Tempe, Makanan Sejuta Umat yang Bertahan di Tengah Gempuran Kedelai Impor

Kompas.com - 08/06/2021, 12:52 WIB
Di Indonesia, ia dikenal sebagai 'makanan sejuta umat'. Di mancanegara, ia mendapat reputasi sebagai superfood dan makanan vegetarian pengganti daging. Apapun itu, tempe merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner masyarakat Indonesia. Harviyan Perdana Putra/AntarafotoDi Indonesia, ia dikenal sebagai 'makanan sejuta umat'. Di mancanegara, ia mendapat reputasi sebagai superfood dan makanan vegetarian pengganti daging. Apapun itu, tempe merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner masyarakat Indonesia.
Editor Rachmawati

Anjloknya lahan kedelai karena faktor harga

Di lahan sawah seluas 700 hektare yang mencakup tiga desa di Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, sampai tiga tahun lalu terhampar tanaman kedelai sejauh mata memandang. Tetapi sekarang, sebagian besarnya adalah tanaman padi.

Kabupaten Grobogan adalah salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia. Luas lahan yang ditanami kedelai di wilayah itu berkurang dari sekitar 26.000 Ha pada tahun 2017 hingga sekitar 7000 Ha pada tahun 2019, menurut Badan Pusat Statistik Jawa Tengah.

Di Kecamatan Pulokulon saja, luas lahan yang ditanami kedelai telah menyusut dari 5.000-6.000 hektare menjadi di bawah 1.000 hektare. Kedelai kini ditanam dalam petak-petak kecil, umumnya bukan untuk bahan pangan melainkan keperluan pembenihan atau riset.

Baca juga: 9 Fakta Menarik Soal Tempe, Makanan Kesukaan Soekarno

Salah satu pemilik lahan petak tersebut adalah Abdul Karim, pria yang mengaku sebagai "petani tulen dari kecil".

Ia mengelola lahan seluas tiga perempat bau atau sekitar setengah hektare, yang sejak orang tuanya masih hidup hampir semuanya ditanami kedelai.

Sekarang, ia menyewakan satu wolon atau sekitar 825 meter persegi kepada badan penelitian untuk uji varietas kedelai. Sisanya, ia tanami dengan padi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Abdul Karim berkata kepada BBC bahwa alasannya beralih adalah harga kedelai yang sangat murah di pasaran. Ketika panen raya, katanya, kedelai dibeli tengkulak dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram.

Baca juga: 6 Manfaat Tempe untuk Kesehatan yang Sayang Dilewatkan

Abdul Karim telah menanam kedelai secara turun-temurun, namun memutuskan beralih ke komoditas yang lebih menguntungkan.dok BBC Indonesia Abdul Karim telah menanam kedelai secara turun-temurun, namun memutuskan beralih ke komoditas yang lebih menguntungkan.
"Maka petani merasa rugi. Karena itu kami beralih ke padi," kata Abdul Karim, yang memimpin kelompok tani di desanya.

Ia menjelaskan bahwa harga kedelai lokal selalu mengikuti harga kedelai impor. Ketika harga kedelai impor tinggi, harga kedelai lokal ikut tinggi.

Saat ini, harga kedelai di Indonesia mengikuti permintaan pasar. Hal ini berbeda dengan padi, yang harganya diatur melalui Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Abdul Karim mengatakan, jika para petani mendapatkan kepastian harga kedelai, minimal Rp 8.000 per kilogram, minat mereka untuk menanam kedelai akan bangkit kembali.

Baca juga: Resep Tempe Goreng Kremes, Lauk Renyah untuk Makan Siang

"Pokok kami petani adalah harga kedelai itu diperbaiki, dalam artian pemerintah harus bisa memberi HPP kepastian harga kedelai. Minimal harga kedelai itu Rp 8.000 ke atas, Insya Allah petani sudah ada satu kenikmatan peningkatan," ujarnya.

Selain harga, perubahan iklim juga memengaruhi produksi kedelai di Kabupaten Grobogan, kata Ali Mohtar (56) petani dan penangkar benih kedelai di Kecamatan Pulokulon.

Ia menjelaskan bahwa musim hujan, waktu untuk mulai menanam kedelai, semakin mundur dari tahun ke tahun.

Baca juga: Sandiaga Uno Berambisi Jadikan Tempe sebagai Warisan Budaya Dunia

"Waktu saya masih agak muda, September itu sudah bisa tanam kedelai, namun makin tahun-makin tahun, Oktober sampai November baru turun hujan atau baru tanam," ujarnya.

Itu menyebabkan masa panen jatuh di bulan Januari sampai Februari, puncak musim penghujan, yang memengaruhi penanganan pascapanen kedelai. Menurut Ali, kurangnya panas menurunkan kualitas kedelai.

"Akhirnya produksinya bagus tetapi [ketika] penanganan pascapanen, karena kurangnya panas, hingga akhirnya kualitas agak jelek, bahkan ada yang jelek," kata Ali.

Kualitas itu memengaruhi harga sehingga harga kedelai lokal selalu di bawah kedelai impor, tambahnya.

Baca juga: Harga Kedelai Dunia Turun, Kemendag Berharap Produsen Tempe Makin Bergairah

Ali Mohtar mengatakan perubahan iklim juga memengaruhi produksi kedelai, yang berdampak pada kualitas dan, akhirnya, harga.dok BBC Indonesia Ali Mohtar mengatakan perubahan iklim juga memengaruhi produksi kedelai, yang berdampak pada kualitas dan, akhirnya, harga.
Badan Litbang Pertanian telah menciptakan varietas-varietas unggul kedelai untuk ditanam di berbagai kondisi.

Total ada 105 varietas unggul dengan beragam sifat seperti biji besar, biji kecil, toleran terhadap kekeringan, dan toleran terhadap jenuh air.

"Kami sudah sering melakukan pengembangan, semacam diseminasi. Jadi sudah banyak varietas-varietas kita yang diserap oleh petani seperti Anjasmoro, Dering, Dega, Detab, dan banyak lagi," kata Purwantoro, peneliti kedelai di Balai Penelitian Kacang dan Umbi (Balitkabi), Malang.

Baca juga: Sejarah Tempe, Superfood dari Indonesia

Bagaimanapun, menurut Abdul Karim, benih bukanlah masalah utama bagi para petani kedelai.

Dia mengatakan, meskipun para petani di desanya bersyukur dengan bantuan benih dari Dinas Pertanian setempat, tanpa insentif yang cukup para petani tidak akan menanam kedelai.

"Maka dari itu kami selalu usul dengan orang-orang dari Dinas [Pertanian] enggak usah dibantu benihnya, tapi kami minta dibantu harga kedelainya.

"Dengan adanya harga meningkat, otomatis tanpa bantuan benih petani pun akan berduyun-duyun beli benih. Walaupun harganya mahal."

Baca juga: Kabar Gembira, Tempe Diajukan Jadi Warisan Budaya UNESCO

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Paman Ungkap Kondisi Terakhir Jenazah Mahasiswa UNS yang Tewas Saat Diklatsar Menwa: Mukanya Lebam

Paman Ungkap Kondisi Terakhir Jenazah Mahasiswa UNS yang Tewas Saat Diklatsar Menwa: Mukanya Lebam

Regional
Gara-gara Ritual Buang Sial, Gunung Sanggabuana Karawang Dipenuhi Celana Dalam

Gara-gara Ritual Buang Sial, Gunung Sanggabuana Karawang Dipenuhi Celana Dalam

Regional
Mayat Wanita Terbungkus Plastik di Hutan Grobogan, Polisi: Dibunuh Kekasih Usai Cekcok

Mayat Wanita Terbungkus Plastik di Hutan Grobogan, Polisi: Dibunuh Kekasih Usai Cekcok

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 25 Oktober 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 25 Oktober 2021

Regional
Ada Syarat Tes PCR, 38 Penumpang Pesawat Gagal Terbang dari Bandara YIA Kulonprogo

Ada Syarat Tes PCR, 38 Penumpang Pesawat Gagal Terbang dari Bandara YIA Kulonprogo

Regional
Bandara Pekanbaru Wajibkan Penumpang Pesawat Tujuan Jawa-Bali Ada Surat Hasil PCR Negatif

Bandara Pekanbaru Wajibkan Penumpang Pesawat Tujuan Jawa-Bali Ada Surat Hasil PCR Negatif

Regional
Wali Kota Pekanbaru: Tempat Kuliner 'Kucing-kucingan' dengan Petugas, Pelayannya Tak Pakai Masker...

Wali Kota Pekanbaru: Tempat Kuliner "Kucing-kucingan" dengan Petugas, Pelayannya Tak Pakai Masker...

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTB, NTT, Kalbar, dan Kalsel 25 Oktober 2021

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTB, NTT, Kalbar, dan Kalsel 25 Oktober 2021

Regional
Penjelasan PT INKA soal Tabrakan LRT Jabodetabek

Penjelasan PT INKA soal Tabrakan LRT Jabodetabek

Regional
Honor 174 Anggota Satgas Covid-19 Sultra Belum Dibayar, Polisi Periksa Kepala BPBD dan Bendahara

Honor 174 Anggota Satgas Covid-19 Sultra Belum Dibayar, Polisi Periksa Kepala BPBD dan Bendahara

Regional
Diteror dan Diancam Pinjol Ilegal, Simak Imbauan Polda Jateng Ini

Diteror dan Diancam Pinjol Ilegal, Simak Imbauan Polda Jateng Ini

Regional
Hasil Olah TKP Janggal, Polisi Bongkar Makam Remaja Tewas di Bawah Jembatan Palembang

Hasil Olah TKP Janggal, Polisi Bongkar Makam Remaja Tewas di Bawah Jembatan Palembang

Regional
Yudist Ardhana, dari Magician hingga Sukses Jadi YouTuber Pulau Dewata (Bagian 1)

Yudist Ardhana, dari Magician hingga Sukses Jadi YouTuber Pulau Dewata (Bagian 1)

Regional
Sempat Ditutup Usai Kecelakaan Pesawat, Bandara Aminggaru Ilaga Kembali Dibuka

Sempat Ditutup Usai Kecelakaan Pesawat, Bandara Aminggaru Ilaga Kembali Dibuka

Regional
3 Kios di Pasar Runjung Purbalingga Hanyut Diterjang Banjir Bandang

3 Kios di Pasar Runjung Purbalingga Hanyut Diterjang Banjir Bandang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.