Sri Menangis Saat Warung Mie Ayamnya Roboh Dirobohkan Ekskavator

Kompas.com - 09/08/2017, 18:54 WIB
Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Tengah‎ menertibkan ratusan bangunan yang berdiri di sempadan saluran sekunder Mlilir, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Rabu (9/8/2017). KOMPAS.com/Puthut Dwi PutrantoBalai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Tengah‎ menertibkan ratusan bangunan yang berdiri di sempadan saluran sekunder Mlilir, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Rabu (9/8/2017).
|
EditorCaroline Damanik

GROBOGAN, KOMPAS.com - Berakhir sudah perjalanan bangunan-bangunan di sempadan saluran sekunder Mlilir, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. 

Pupus juga sudah harapan ratusan warga yang telah belasan tahun mengandalkan hidup dengan berjualan di sana.

Satu unit alat berat yang dioperasikan oleh petugas Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Tengah secara bertahap telah menghancurkan ratusan bangunan permanen itu, Rabu (9/8/2017).

Masing-masing bentuk dan ukuran bangunan bervariasi, maksimal berukuran 7 meter x 3 meter. Ada yang berdinding kayu dan ada yang berdinding batu bata.

Sore ini, hampir 70 persen bangunan sudah rata dengan tanah. Hanya tersisa puing-puing bangunan yang berserakan.

Terhitung ada 250 lebih bangunan liar yang berjajar di atas sempadan saluran sekunder Mlilir sepanjang 7 kilometer, mulai dari Desa Ginggangtani, Jeketro, Saban, Mlilir, Kemiri dan Tinanding.

Para penghuni bangunan pun pasrah melihat tempat usahanya dirobohkan. Selama ini, di pinggir jalan itu mereka bertaruh nasib. 

Ya... aktivitas perekonomian ilegal itu telah berlangsung lama, mendirikan kios-kios untuk berdagang, seperti rumah makan, konter ponsel, warung sembako, bengkel dan sebagainya. 

Para penghuni bangunan yang merupakan warga Kecamatan Gubug itu dihadapkan dalam kondisi dilema. Satu sisi mereka bisa terus menyambung hidup dengan berdagang di sana. Namun di sisi lain, aturan tetaplah aturan dan mereka pun harus ikut arus yang telah digulirkan pemerintah.

(Baca juga: Usai Divonis, Fidelis Menangis Sambil Peluk Erat Ibunya)

Sri Purwati (56), warga Desa Ginggangtani, Gubug tak kuasa meneteskan air mata saat ekskavator perlahan membumihanguskan kios mie ayam miliknya. Setidaknya, dari usaha yang ia geluti itu telah mampu menyekolahkan ketiga anaknya.

"Suami sudah meninggal 15 tahun lalu. Saya kemudian berjualan mie ayam untuk menyambung hidup. Kalau begini, selesai sudah semuanya. Umur saya juga sudah tua. Mau nyewa kios juga mahal. Tolong pemerintah perhatikan nasib kami selanjutnya," tutur Sri.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X