Marak Alih Fungsi Lahan, Warga Protes Bentangkan Spanduk "KBU Sekarat"

Kompas.com - 25/04/2019, 14:02 WIB
Spanduk raksasa bertuliskan KBU sekarat dipasang Walhi Jabar dan warga sekitar di Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung. KOMPAS.com/AGIEPERMADISpanduk raksasa bertuliskan KBU sekarat dipasang Walhi Jabar dan warga sekitar di Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.

BANDUNG, KOMPAS.com - Memperingati Hari bumi yang jatuh pada 22 April lalu, Walhi Jawa Barat bersama warga pasang spanduk raksasa bertuliskan 'KBU Sekarat' di Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.

Spanduk tersebut dibentang sebagai bentuk keprihatinan warga di Kawasan Bandung Utara (KBU) yang telah banyak mengalami alih fungsi lahan.

Walhi mencatat dari total 40 ribu hektar KBU, 28 ribu hektar atau 70 persen diantaranya sudah mengalami alih fungsi lahan atau betonisasi.

Baca juga: Cegah Alih Fungsi Lahan, Kabupaten Sukabumi Dapat Apresiasi Kementan


Bahkan wilayah yang seharusnya menjadi daerah resapan air dan hutan lindung, kini banyak dieksploitasi pihak tertentu untuk kepentingan komersial yang bersifat mengeruk keuntungan pribadi semata. Betonisasi yang terjadi adalah pembangunan vila, apartemen, perumahan, hotel, hingga tempat wisata.

Direktur Walhi Jabar Dadan Ramdan kepada Kompas.com Kamis (25/4/2019) mengatakan banyak wilayah KBU yang mengalami alih fungsi lahan dan tersebar di beberapa daerah seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi.

Baca juga: Kalla Sebut Curah Hujan dan Alih Fungsi Lahan Penyebab Banjir Sulsel

Dari 3000 hektar di Kota Bandung, 2500 hektar kawasan KBU telah mengalami alih fungsi lahan, atau hanya tersisa 500 hektar.

"Tiga bulan terakhir ada empat kali banjir bandang di KBU. Kita melihat problem banjir di kota Bandung Selatan terus berlangsung karena hilangnya resapan di wilayah KBU. Hutan hijau berubah jadi hutan beton sehinga resapan berkurang. Kawasan lindung juga berkurang sehingga banjir di cekungan Bandung semakin meluas," katanya.

Menurutnya, banjir tak hanya terjadi di wilayah cekungan bawah Bandung Selatan, tapi juga terjadi di hulu.

"Banjir juga terjadi di hulu. Seperti di Sungai Cidurian, Cipamokolan. Itu terjadi," ujarnya.

Sedang saat musim kemarau dampak kekeringan pun bisa terjadi.

Menurutnya, krisis air sempat terjadi di beberapa daerah di Bandung. Hal tersebut diakibatkan semakin kurangnya mata air di KBU. Kekeringan dan longsor jadi ancaman, apalagi KBU masuk zona rentan bencana dan lingkungan, misalnya sesar Lembang.

Baca juga: Pergeseran Tanah yang Rusak 48 Rumah di Bandung Barat akibat Alih Fungsi Lahan

Walhi Jawa Barat berharap, pemerintah provinsi, kabupaten dan kota menghentikan izin pembangunan sarana komersial, khususnya di wilayah KBU.

"Harus ada moratorium ijin pembangunann sarana komersial apalagi yang besar. Jadi tak ada lagi pembangunan bangunan properti maupun wisata, dan kita juga minta audit pembangunan," harapnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Alasan Sebenarnya Gubernur NTT Viktor Laiskodat Tak Jadi Menteri Jokowi

Ini Alasan Sebenarnya Gubernur NTT Viktor Laiskodat Tak Jadi Menteri Jokowi

Regional
BKN: Pengurangan Struktural Eselon Bisa Kurangi Anggaran Negara

BKN: Pengurangan Struktural Eselon Bisa Kurangi Anggaran Negara

Regional
Polisi Cek soal Video Baku Hantam Sesama Bule di Bali

Polisi Cek soal Video Baku Hantam Sesama Bule di Bali

Regional
Mengembalikan Kejayaan Lada Bangka Belitung...

Mengembalikan Kejayaan Lada Bangka Belitung...

Regional
Angin Puting Beliung Terjang 3 Desa di Boyolali, 20 Rumah Rusak

Angin Puting Beliung Terjang 3 Desa di Boyolali, 20 Rumah Rusak

Regional
Pembobolan Dana Nasabah BNI Ambon, FY Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan

Pembobolan Dana Nasabah BNI Ambon, FY Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan

Regional
Driver Ojek Online yang Ditabrak Kendaraan Taktis Polisi Saat Demo Ricuh Tak Lagi Bisa Bekerja

Driver Ojek Online yang Ditabrak Kendaraan Taktis Polisi Saat Demo Ricuh Tak Lagi Bisa Bekerja

Regional
Kelompok Teroris di Lampung Incar Tempat Hiburan Malam

Kelompok Teroris di Lampung Incar Tempat Hiburan Malam

Regional
Kasus Narkoba, Bassist Boomerang Hubert Henry Dituntut 2 Tahun Penjara

Kasus Narkoba, Bassist Boomerang Hubert Henry Dituntut 2 Tahun Penjara

Regional
Dua Pendaki Gunung Bawakaraeng yang Alami Hipotermia Berhasil Dievakuasi

Dua Pendaki Gunung Bawakaraeng yang Alami Hipotermia Berhasil Dievakuasi

Regional
Tiba di Kupang dengan Jet Pribadi, Gubernur NTT Disambut ASN dan Pengurus Nasdem

Tiba di Kupang dengan Jet Pribadi, Gubernur NTT Disambut ASN dan Pengurus Nasdem

Regional
LIPI Minta Penemuan Ikan dan Air Sumur yang Mendidih Tidak Dikaitkan dengan Mistis

LIPI Minta Penemuan Ikan dan Air Sumur yang Mendidih Tidak Dikaitkan dengan Mistis

Regional
Balita Meninggal 5 Hari Setelah Divaksin MR, Dinkes Garut Turunkan Tim

Balita Meninggal 5 Hari Setelah Divaksin MR, Dinkes Garut Turunkan Tim

Regional
Santri yang Tewas di Sumsel Alami Kaki Patah dan Tempurung Kepala Retak

Santri yang Tewas di Sumsel Alami Kaki Patah dan Tempurung Kepala Retak

Regional
Ruang Multisensori untuk Anak Berkebutuhan Khusus Kini Ada di Bandara Ahmad Yani Semarang

Ruang Multisensori untuk Anak Berkebutuhan Khusus Kini Ada di Bandara Ahmad Yani Semarang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X