Andi Sutisna, Sulap Limbah Sungai Cikapundung Jadi Miniatur Lokomotif

Kompas.com - 09/02/2018, 13:04 WIB
Andi Sutisna (63) sedang memperlihatkan hasil karyanya sebuah miniatur lokomotif yang dibuatnya dari serakan sampah di Sungai Cikapundung, aliran Sungai Citarum. Miniatur ini diperlihatkan Andi di kediamannya di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Jumat (9/2/2018). KOMPAS.com/AGIE PERMADIAndi Sutisna (63) sedang memperlihatkan hasil karyanya sebuah miniatur lokomotif yang dibuatnya dari serakan sampah di Sungai Cikapundung, aliran Sungai Citarum. Miniatur ini diperlihatkan Andi di kediamannya di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Jumat (9/2/2018).

BANDUNG, KOMPAS.com – Serakan limbah di mata Andi Sutisna seperti kepingan puzzle, yang kemudian ia rangkai menjadi sebuah bentuk yang tergambar di imajinasinya.

Seperti halnya miniatur lokomotif yang dibuatnya dari sampah atau limbah botol di Sungai Cikapundung aliran Sungai Citarum. Melalui tangan kreatifnya, Andi menyulap barang yang tidak berguna itu menjadi bentukan utuh miniatur lokomotif.

Miniatur kepala kereta api yang dibuatnya merupakan salah satu manifestasi dari imajinasinya. Uniknya, miniatur ini dibuat dari barang buangan yang mengambang di pinggiran Sungai Cikapundung di sekitar rumahnya.

“Kebetulan rumah di pinggir Sungai Cikapundung. Saya lihat banyak sampah, karena bulat lonjong ya saya bentuk lokomotif,” Kata Andi yang ditemui di kediamannya di jalan Perintis kemerdekaan Kota Bandung, Jumat (9/2/2018).

(Baca juga : Win Bara Biru, Pesulap Limbah Kayu Jadi Miniatur Harley-Davidson )

Saat itu, Andi tak memperlihatkan seluruh miniaturnya lantaran telah dibersihkan beberapa hari lalu. Meski begitu Andi beranjak dari tempat duduknya dan mengambil beberapa contoh hasil karyanya, dua buah miniatur kereta lokomotif yang telah dibungkus plastik.

“Sengaja saya bungkus plastik agar tidak berdebu,” ucapnya sambil membuka plastik yang membalut salah satu miniatur kereta lokomotif buatannya.

Melalui tangan kreatifnya, Andi menyulap barang yang tidak berguna itu menjadi bentukan utuh miniatur lokomotif.KOMPAS.com/Agie Permadi Melalui tangan kreatifnya, Andi menyulap barang yang tidak berguna itu menjadi bentukan utuh miniatur lokomotif.
Miniatur lokomotif yang pertama diperlihatkannya saat itu berukuran 40 cm. Terbilang kecil, namun tingkat kedetailannya hampir menyerupai lokomotif aslinya. Beberapa bahan yang terpasang merupakan bahan bekas limbah yang ditempel satu per satu.

“Ini yang paling kecil, bahan dasarnya juga bekas semua, paling lem sama kawat saja yang beli,” ujarnya.

Tak hanya itu, Andi memperlihatkan miniatur lokomotif lainnya yang berukuran lebih besar sekitar 1,5 meter. Bahan dasar tubuh miniatur lokomotif itu adalah triplek dan paralon bekas yang ditemukannya. 

Barang bekas itu dibuat pola berdasarkan gambar kereta lokomotif dari sebuah kalender. Untuk mendapatkan bentuk detail tiga dimensi kereta, Andi mendatangi warung internet (warnet) dan meminta bantuan penjaga warnet untuk mencetak gambar lokomotif dari berbagai sudut.

(Baca juga : Cemari Sungai Citarum, 4 Perusahaan Tekstil di Jabar Ditutup Sementara)

Gambaran itu menjadi referensi baginya untuk membentuk miniatur kereta lokomotif. Barang-barang bekas di sekitar Sungai Cikapundung seperti tutup spidol, kaleng obat nyamuk, paralon bekas, gulungan benang, cangkokan lampu, triplek, dan lainnya ia kumpulkan.

Barang-barang tersebut kemudian ditempelkan satu per satu setelah sebelumnya bentukan pola badan kereta telah ia buat dari bahan paralon bekas dan triplek.

Sampai saat ini sudah ada sekitar tujuh miniatur lokomotif kecil dan satu lokomotif berukuran besar yang dimilikinya.

“Pembuatannya membutuhkan waktu seminggu sampai dua minggu kalau yang kecil. Kalau yang gede biasanya sebulan kurang. Karena buatnya itu pas waktu senggang saja, pas santai,” jelasnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Muncul Klaster Unjuk Rasa di Tangerang, 8 Pedemo Positif Covid-19

Muncul Klaster Unjuk Rasa di Tangerang, 8 Pedemo Positif Covid-19

Regional
Pasutri Dokter Sembuh dari Covid-19, Padahal Punya Sakit Jantung, Hipertensi dan Obesitas

Pasutri Dokter Sembuh dari Covid-19, Padahal Punya Sakit Jantung, Hipertensi dan Obesitas

Regional
19 Daerah di Jatim Jadi Zona Kuning Covid-19, Ini Pesan Khofifah untuk Warganya...

19 Daerah di Jatim Jadi Zona Kuning Covid-19, Ini Pesan Khofifah untuk Warganya...

Regional
Lokasi Budidaya Ganja di Polybag Ternyata Rumah Orangtua Mantan Wali Kota Serang

Lokasi Budidaya Ganja di Polybag Ternyata Rumah Orangtua Mantan Wali Kota Serang

Regional
Menengok Belajar Tatap Muka di Cianjur, Protokol Covid-19 Diberlakukan Ketat

Menengok Belajar Tatap Muka di Cianjur, Protokol Covid-19 Diberlakukan Ketat

Regional
Tips Nyaman Pakai Masker dalam Waktu Lama dan Bebas Bau Mulut

Tips Nyaman Pakai Masker dalam Waktu Lama dan Bebas Bau Mulut

Regional
Budidaya 45 Batang Ganja di Polybag Bertahun-tahun, Pria Ini Berdalih untuk Penelitian

Budidaya 45 Batang Ganja di Polybag Bertahun-tahun, Pria Ini Berdalih untuk Penelitian

Regional
Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Regional
Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Regional
2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus 'Lockdown'

2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus "Lockdown"

Regional
Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Regional
Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Regional
'Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi'

"Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi"

Regional
[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

Regional
Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X