Cerita dari Kelas Multikultural Pangandaran: Aku dan Kamu, Satu Indonesia

Kompas.com - 31/12/2019, 15:17 WIB
Siswa SMK Bakti Karya Parigi, Pangandaran, Jawa Barat, berasal dari berbagai suku di Indonesia. Selama tiga tahun, mereka hidup dalam keberagaman. KOMPAS.com/RENI SUSANTISiswa SMK Bakti Karya Parigi, Pangandaran, Jawa Barat, berasal dari berbagai suku di Indonesia. Selama tiga tahun, mereka hidup dalam keberagaman.

KOMPAS.com – Ari Wayangkau (18 tahun) bergegas. Setengah berlari ia mengambil jas, mengenakannya, kemudian mematung dengan sorot mata fokus pada layar laptop.

Di sampingnya telah duduk sejumlah penguji dari pihak SMK Bakti Karya Parigi ataupun perguruan tinggi. Tak berapa lama, Ari dipanggil.

Dengan langkah mantap, siswa kelas 3 SMK Bakti Karya Parigi ini maju ke depan, mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan hasil magangnya sebagai fotografer di salah satu perusahaan di Kamojang, Garut.

Laporan dan presentasi siswa asal Mariadei Papua ini dipuji penguji. Selain bisa mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja, Ari dinilai mampu menerapkan nilai multikulturalisme yang diperolehnya di sekolah.

Seperti saat kerusuhan Papua pecah Agustus-September 2019, rekan kerja hingga atasan Ari menyemangatinya untuk fokus bekerja.

Baca juga: Pendidikan Multikultural untuk Pembumian Pancasila

Ari pun, tak terbersit dalam pikirannya untuk pulang ke Papua. Ia merasa aman ada di Jabar karena tahu karakter orang-orangnya. Orang Jabar pun menerima dia apa adanya.

“Kalau kamu baik, orang lain pun baik. Kalau ada yang ngomporin, pakai nalar apa yang dipelajari di sekolah (toleransi),” tuturnya.

Nilai-nilai itu ia katakan juga pada adik kelasnya saat kerusuhan Papua berlangsung. Sebab beberapa adik kelasnya yang baru datang ke Pangandaran meminta pulang. Mereka resah, tak tenang, bahkan ada yang menangis ingin kembali ke Papua.

“Bukan hanya saya, lulusan sini yang sekarang ada di Jakarta juga ke Pangandaran untuk menenangkan adik kelas. Kami berkata, sudah bertahun-tahun kami di sini. Orang sini baik, mereka saudara kita. Pulang ke Papua pun belum tentu aman,” imbuhnya.

Baca juga: Indonesia dan Akomodasi Multikultural

Adaptasi

Seorang siswa asal Papua sedang duduk di depan kelasnya di SMK Bakti Karya Parigi, Pangandaran, Jawa Barat.KOMPAS.com/RENI SUSANTI Seorang siswa asal Papua sedang duduk di depan kelasnya di SMK Bakti Karya Parigi, Pangandaran, Jawa Barat.
Tumbuhnya sikap toleransi itu tidak muncul dengan sendirinya. Apalagi saat angkatan awal sekolah ini tiga tahun silam.

Orang timur menilai orang Jawa lebay, tidak terdengar, santai, dan lainnya. Begitupun orang Jawa menganggap orang timur, sangar, berisik, dan terlihat tua.

Apalagi untuk orang-orang yang dibesarkan dalam lingkungan konflik. Seperti Ismail Rumaru siswa asal Ambon, Maluku.

Konflik antaragama yang terjadi di daerahnya membuat rasa benci dan marah pada umat Kristiani tertanam dalam dirinya.

Itulah mengapa selama di Pangandaran ia sulit bergabung dengan orang Kristiani. Konflik kecilpun bisa dibesar-besarkan.

Lambat laun, seiring seringnya berbaur dan komunikasi, anggapannya terhadap orang Kristiani berubah.

“Awal-awal yang bergeng dengan daerahnya saja banyak, ada juga yang sampai berantem. Proses adaptasinya beragam,” tambah Ari.

Seperti dirinya, hanya butuh waktu dua minggu untuk berbaur. Namun temannya membutuhkan waktu 6 bulan-7 bulan.

Baca juga: Indahnya Toleransi Jelang Natal di Bukit Menoreh: Warga Beda Agama Bantu Bersihkan Gereja

Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Selama 2 Bulan Pemerintah Aceh Berlakukan Jam Malam Cegah Penyebaran Corona

Selama 2 Bulan Pemerintah Aceh Berlakukan Jam Malam Cegah Penyebaran Corona

Regional
UPDATE: 11 Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bogor, 2 Pasien Sembuh, 1 Meninggal

UPDATE: 11 Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bogor, 2 Pasien Sembuh, 1 Meninggal

Regional
Cerita Bupati Garut Lihat Sendiri ODP Corona Asyik Jalan-jalan Naik Motor

Cerita Bupati Garut Lihat Sendiri ODP Corona Asyik Jalan-jalan Naik Motor

Regional
Wabah Corona, Rumah Dinas Bupati Banyuwangi Dijadikan Ruang Isolasi Darurat

Wabah Corona, Rumah Dinas Bupati Banyuwangi Dijadikan Ruang Isolasi Darurat

Regional
Kasus Pertama di Banyuwangi, Satu PDP Positif Virus Corona

Kasus Pertama di Banyuwangi, Satu PDP Positif Virus Corona

Regional
Agar ODP Corona Tak Keluar Rumah, Pemkab Garut Berikan Biaya Hidup Rp 50.000 Per Hari

Agar ODP Corona Tak Keluar Rumah, Pemkab Garut Berikan Biaya Hidup Rp 50.000 Per Hari

Regional
3 PDP Corona yang Diisolasi di RSUD Kudus Meninggal Dunia

3 PDP Corona yang Diisolasi di RSUD Kudus Meninggal Dunia

Regional
Cegah Penularan Virus Corona, Bupati Bogor Minta Jakarta Dilockdown

Cegah Penularan Virus Corona, Bupati Bogor Minta Jakarta Dilockdown

Regional
Kisah Haru Perawat Positif Covid-19: Anak Sering Tanya Mama Kapan Pulang?

Kisah Haru Perawat Positif Covid-19: Anak Sering Tanya Mama Kapan Pulang?

Regional
Wali Kota Tegal: Saya Ajak Gubernur, Wali Kota, Isolasi Daerah Masing-masing Sebelum Menyesal

Wali Kota Tegal: Saya Ajak Gubernur, Wali Kota, Isolasi Daerah Masing-masing Sebelum Menyesal

Regional
Bupati Tolitoli Tutup Seluruh Akses Keluar Masuk ke Wilayahnya Cegah Penyebaran Corona

Bupati Tolitoli Tutup Seluruh Akses Keluar Masuk ke Wilayahnya Cegah Penyebaran Corona

Regional
Kronologi Mahasiswa Serang dan Caci Maki Polisi Saat Sedang Sosialisasi Pencegahan Corona

Kronologi Mahasiswa Serang dan Caci Maki Polisi Saat Sedang Sosialisasi Pencegahan Corona

Regional
1 Pasien Positif Covid-19 di Balikpapan Meninggal, Berasal dari Klaster Ijtima Ulama Dunia

1 Pasien Positif Covid-19 di Balikpapan Meninggal, Berasal dari Klaster Ijtima Ulama Dunia

Regional
Cegah Masuknya Virus Corona, Pemkab Tolitoli Tutup Jalur Masuk Wilayah Itu

Cegah Masuknya Virus Corona, Pemkab Tolitoli Tutup Jalur Masuk Wilayah Itu

Regional
Peta Sebaran Covid-19 di Denpasar Dibuka, 91 ODP di 33 Kelurahan, 2 Kasus Positif Corona

Peta Sebaran Covid-19 di Denpasar Dibuka, 91 ODP di 33 Kelurahan, 2 Kasus Positif Corona

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X