Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bantu Mama Maria Perbaiki Gubuknya yang Gelap dan Nyaris Ambruk

Kompas.com - 23/02/2024, 05:00 WIB
Muhamad Syahrial

Editor

Sumber Kompas.com

"Kami hanya pasrah saja dengan kondisi ini. Mau bagaimana lagi? Saya sendiri berjuang supaya anak-anak bisa makan dan tetap sekolah," tegasnya.

Tidak mampu perbaiki rumahnya

Mama Maria juga mengakui bahwa dia tidak mampu memperbaiki gubuknya yang telah reyot dan tidak layak huni.

Suaminya telah lama merantau ke Kalimantan. Telah lama juga pria itu tidak mengiriminya kabar, apalagi uang untuk kehidupan ketiga anaknya.

Baca juga: Video Kemunculan Ratusan Ekor Lumba-lumba di Pantai Pancer Banyuwangi, Ini Kata Pengunggah dan Nelayan

“(Bingung) Mau perbaiki rumah atau beli makan sehari-hari. Mau makan saja kami ini susah,” ujar Mama Maria.

Untuk makan sehari-hari, lanjutnya, Mama Maria bekerja membersihkan kebun milik orang lain dengan upah Rp 25.000 per hari. Dengan uang itulah Mama Maria membeli beras dan kebutuhan pokok lain untuk anak-anaknya.

Namun, tak setiap hari pemilik kebun meminta jasanya. Itu artinya, tidak setiap hari juga Mama Maria bisa membeli bahan pangan untuk mengisi empat perut di gubuk reyotnya.

Kompas.com mengajak pembaca untuk membantu Mama Maria. Uluran tangan Anda dapat disalurkan dengan cara klik di sini

“Ya, kalau tidak dapat harian berarti tidak bisa beli beras. Kalau tidak ada uang beli beras, terpaksa saya harus pergi ngemis "bon" di kios. Kadang juga pergi ke keluarga. Kalau itu juga tidak ada, kami makan apa saja yang ada, makan ubi, intinya perut kenyang,” ucap Mama Maria sambil tak kuasa menahan air matanya.

Bantuan pemerintah tidak cukup

Mama Maria mengatakan, keluarganya memang terdaftar sebagai penerima bantuan sosial (Bansos) melalui Program Keluarga Harapan (PKH).

Baca juga: Culik dan Lecehkan Penumpang, Tukang Becak di Medan Ditangkap

Akan tetapi, dia menyatakan bahwa jumlah bantuan yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

"Paling besar Rp 150.000. Jumlah ini tidak cukup untuk kebutuhan kami," ungkapnya.

"Semoga ada orang baik yang bisa membantu dan peduli dengan keadaan kami. Semoga pemerintah yang di atas juga bisa melihat penderitaan keluarga saya," tutur Mama Maria.

"Mohon bantu keluarga kami," pungkasnya.

Kompas.com mengajak pembaca untuk membantu Mama Maria. Uluran tangan Anda dapat disalurkan dengan cara klik di sini

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

8 Alat Musik Tradisional Sumatera Barat dan Cara Memainkannya

8 Alat Musik Tradisional Sumatera Barat dan Cara Memainkannya

Regional
Trauma, Gadis Pemohon KTP Korban Pelecehan Seksual di Nunukan Menangis Saat Diperiksa

Trauma, Gadis Pemohon KTP Korban Pelecehan Seksual di Nunukan Menangis Saat Diperiksa

Regional
PKB-Gerindra Jajaki Koalisi untuk Pilkada Jateng, Gus Yusuf: Cinta Lama Bersemi Kembali

PKB-Gerindra Jajaki Koalisi untuk Pilkada Jateng, Gus Yusuf: Cinta Lama Bersemi Kembali

Regional
Sempat Jadi Bupati Karanganyar Selama 26 Hari, Rober Christanto Maju Lagi di Pilkada

Sempat Jadi Bupati Karanganyar Selama 26 Hari, Rober Christanto Maju Lagi di Pilkada

Regional
Antisipasi Banjir, Mbak Ita Instruksikan Pembersihan dan Pembongkaran PJM Tanpa Izin di Wolter Monginsidi

Antisipasi Banjir, Mbak Ita Instruksikan Pembersihan dan Pembongkaran PJM Tanpa Izin di Wolter Monginsidi

Regional
Soal Wacana DPA Dihidupkan Kembali, Mahfud MD Sebut Berlebihan

Soal Wacana DPA Dihidupkan Kembali, Mahfud MD Sebut Berlebihan

Regional
Baliho Bakal Cawalkot Solo Mulai Bermunculan, Bawaslu: Belum Melanggar

Baliho Bakal Cawalkot Solo Mulai Bermunculan, Bawaslu: Belum Melanggar

Regional
Ayah di Mataram Lecehkan Anak Kandung 12 Tahun, Berdalih Mabuk sehingga Tak Sadar

Ayah di Mataram Lecehkan Anak Kandung 12 Tahun, Berdalih Mabuk sehingga Tak Sadar

Regional
Jembatan Penghubung Desa di Kepulauan Meranti Ambruk

Jembatan Penghubung Desa di Kepulauan Meranti Ambruk

Regional
Universitas Andalas Buka Seleksi Mandiri, Bisa lewat Jalur Tahfiz atau Difabel

Universitas Andalas Buka Seleksi Mandiri, Bisa lewat Jalur Tahfiz atau Difabel

Regional
Pemkab Bandung Raih Opini WTP 8 Kali Berturut-turut dari BPK RI

Pemkab Bandung Raih Opini WTP 8 Kali Berturut-turut dari BPK RI

Regional
Berikan Pelayanan Publik Prima, Pemkab HST Terima Apresiasi dari Gubernur Kalsel

Berikan Pelayanan Publik Prima, Pemkab HST Terima Apresiasi dari Gubernur Kalsel

Regional
Penculik Balita di Bima Ditangkap di Dompu, Korban dalam Kondisi Selamat

Penculik Balita di Bima Ditangkap di Dompu, Korban dalam Kondisi Selamat

Regional
Candi Ngawen di Magelang: Arsitektur, Relief, dan Wisata

Candi Ngawen di Magelang: Arsitektur, Relief, dan Wisata

Regional
Pria di Magelang Perkosa Adik Ipar, Korban Diancam jika Lapor

Pria di Magelang Perkosa Adik Ipar, Korban Diancam jika Lapor

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com