5 Hal Pasca-Gempa Lombok, Evakuasi Jamaah Masjid hingga Bantuan Belum Merata

Kompas.com - 08/08/2018, 13:45 WIB
Pasien korban gempa ditenda perawatan RSUD Kabupaten Lombok Utara di Tanjung, NTB, Selasa (7/8/2018). Berdasarkan data terkini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan 7 pada skala richter (SR) di Lombok bertambah menjadi 105 dari sebelumnya 98 orang.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pasien korban gempa ditenda perawatan RSUD Kabupaten Lombok Utara di Tanjung, NTB, Selasa (7/8/2018). Berdasarkan data terkini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan 7 pada skala richter (SR) di Lombok bertambah menjadi 105 dari sebelumnya 98 orang.

KOMPAS.com - Kurang lebih tiga hari mengungsi, ribuan pengungsi pasca-gempa di Lombok hari Minggu (5/8/2018), mulai rawan terserang penyakit.

Selain itu, proses pencarian korban yang masih tertimbun reruntuhan masih terus dilakukan di Desa Pamenang oleh tim SAR.

Berikut sejumlah fakta terkait kondisi pengungsi dan proses evakuasi korban pasca-gempa bumi di Lombok, NTB.

Masjid Jamiatul Jamiah di dusun Karang Pangsor, Pemenang, Lombok Barat yang roboh saat gempa magnitudo 7 pada Minggu (5/8/2018)KOMPAS.com/FITRI R Masjid Jamiatul Jamiah di dusun Karang Pangsor, Pemenang, Lombok Barat yang roboh saat gempa magnitudo 7 pada Minggu (5/8/2018)

1. Evakuasi jemaah masjid yang tertimbun terus berlanjut

Proses evakuasi jamaah masjid yang tertimbun reruntuhan bangunan masjid di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus dilakukan.

Warga setempat berharap petugas SAR bisa segera mengangkat jenazah yang sudah terlihat dan terhimpit pilar masjid Jamiatul Jamiah pada Rabu (8/8/2018) pagi ini.

“Kami berharap semua bisa dilakukan hari ini, kami harapkan ada alat berat tambahan, karena kami khawatir ada banyak korban,” kata Bagus Prayitno, salah satu keluarga korban reruntuhan masjid yang selamat dari maut.

"Saya takut ada banyak korban karena ketika itu ada lima syaf yang shalat Isya. 1 syaf berderet ada 30 jemaah. Bantulah kami dengan alat berat. Kasihan jika ada yang masih hidup di reruntuhan itu,” kata Syafruddin, warga lain yang selamat dari reruntuhan pada Kompas.com.

Baca Juga: Ribuan Warga Mengungsi Pasca-Gempa Lombok, Ini Kebutuhan Para Pengungsi

 

Pasien menjalani perawatan di tenda pengungsian yang berada di depan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (6/8/2018). Sebanyak 151 pasien rawat inap dan korban gempa menjalani perawatan di tenda dikarenakan kondisi RSUD Kota Mataram yang rusak akibat gempa.TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN Pasien menjalani perawatan di tenda pengungsian yang berada di depan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (6/8/2018). Sebanyak 151 pasien rawat inap dan korban gempa menjalani perawatan di tenda dikarenakan kondisi RSUD Kota Mataram yang rusak akibat gempa.

2. Pengungsi mulai terserang penyakit

Sejak gempa mengguncang rumah mereka, warga di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), memilih untuk mengungsi.

M Rum, Kepala BPBD NTB, mengatakan, total korban yang mengalami diare mencapai 28 orang dan telah mendapat perawatan tim medis.

"Di setiap posko tersedia tenaga medis dengan satu orang dokter, dua perawat dan tiga orang bidan," tutur Rum dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/8/2018).

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X