Selain Polusi Udara, Limbah Cair PT Pinako Cemari Sawah dan Sumur

Kompas.com - 24/02/2015, 09:01 WIB
Siswa SDN Wonorejo 04, kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang menutup hidung akibat asap dari Pabrik pengolahan kayu dan mabel, PT Pinako Rotary Permai di Jalan Candirejo Pringapus kompas.com/ syahrul munirSiswa SDN Wonorejo 04, kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang menutup hidung akibat asap dari Pabrik pengolahan kayu dan mabel, PT Pinako Rotary Permai di Jalan Candirejo Pringapus
|
EditorGlori K. Wadrianto
UNGARAN, KOMPAS.com - Polusi dari pabrik pengolahan kayu dan mebel, PT Pinako Rotary Permai di Jalan Candirejo, Pringapus, Kabupaten Semarang, membuat ratusan siswa SDN Wonorejo 04, dan warga sekitar mengalami gangguan pernafasan.

Selain menimbulkan polusi udara, limbah cair dari PT Pinako juga mencemari sawah dan sumur warga sekitar. Salah seorang warga, Nur Khasanah (42) Dusun Lengkong RT 2 RW 3, Desa Wonorejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang mengatakan, limbah cair PT Pinako juga mencemari sawah dan sumur.

Sumur milik warga yang semula jernih, saat ini berubah menjadi keruh kehitaman sehingga tidak layak dikonsumsi. Sejumlah sawah juga tercemar hingga petaninya merasa gatal-gatal bahkan tanamannya tidak tumbuh subur.

"Pabrik sekarang produksinya sore hingga malam. Kalau kita tidur, pagi harinya hidung sudah penuh jelaga hitam. Dulu air sumur bisa dikonsumsi, sekarang tidak bisa,” kata Nur Khasanah, Senin (23/2/2015) kemarin.

Warga berharap Bupati Semarang turun tangan langsung untuk melihat kondisi ini dan cepat mengambil tindakan. Sebab, menurut Nur Khasanah, warga sudah beberapa kali mengadu ke pabrik dan mengadu pada instansi terkait, tapi tidak ada tanggapan yang serius.

"Silahkan membangun pabrik di sini, tapi jangan sampai mengganggu lingkungan dan warga,” ungkap Nur Khasanah. 

Sementara itu, dihubungi terpisah, Kepala HRD PT Pinako Rotary Permai, Budi Rahardjo saat dikonformasi mengaku mengakui perusahaannya sedang memperbaiki pengelolaan limbah. Sebab, saat ini perusahaan itu mendapatkan bendera hitam, yakni penilaian buruk dalam pengelolaan limbah dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Semarang.

"Kami akui sebelumnya tidak mengelola limbah dengan baik. Saat itu kebetulan saya belum bekerja di sini. Kami berharap setelah diperbaiki nanti, kami tidak dapat bendera hitam lagi," kata Budi.

Budi pun mengaku sudah memberikan uang kepada pihak sekolah maupun warga, sebagai bentuk tali asih atau kompensasi atas pencemaran yaang diakibatkan dari proses produksi PT Pinako. (Baca juga: Polusi Udara Pabrik Membuat Ratusan Siswa SD Sesak Nafas di Semarang) 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Diumumkan, Jadwal dan Lokasi Tes SKD CPNS Pemkot Surabaya hingga Aturan yang Tak Boleh Dilanggar

Diumumkan, Jadwal dan Lokasi Tes SKD CPNS Pemkot Surabaya hingga Aturan yang Tak Boleh Dilanggar

Regional
Mengaku Kehabisan Uang Saat Liburan, 4 Wanita Telibat Bisnis Prostitusi Online

Mengaku Kehabisan Uang Saat Liburan, 4 Wanita Telibat Bisnis Prostitusi Online

Regional
Potret Toleransi di Jember, 8 Agama Ikut Hadir dalam Perayaan Imlek

Potret Toleransi di Jember, 8 Agama Ikut Hadir dalam Perayaan Imlek

Regional
Iming-iming Uang, Bocah SD 3 Kali Dicabuli Seorang Pemuda di Pasaman Barat

Iming-iming Uang, Bocah SD 3 Kali Dicabuli Seorang Pemuda di Pasaman Barat

Regional
Kelaparan Selama Bersembunyi di Hutan, Buronan Pemerkosa Anak Kandung Akhirnya Serahkan Diri

Kelaparan Selama Bersembunyi di Hutan, Buronan Pemerkosa Anak Kandung Akhirnya Serahkan Diri

Regional
Kronologi Kepala Bocah 6 Tahun Tertancap Tang yang Dijatuhkan Pekerja Reklame

Kronologi Kepala Bocah 6 Tahun Tertancap Tang yang Dijatuhkan Pekerja Reklame

Regional
2 Santri Korban Pencabulan di Aceh Kembali Lanjutkan Pendidikan di Pesantren

2 Santri Korban Pencabulan di Aceh Kembali Lanjutkan Pendidikan di Pesantren

Regional
Cita Rasa Kue Keranjang Ong Eng Hwat, Dikemas Daun Pisang dan Dimasak Pakai Tungku Tua

Cita Rasa Kue Keranjang Ong Eng Hwat, Dikemas Daun Pisang dan Dimasak Pakai Tungku Tua

Regional
Kronologi Kapal Pompong Angkut 18 TKI Ilegal Tujuan Malaysia Tenggelam di Selat Malaka

Kronologi Kapal Pompong Angkut 18 TKI Ilegal Tujuan Malaysia Tenggelam di Selat Malaka

Regional
7 Peristiwa Paus Terdampar , Dikuburkan dengan Upacara Adat hingga Terjebak di PLTU

7 Peristiwa Paus Terdampar , Dikuburkan dengan Upacara Adat hingga Terjebak di PLTU

Regional
Cegah Banjir Surabaya Berulang, Pemkot Bangun Waduk Mini

Cegah Banjir Surabaya Berulang, Pemkot Bangun Waduk Mini

Regional
Sunda Empire Eksis di Aceh Utara, Bupati Minta Masyarakat Jangan Terkecoh

Sunda Empire Eksis di Aceh Utara, Bupati Minta Masyarakat Jangan Terkecoh

Regional
Ini Bahaya Ular Weling yang Tewaskan Anak 11 Tahun di Bandung

Ini Bahaya Ular Weling yang Tewaskan Anak 11 Tahun di Bandung

Regional
Kepada Polisi, Sunda Empire Aceh Klaim Miliki Ratusan Anggota

Kepada Polisi, Sunda Empire Aceh Klaim Miliki Ratusan Anggota

Regional
Fakta Pelajar SMA Hilang dan Ditemukan Tengkoraknya: Perilaku Seks Menyimpang Pelaku hingga Keluarga Tak Yakin

Fakta Pelajar SMA Hilang dan Ditemukan Tengkoraknya: Perilaku Seks Menyimpang Pelaku hingga Keluarga Tak Yakin

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X