang Bersalah

Regional
Pasien Covid-19 Membeludak di RS, Bangsal Orang Sakit Jiwa Terpaksa Jadi Ruang Isolasi

Pasien Covid-19 Membeludak di RS, Bangsal Orang Sakit Jiwa Terpaksa Jadi Ruang Isolasi

Regional
Detik-detik Jazz Tabrak Truk Parkir hingga Membuat 1 Penumpang Tewas

Detik-detik Jazz Tabrak Truk Parkir hingga Membuat 1 Penumpang Tewas

Regional
Sulut Kembali Catatkan Rekor Penambahan Kasus Covid-19, Diduga akibat Libur Akhir Tahun

Sulut Kembali Catatkan Rekor Penambahan Kasus Covid-19, Diduga akibat Libur Akhir Tahun

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X