Kisah Para Penyapu Jerat Harimau Sumatera di Belantara Hutan TNKS - Kompas.com

Kisah Para Penyapu Jerat Harimau Sumatera di Belantara Hutan TNKS

Kompas.com - 08/10/2017, 18:02 WIB
Tim Patroli sapu jerat harimau sumatera di TNKS menemukan jerat harimau model baruKompas.com/ Firmansyah Tim Patroli sapu jerat harimau sumatera di TNKS menemukan jerat harimau model baru

BENGKULU, KOMPAS.COM - Mobil bergardan ganda tampak meraung menggigitkan ban pada tanah yang basah, licin dan mendaki.

Hujan tak lagi menjadi halangan saat satu per satu para pembersih jerat harimau sumatera ke luar dari mobil. Terdapat lima orang dalam satu tim.

Ransel gaya militer yang mereka bawa terlihat cukup berat penuh dengan logistik dan keperluan sapu jerat harimau. Ada alat Global Positioning System (GPS), peta kontur, makanan, teropong, dan lainnya.

"Kami bekerjasama dengan Polisi Hutan Balai Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), rutin menggelar patroli sapu jerat harimau," ujar Arafik Tresno, salah seorang anggota tim.

Arafik berasal dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lingkar Institute, Bengkulu, yang konsen pada advokasi dan perlindungan harimau sumatera di Bengkulu. TNKS di Provinsi Bengkulu membentang di empat kabupaten yakni Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Utara, dan Mukomuko.

Baca juga: Kemiri, Harimau Sumatera di Adelaide Disuntik Mati

Dalam satu bulan biasanya Arafik bersama rekannya meluangkan waktu sekitar lima hari hingga satu pekan menjelajah rimba TNKS dengan misi membersihkan jerat harimau yang banyak dipasang pemburu.

Pembersihan jerat dilakukan dengan berjalan kaki membelah hutan belantara yang dikenal cukup lebat di Sumatera itu.

"Dalam satu kali patroli biasanya terdiri dari lima orang, bergabung dengan petugas TNKS, relawan, dan lembaga swadaya masyarakat, dipimpin oleh satu komandan biasanya anggota Polisi Hutan (Polhut)," cerita Arafik.

Satu kali patroli sapu jerat pihaknya biasanya mendapatkan puluhan jerat harimau sumatera yang dipasang oleh para pemburu.

Jerat tersebut dihancurkan lalu kawat seling akan dibawa pulang sebagai barang bukti.

Ia menceritakan banyak sekali hal yang menegangkan saat melakukan patroli sapu jerat, misalnya bertemu dengan harimau, beruang, hingga ular berukuran besar. Menyebrang sungai yang meluap juga menjadi rintangan selain ancaman lainnya.

"Tidur di dalam belantara lebat Sumatera merupakan pengalaman yang luar biasa, ini kegiatan yang menyenangkan sembari menyelamatkan habitat harimau sumatera yang terancam punah itu," jelas Arafik.

Ia meyakini ada banyak sekali jerat harimau sumatera yang dipasang para pemburu di dalam kawasan TNKS, untuk itu, menurutnya, patroli rutin harus dilakukan untuk membantu petugas TNKS.

"Kita menyadari petugas TNKS terbatas mereka bertanggung jawab menjaga hutan beserta isinya yang luas, peran masyarakat diperlukan untuk membantu," ujarnya.

Fatwa MUI

Menyelamatkan harimau sumatera dilakukan Balai TNKS dan LSM Lingkar Institute cukup unik. Selain menggelar patroli rutin, Lingkar Institute juga melakukan pendekatan terhadap para pemuka agama.

"Kami melakukan kerjasama juga dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong agar para pemuka agama memberikan ceramah di masjid tentang larangan menjual dan berburu harimau ini berdasarkan fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2012 tentang fatwa haram berburu satwa langka yang dilindungi, termasuk harimau sumatera," kata salah satu staff Lingkar Institute, Fahmi Arisandi.

Relawan sapu jerat membersihkan jerat harimau sumatera di wilayah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS)KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Relawan sapu jerat membersihkan jerat harimau sumatera di wilayah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS)
Usaha patroli dan penguatan fatwa MUI, kata Fahmi Arisandi, mendapatkan dukungan banyak pihak termasuk kelompok pencinta harimau di Inggris dan Australia, di antaranya Perkumpulan Kebun Binatang di London, Inggris, Century 21 Tiger di Inggris, dan Kebun Binatang Auckland, serta Flora Fauna Internasional (FFI).

Dalam catatan Lingkar Institute, laju perburuan dan perdagangan harimau sumatera di Bengkulu cukup tinggi. Setidaknya dalam 10 tahun terakhir 20 persen populasi harimau sumatera berkurang akibat perburuan dan perdagangan.

Perdagangan harimau sumatera menurut Lingkar Institute terjadi di sekitar wilayah TNKS yang menghubungkan antara Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Barat.


EditorAmir Sodikin
Komentar

Close Ads X