Joki Cilik Tewas Saat Pacuan Kuda, Eksploitasi Anak Atas Nama Tradisi di NTB

Kompas.com - 31/10/2019, 05:45 WIB
Seorang anak menunggangi seekor kuda dalam pacuan di di Festival Moyo, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 2015 lalu. Ulet Ifansasti/Getty ImagesSeorang anak menunggangi seekor kuda dalam pacuan di di Festival Moyo, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 2015 lalu.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Seorang joki anak di Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat ( NTB), tewas saat mengikuti lomba pacuan kuda, pertengahan Oktober lalu.

Peristiwa ini mendorong para pegiat perlindungan anak untuk menyuarakan penghentian praktik pelibatan anak-anak sebagai joki dalam pacuan kuda di NTB.

Di sisi lain, pemerintah dan sebagian masyarakat setempat kerap menempatkan aktivitas joki cilik sebagai warisan budaya nenek moyang.

M Sabila Putra jatuh tersungkur setelah kehilangan kendali tali kekang kuda saat mengikuti pacuan kuda tradisonal Sambi Na'e di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (14/10/2019).


Baca juga: Joki Cilik Meninggal Saat Pacuan Kuda, Aktivis Kampanyekan #Stopjokicilik

Saat terjatuh, tubuh mungil bocah 10 tahun itu sempat tertindih kuda. Kepalanya terluka parah.

Sabila menemui ajal saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Kematiannya menjadi catatan hitam dalam ajang lomba pacuan kuda dengan joki anak yang memperebutkan piala Wali Kota Bima pada acara Hari Jadi TNI ke-74.

Samsul, ayah Sabila, mengenang anaknya dengan wajah lesu. Petani dari Desa Roka ini mengaku, Sabila mulai belajar penunggang kuda sejak tahun ini atas kemauan sendiri.

Dilatih pamannya seminggu dua kali, Sabila terkadang mengorbankan waktu bersekolah.

Baca juga: Joki Cilik Meninggal, Jatuh dan Tertindih Kuda Saat Pacuan

Samsul (kanan) dan Sulastri (paling kiri), orang tua M Sabila Putra, bocah 10 tahun yang meninggal dunia saat menjadi joki pacuan kuda tradisonal Sambi Nae, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (14/10). Akhyar M Nur Samsul (kanan) dan Sulastri (paling kiri), orang tua M Sabila Putra, bocah 10 tahun yang meninggal dunia saat menjadi joki pacuan kuda tradisonal Sambi Nae, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (14/10).

"Prestasinya bagus di sekolah. Kadang-kadang kalau dia ikut pacuan, dia lapor ke sekolah. Jadi minta izin sama bapak kepala sekolah," kata Samsul  kepada BBC News Indonesia.

Sabila sudah mengikuti lomba pacuan kuda sampai lima kali tahun ini. Kata Samsul, tiap kali pacuan, Sabila bisa mendapatkan uang jasa sebagai joki "sekitar Rp6 juta".

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X