Misteri Kasus Taruna Nusantara - Kompas.com

Misteri Kasus Taruna Nusantara

Aiman Witjaksono
Kompas.com - 11/04/2017, 11:42 WIB
Kompas.com/Ika Fitriana Komplek SMA Taruna Nusantara Magelang dijaga ketat selama proses rekonstruksi kasus pembunuhan Kresna WN siswa kelas 10, Senin (3/3/2017).

“Ada dua pertanyaan dari kasus pembunuhan di SMA Taruna Nusantara. Pertama, mengapa pembunuhan bisa dilakukan dengan senyap, padahal ada puluhan siswa lain di barak yang sama? Kedua, apakah sekolah ini tidak menemukan potensi kejanggalan pada tersangka, pada saat tes seleksi masuk sekolah ini?"

PERTANYAAN di atas, saya buka pertama kali, sebelum saya memutuskan untuk mengambil tema soal pembunuhan di SMA elite di negeri ini, SMA Taruna Nusantara (SMA TN).

Dua pertanyaan mendasar setelah saya mempelajari kasus pembunuhan yang diduga dilakukan oleh seorang remaja yang berusia 16 tahun.

Saya merasa senang, ketika tawaran saya diterima oleh pihak SMA Taruna Nusantara. Kala itu adalah Cecep Iskandar, guru senior yang sekaligus bertugas menjadi Kepala Humas SMA TN.

Saya dan tim program AIMAN, bahkan diperkenankan untuk masuk satu per satu ke dalam barak-barak siswa, yang orangtua pun belum pernah memasukinya, apalagi wartawan dari media manapun.

Apa yang saya dapat?

Ada 36 siswa dalam satu barak. Mereka begitu akrab bercengkrama satu dengan yang lain, meski tanpa menghilangkan ciri khas mereka, disiplin ala militer-menyapa dengan...,"Siap, mohon izin," dan selalu berterima kasih setiap berinteraksi dengan saya.

Sulit rasanya membayangkan pembunuhan sadis itu bisa terjadi di barak yang diisi oleh siswa-siswi pilihan ini. Tapi, faktanya demikian.

Kompas.com/Ika Fitriana Proses Reka Ulang Pembunuhan Siswa SMA Taruna Nusantara di Carrefour Magelang, Senin (3/4/2017).

Pada Jumat dini hari, persis di hari terakhir bulan Maret 2017 lalu, kabar mengejutkan itu terjadi. Kresna Wahyu Nurachmad, tewas. Ia mengalami luka parah di bagian leher. Saya mencari tahu soal ini.

Baca juga: Jadi TKP Pembunuhan, Barak 17 SMA Taruna Nusantara Akan Direnovasi

Pertanyaan pertama terjawab, mengapa ada pembunuhan di tengah barak yang dihuni 36 siswa, dan tidak ada satupun yang tahu? Saya tanyakan ke guru-guru senior di sekolah ini.

Mereka pun bingung bukan kepalang. Tak ada yang menyangka, tersangka bisa melakukannya dengan super-senyap. Lalu bagaimana jawabannya? Jawabannya adalah, tersangka yang berinisial AMR, telah melakukan “riset” sebelumnya.

Dugaan bahwa perencanan terhadap kasus ini telah dilakukan sebelumnya, juga semakin kuat, tatkala polisi menetapkan tersangka dengan pasal pembunuhan berencana. Pasal pembunuhan yang paling berat ancaman hukumannya.

Jika dikenakan pada orang dewasa, hukuman mati adalah hukuman maksimalnya. Sementara jika pelakunya anak, maksimal 10 tahun penjara.

Malam hari sang tersangka menginap di bangunan barak korban, yang bukan tempat tidurnya. Ada dugaan untuk menghindari CCTV yang berada di lorong asrama, yang akan tertangkap kamera bila pindah ke barak di waktu dini hari, dan masih banyak cerita lain yang saya dapatkan.

Banyak cerita off the record, yang tentu saya tidak bisa ceritakan di sini. Saya dapatkan cerita-cerita tersebut, dari dalam lingkungan sekolah dan juga luar sekolah.

Pokoknya, semua saya cari tahu, dari sumber-sumber yang kredibel. Saya juga tidak nyaman untuk menceritakan bagaimana proses itu dilakukannya.

Apakah detail tersangka perlu diungkap? Jangan! Meski saya bisa jabarkan dengan lengkap soal ini, lagi-lagi berdasarkan keterangan sumber yang kredibel. Saya melindungi tersangka yang masih berusia anak.


Seleksi masuk TN

Saya lanjutkan saja ya ke pertanyaan kedua. Bagaimana bisa, tes yang begitu ketat sebagai seleksi masuk ke sekolah ini, tidak bisa mendeteksi adanya kejanggalan pada kepribadian tersangka?

KOMPAS.com/Ika Fitriana Siswa SMA Taruna Nusantara sedang memperoleh pengarahan dari pamongnya sebelum proses trauma healing, Selasa (4/4/2017).

Sebelum menjawab hal ini, saya ingin menyampaikan, bahwa baik tersangka maupun korban, adalah keluarga besar Jenderal di lingkungan TNI. Saya coba tanyakan hal ini, kepada guru senior di SMA TN, Cecep Iskandar.

Baca juga: Alumni SMA Taruna Nusantara "Turun Gunung" Pulihkan Psikologis Adik Angkatannya

Cecep pun tak punya jawaban. Ia menyerahkan kejanggalan hasil tes yang tidak terdeteksi ini, ke Kementerian Pertahanan, sebagai pembina sekolah termahsyur ini.

Terlepas dari kedua pertanyaan dengan jawaban ini, ada satu yang saya dapatkan data dari penelusuran saya ini.

Kementerian Kesehatan di tahun 2011 lalu, memetakan bahwa ada 11 persen lebih dari orang dewasa di Indonesia yang mengalami depresi yang jumlahnya mencapai 11 juta orang lebih.

Depresi bisa berujung pada tindakan di luar kewajaran, dari yang ringan sampai yang berat. Pembunuhan, bahkan direncanakan bisa jadi salah satunya.

Terlebih di musim pemilihan kepala daerah sekarang ini, harus diakui, banyak orang yang kehilangan akal sehatnya, membuat fitnah, yang memunculkan perpecahan.

Baca juga: Tersangka Pembunuhan Siswa SMA Taruna Nusantara Terobsesi Film "Rambo"

Saya yakin, jumlah di tahun 2011, bertambah di 2017 ini. Fenomena bunuh diri dan kasus - kasus lain yang terdengar selama beberapa pekan ini, seolah jadi penguat hipotesis saya.

Alhasil, saya jadi teringat pada pesan “Bang Napi” pada salah satu program berita kriminal yang lahir dan marak di TV di awal masa reformasi dan pembentukan pertama kali Undang Undang Penyiaran di tahun 2002.

Namun, kini program berita kriminal itu sudah dihapus dari layar. Waspadalah… Waspadalah…! 

Kompas TV Pembunuhan di Barak

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAmir Sodikin
Komentar