Pakai Aplikasi e-Grower, Petani Pisang di Lampung Raih Omzet Rp 3,4 Juta Per Minggu

Kompas.com - 27/03/2019, 19:13 WIB
Kelompok koperasi melakukan pencucian pisang yang akan dikemas untuk di ekspor ke luar negeri.KOMPAS.com/ ENI MUSLIHAH Kelompok koperasi melakukan pencucian pisang yang akan dikemas untuk di ekspor ke luar negeri.

"Konsep ini kami namakan corporate shared value dan kami membeli pisang dari petani seharga Rp 2.300 per buah yang mana harga tersebut lebih tinggi dari harga pasaran tradisional," katanya lagi.

Pelaksana tugas Dirjen KPAII Kementerian Perindustrian dan Koperasi, Ngakan Timur Antara mengatakan, program kawasan Industri hortikultura yang berkolaborasi dengan petani dan kelompok usaha tani melalui Koperasi Usaha Tani dilaksanakan sebagai tindak lanjut Peraturan Menteri Keuangan No. 147/PMK.04/2011 tentang Kawasan Berikat sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 120/PMK.04/2013.

Kemitraan di Kabupaten Tanggamus merupakan role model dari konsep tersebut.

Konsep kemitraan (corporate shared value/CSV) ini didukung oleh Ditjen, Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan dengan syarat tidak adanya persediaan (inventory) di petani.

"Sehingga pupuk dan pestisida yang diimpor oleh PT GGP dapat digunakan oleh petani binaan untuk membantu petani dan memantau kegiatan on farm secara real time, termasuk pemakaian pupuk dan pestisida," kata Ngakan Timur.

Jumlah panen yang dapat diekspor telah dikembangkan aplikasi berbasis internet of things (IOT), yakni e-Grower (industry revolution 4.0).

"Sebagai percontohan yang baik maka konsep kemitraan ini diharapkan dapat diikuti oleh wilayah provinsi lainnya, seperti Provinsi Bali dan Bengkulu," tutupnya.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X