Menurut Dedi Mulyadi, Intoleransi Bisa Diatasi dengan Kembangkan Kultur Produksi - Kompas.com

Menurut Dedi Mulyadi, Intoleransi Bisa Diatasi dengan Kembangkan Kultur Produksi

Kompas.com - 17/09/2017, 19:03 WIB
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menjadi inspektur upacara peringatan Kemerdekaan RI ke-72, Kamis (17/8/2017).KONTRIBUTOR TASIKMALAYA/IRWAN NUGRAHA Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menjadi inspektur upacara peringatan Kemerdekaan RI ke-72, Kamis (17/8/2017).

GARUT, KOMPAS.com - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mendapatkan "ujian" dari para kiai Nahdhatul Ulama dalam kegiatan Halaqah Kebangsaan yang digelar Minggu (17/9/2017), di Pesantren As-Sa’adah, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Salah satu pertanyaan dalam ujian itu muncul setelah Dedi menyatakan bahwa akar dari paham radikalisme dan intoleransi adalah tercabutnya masyarakat dari akar Islam kultural yang selama ini diajarkan oleh para pendahulu.

Adapun, di antara kultur yang hilang itu, menurut Dedi, adalah kultur pedesaan. Jika sebelumnya mata pencaharian masyarakat tadinya berbasis pertanian dan kehutanan, namun karena perubahan gaya hidup berubah dari kultur produksi menjadi konsumsi.

Para kiai yang merupakan para pengurus Majelis Wakil Cabang PCNU Kabupaten Garut kemudian bertanya kepada Dedi, apa kebijakan yang bisa dibuat untuk mengembalikan kultur tersebut.

"Tadi dalam paparan Bapak, katanya karena kehilangan akses terhadap ekonomi dalam hal ini mata pencaharian, orang kemudian bisa berubah menjadi radikal dan intoleran karena tekanan psikologi. Nah, bagaimana mengembalikan akses ekonomi itu kepada masyarakat?" tanya Kiai Anwar dari Wanaraja, Garut.

Dedi kemudian menjawabnya berdasarkan pada kebijakan yang telah dia buat di Purwakarta. Menurut dia, Purwakarta memiliki sebuah kampung bernama "Kampung Tajur Kahuripan" yang terletak di wilayah Kecamatan Bojong.

Kampung ini memiliki karakteristik kesundaan dengan desain rumah panggung "julang ngapak", lengkap dengan sumber mata pencaharian masyarakat dalam bidang pertanian dan kehutanan.

"Masyarakat di sana, selain mendapatkan sumber ekonomi dari pertanian, juga menjaga hutan. Hutan ditanami, bukan dibabat habis," ucap Dedi.

"Masyarakat kota kemudian ramai datang ingin melihat. Mereka diajarkan bertani dan menginap di rumah-rumah warga. Ini sumber pendapatan bidang pariwisata, masyarakat juga hidup dari sana, tukang opak laku, tukang liwet laku, jadi sumber pendapat ekonomi warga sekitar," ucap Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat ini.

(Baca juga: Dedi Mulyadi Sebut Penyebar Fitnah dengan Isu SARA Tak Bertuhan)

 

Selain itu, agar kondisi hutan tetap terjaga, Dedi mengusulkan agar warga yang tinggal di sekitar hutan diangkat menjadi tenaga harian lepas (THL) oleh pemerintah.

Mereka bertugas menanam dan merawat tanaman yang berada di hutan sehingga tidak merambah hasil hutan dan berakibat kegundulan hutan tersebut.

"Warga sekitar itu digaji oleh pemerintah, diangkat menjadi tenaga harian lepas sehingga hutan tetap terpelihara, mereka bertugas menjaganya," ucap Dedi.

Soal biaya yang dikeluarkan pemerintah, Dedi yakin jumlahnya lebih kecil dibanding dengan dana yang harus dikeluarkan untuk menangani bencana, dari mulai masa tanggap darurat hingga masa pemulihan.

Jawaban dari Wakil Ketua PCNU Purwakarta ini sontak disambut riuh tepuk tangan dari para kiai yang hadir.

Mereka mengapresiasi kebijakan Dedi sebagai Bupati Purwakarta dan berharap kebijakannya diterapkan dalam wilayah yang lebih besar.

Kompas TV Warga Dukung Dedi Mulyadi Maju Pilkada Jabar 2018


Komentar

Terkini Lainnya

Pelapor Anggota DPR: Istri yang Lindungi Saat Ditendang, Dia dalam Pelukan Saya

Pelapor Anggota DPR: Istri yang Lindungi Saat Ditendang, Dia dalam Pelukan Saya

Megapolitan
Polisi Tambah Jumlah Personel Pengamanan Sidang Aman Abdurrahman

Polisi Tambah Jumlah Personel Pengamanan Sidang Aman Abdurrahman

Megapolitan
Alasan Polisi Larang Siaran Langsung Persidangan Aman Abdurrahman

Alasan Polisi Larang Siaran Langsung Persidangan Aman Abdurrahman

Megapolitan
Cara Bir Pletok Peci Merah Rebut Perhatian Pembeli

Cara Bir Pletok Peci Merah Rebut Perhatian Pembeli

Megapolitan
Apel HUT Jakarta Berlangsung, PNS Ngobrol dan Duduk di Barisan Belakang

Apel HUT Jakarta Berlangsung, PNS Ngobrol dan Duduk di Barisan Belakang

Megapolitan
Ramai-ramai Menolak 'Presidential Threshold'...

Ramai-ramai Menolak "Presidential Threshold"...

Nasional
Lepas dari Kandang, Singa di Kebun Binatang Belgia Ditembak Mati

Lepas dari Kandang, Singa di Kebun Binatang Belgia Ditembak Mati

Internasional
Mengaku Dikeroyok, Ronny Berencana Laporkan Anggota DPR RI Herman Hery ke MKD

Mengaku Dikeroyok, Ronny Berencana Laporkan Anggota DPR RI Herman Hery ke MKD

Megapolitan
Serba-serbi Mudik, Kisah Polisi Batang Temukan Anak Pemudik yang Ketinggalan di 'Rest Area'

Serba-serbi Mudik, Kisah Polisi Batang Temukan Anak Pemudik yang Ketinggalan di "Rest Area"

Regional
Aman Abdurrahman Bertopang Dagu Saat Hakim Bacakan Berkas Perkara

Aman Abdurrahman Bertopang Dagu Saat Hakim Bacakan Berkas Perkara

Megapolitan
Pemilik Toko Bakar Tokonya Sendiri demi Klaim Asuransi Rp 20 Miliar

Pemilik Toko Bakar Tokonya Sendiri demi Klaim Asuransi Rp 20 Miliar

Regional
Alasan Ketua DPR Tolak Hak Angket Pengangkatan Iriawan Sebagai Pj Gubernur Jabar

Alasan Ketua DPR Tolak Hak Angket Pengangkatan Iriawan Sebagai Pj Gubernur Jabar

Nasional
Beasiswa S1 dan S2 dari Macquarie University Australia

Beasiswa S1 dan S2 dari Macquarie University Australia

Edukasi
Lintasan Sepeda Velodrome di Rawamangun Pakai Kayu Siberia Sepanjang 250 Meter

Lintasan Sepeda Velodrome di Rawamangun Pakai Kayu Siberia Sepanjang 250 Meter

Megapolitan
Polisi Terapkan Penjagaan Ketat pada Persidangan Aman Abdurrahman

Polisi Terapkan Penjagaan Ketat pada Persidangan Aman Abdurrahman

Megapolitan

Close Ads X