Korupsi Rp 45 Juta, Seorang Guru Divonis 1,4 Tahun Penjara

Kompas.com - 20/05/2014, 21:26 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorFarid Assifa

SEMARANG, KOMPAS.com — Majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang menjatuhkan pidana satu tahun dan dua bulan penjara kepada terdakwa Aidin (49), salah seorang tenaga pengajar di Kota Semarang.

Selain itu, dia juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 50 juta atau setara satu bulan kurungan. Putusan dibacakan langsung oleh hakim ketua Suyadi di Semarang, Selasa (20/5/2014).

Sebelumnya, terdakwa dituntut pidana 20 bulan dan denda Rp 50 juta terkait kasus bantuan hibah kependidikan Pemprov Jawa Tengah.

"Menyatakan terdakwa telah melakukan beberapa tindak pidana korupsi sebagaimana dalam dakwaan jaksa," kata Suyadi membacakan amar putusan.

Selain sebagai pengajar, Aidin adalah mantan Kepala MTS Raudlotul Mutaallimin di Kelurahan Mangkang, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Jaksa mendakwanya telah menyelewengkan hibah kependidikan sebesar Rp 60 juta dari Pemprov Jateng yang semestinya untuk pembangunan sekolah, tetapi justru masuk ke kantong pribadinya.

Menurut hakim, hukuman yang ditimpakan kepada Aidin karena perbuatannya telah melukai hati masyarakat, terutama tenaga pendidik lainnya. Meski demikian, majelis hakim sepakat bahwa upaya pemenjaraan itu bukan sebagai langkah untuk membalas pelaku.

"Tapi, hukuman lebih kepada sarana untuk menjerakan, selain juga sebagai sarana pencegahan di masyarakat agar tidak melakukan korupsi," seru hakim.

Aidin dinyatakan bersalah melanggar ketentuan dakwaan subsider Pasal 3 jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan diganti menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Majelis hakim juga membebani uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 45 juta. Kerugian itu dihitung oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang menemukan indikasi penyimpangan sebesar Rp 45 juta.

Namun, hakim tak membebani pidana pengganti tersebut lantaran terdakwa sudah mengembalikan uang kerugian negara.

"Sehingga, bagi terdakwa, harus dibebaskan dari kewajiban membayar uang pengganti kerugian negara," tambahnya.

Bantuan hibah dari Pemprov Jateng kepada madrasah yang diketuai Aidin cair secara bertahap pada tahun 2009 dan 2010. Tiap tahun digelontorkan bantuan sebesar Rp 30 juta. Dana hibah pendidikan tersebut sedianya dipergunakan untuk pengembangan serta pembangunan fasilitas sekolah, mulai dari pembenahan tembok, toilet, saluran, hingga atap sekolah.

Namun, seluruh dana itu diketahui tidak sepenuhnya digunakan untuk pembangunan. Atas putusan ini, terdakwa pasrah atas putusan. Aidin tak mau mempermasalahkan putusan yang telah dijatuhkan majelis hakim tersebut. "Saya terima yang Mulia," ujar Aidin dalam sidang.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X