Tempe, Makanan Sejuta Umat yang Bertahan di Tengah Gempuran Kedelai Impor

Kompas.com - 08/06/2021, 12:52 WIB
ilustrasi tempe. SHUTTERSTOCK/Kristantiilustrasi tempe.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Di Indonesia, tempe dikenal sebagai 'makanan sejuta umat'. Di mancanegara, ia mendapat reputasi sebagai "superfood" dan makanan vegetarian pengganti daging.

Apapun itu, tempe merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner masyarakat Indonesia.

Namun meskipun tempe diakui sebagai makanan asli Indonesia, sebagian besar kedelai yang digunakan untuk konsumsi dalam negeri didapatkan dari impor, terutama Amerika Serikat.

Baca juga: Jadi Makanan Favorit Presiden Soekarno, Ini 7 Jenis Tempe di Indonesia

Akibatnya - karena tidak bisa bersaing dengan produk impor- banyak petani kedelai di Indonesia beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan.

Menurut data Kementerian Pertanian, saat ini sekitar 70% kebutuhan kedelai di dalam negeri dipenuhi dari impor.

Seorang sejarawan kuliner, Fadly Rahman, mengatakan kondisi ini merupakan "ironi" karena tradisi dan sejarah tempe sangat terkait dengan produksi kedelai dalam negeri - yang pernah sama jumlahnya dengan produksi beras.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Sama-sama Olahan Kedelai, Mana yang Lebih Sehat Tempe atau Tahu?

Fadly - penulis buku Rijstaffel: Budaya Kuliner di Indonesia masa Kolonial 1870-1942 - mengatakan panganan asli Indonesia ini menjadi penyelamat rakyat Jawa pada masa kolonial Belanda dan telah dibuktikan di laboratorium Eropa lebih dari 90 tahun lalu, sebagai makanan super.

Memasok produksi tempe dengan kedelai dalam negeri, kata Fadly, merupakan langkah yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia untuk "secara paripurna" mempertahankan tempe sebagai identitas kulinernya.

Baca juga: Hari Tempe Nasional, Coba 21 Resep Olahan Tempe Favorit Ini

Anjloknya lahan kedelai karena faktor harga

Di Indonesia, ia dikenal sebagai 'makanan sejuta umat'. Di mancanegara, ia mendapat reputasi sebagai superfood dan makanan vegetarian pengganti daging. Apapun itu, tempe merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner masyarakat Indonesia.Harviyan Perdana Putra/Antarafoto Di Indonesia, ia dikenal sebagai 'makanan sejuta umat'. Di mancanegara, ia mendapat reputasi sebagai superfood dan makanan vegetarian pengganti daging. Apapun itu, tempe merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner masyarakat Indonesia.
Di lahan sawah seluas 700 hektare yang mencakup tiga desa di Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, sampai tiga tahun lalu terhampar tanaman kedelai sejauh mata memandang. Tetapi sekarang, sebagian besarnya adalah tanaman padi.

Kabupaten Grobogan adalah salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia. Luas lahan yang ditanami kedelai di wilayah itu berkurang dari sekitar 26.000 Ha pada tahun 2017 hingga sekitar 7000 Ha pada tahun 2019, menurut Badan Pusat Statistik Jawa Tengah.

Di Kecamatan Pulokulon saja, luas lahan yang ditanami kedelai telah menyusut dari 5.000-6.000 hektare menjadi di bawah 1.000 hektare. Kedelai kini ditanam dalam petak-petak kecil, umumnya bukan untuk bahan pangan melainkan keperluan pembenihan atau riset.

Baca juga: 9 Fakta Menarik Soal Tempe, Makanan Kesukaan Soekarno

Salah satu pemilik lahan petak tersebut adalah Abdul Karim, pria yang mengaku sebagai "petani tulen dari kecil".

Ia mengelola lahan seluas tiga perempat bau atau sekitar setengah hektare, yang sejak orang tuanya masih hidup hampir semuanya ditanami kedelai.

Sekarang, ia menyewakan satu wolon atau sekitar 825 meter persegi kepada badan penelitian untuk uji varietas kedelai. Sisanya, ia tanami dengan padi.

Abdul Karim berkata kepada BBC bahwa alasannya beralih adalah harga kedelai yang sangat murah di pasaran. Ketika panen raya, katanya, kedelai dibeli tengkulak dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram.

Baca juga: 6 Manfaat Tempe untuk Kesehatan yang Sayang Dilewatkan

Abdul Karim telah menanam kedelai secara turun-temurun, namun memutuskan beralih ke komoditas yang lebih menguntungkan.dok BBC Indonesia Abdul Karim telah menanam kedelai secara turun-temurun, namun memutuskan beralih ke komoditas yang lebih menguntungkan.
"Maka petani merasa rugi. Karena itu kami beralih ke padi," kata Abdul Karim, yang memimpin kelompok tani di desanya.

Ia menjelaskan bahwa harga kedelai lokal selalu mengikuti harga kedelai impor. Ketika harga kedelai impor tinggi, harga kedelai lokal ikut tinggi.

Saat ini, harga kedelai di Indonesia mengikuti permintaan pasar. Hal ini berbeda dengan padi, yang harganya diatur melalui Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Abdul Karim mengatakan, jika para petani mendapatkan kepastian harga kedelai, minimal Rp 8.000 per kilogram, minat mereka untuk menanam kedelai akan bangkit kembali.

Baca juga: Resep Tempe Goreng Kremes, Lauk Renyah untuk Makan Siang

"Pokok kami petani adalah harga kedelai itu diperbaiki, dalam artian pemerintah harus bisa memberi HPP kepastian harga kedelai. Minimal harga kedelai itu Rp 8.000 ke atas, Insya Allah petani sudah ada satu kenikmatan peningkatan," ujarnya.

Selain harga, perubahan iklim juga memengaruhi produksi kedelai di Kabupaten Grobogan, kata Ali Mohtar (56) petani dan penangkar benih kedelai di Kecamatan Pulokulon.

Ia menjelaskan bahwa musim hujan, waktu untuk mulai menanam kedelai, semakin mundur dari tahun ke tahun.

Baca juga: Sandiaga Uno Berambisi Jadikan Tempe sebagai Warisan Budaya Dunia

"Waktu saya masih agak muda, September itu sudah bisa tanam kedelai, namun makin tahun-makin tahun, Oktober sampai November baru turun hujan atau baru tanam," ujarnya.

Itu menyebabkan masa panen jatuh di bulan Januari sampai Februari, puncak musim penghujan, yang memengaruhi penanganan pascapanen kedelai. Menurut Ali, kurangnya panas menurunkan kualitas kedelai.

"Akhirnya produksinya bagus tetapi [ketika] penanganan pascapanen, karena kurangnya panas, hingga akhirnya kualitas agak jelek, bahkan ada yang jelek," kata Ali.

Kualitas itu memengaruhi harga sehingga harga kedelai lokal selalu di bawah kedelai impor, tambahnya.

Baca juga: Harga Kedelai Dunia Turun, Kemendag Berharap Produsen Tempe Makin Bergairah

Ali Mohtar mengatakan perubahan iklim juga memengaruhi produksi kedelai, yang berdampak pada kualitas dan, akhirnya, harga.dok BBC Indonesia Ali Mohtar mengatakan perubahan iklim juga memengaruhi produksi kedelai, yang berdampak pada kualitas dan, akhirnya, harga.
Badan Litbang Pertanian telah menciptakan varietas-varietas unggul kedelai untuk ditanam di berbagai kondisi.

Total ada 105 varietas unggul dengan beragam sifat seperti biji besar, biji kecil, toleran terhadap kekeringan, dan toleran terhadap jenuh air.

"Kami sudah sering melakukan pengembangan, semacam diseminasi. Jadi sudah banyak varietas-varietas kita yang diserap oleh petani seperti Anjasmoro, Dering, Dega, Detab, dan banyak lagi," kata Purwantoro, peneliti kedelai di Balai Penelitian Kacang dan Umbi (Balitkabi), Malang.

Baca juga: Sejarah Tempe, Superfood dari Indonesia

Bagaimanapun, menurut Abdul Karim, benih bukanlah masalah utama bagi para petani kedelai.

Dia mengatakan, meskipun para petani di desanya bersyukur dengan bantuan benih dari Dinas Pertanian setempat, tanpa insentif yang cukup para petani tidak akan menanam kedelai.

"Maka dari itu kami selalu usul dengan orang-orang dari Dinas [Pertanian] enggak usah dibantu benihnya, tapi kami minta dibantu harga kedelainya.

"Dengan adanya harga meningkat, otomatis tanpa bantuan benih petani pun akan berduyun-duyun beli benih. Walaupun harganya mahal."

Baca juga: Kabar Gembira, Tempe Diajukan Jadi Warisan Budaya UNESCO

Ditentukan pasar

Harga kedelai di Indonesia ditentukan oleh permintaan pasar, tidak diatur seperti harga beras.dok BBC Indonesia Harga kedelai di Indonesia ditentukan oleh permintaan pasar, tidak diatur seperti harga beras.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri di Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, menjelaskan bahwa alasan pemerintah tidak mengatur harga kedelai adalah karena produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan nasional.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi kedelai dalam negeri baru menutupi sekitar 30% dari kebutuhan nasional sebesar 2,2 juta ton.

Menurut Oke Nurwan, itu karena para petani di Indonesia "tidak fokus" menanam kedelai, menjadikannya tanaman sela setelah padi untuk memperbaiki unsur hara di dalam tanah.

Baca juga: 4 Kuliner Yogyakarta yang Hampir Punah, Kethak Blondo hingga Besengek Tempe Benguk

"Sehingga saat ini, kami sangat mendukung bila ini bisa dipasok nasional. Tetapi kalau pola tanamnya masih sedikit-sedikit, dan masih tanaman sela, saya kira butuh waktu yang lama untuk menggantikan impor," kata Oke kepada BBC News Indonesia.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa jika harga kedelai diatur, itu akan menyusahkan pengrajin tahu dan tempe yang membutuhkan bahan baku murah. Kebutuhan masyarakat Indonesia akan tahu dan tempe, kata Oke, begitu besar.

Ia mencontohkan bahwa saat ini harga kedelai dunia sedang naik karena permintaan besar dari China.

Baca juga: Siapa Sangka, Awalnya Tugas Kuliah, Usaha Tempe Benny Kini Beromzet Rp 100 Juta Sebulan

Ifan Kuncoro mengatakan para pengrajin tempe di Kampung Sanan masih bergantung pada kedelai impor.dok BBC Indonesia Ifan Kuncoro mengatakan para pengrajin tempe di Kampung Sanan masih bergantung pada kedelai impor.
Kenaikan harga hingga Rp 9.000 hingga Rp 10.000 ini memang membuat para petani semangat untuk menanam kedelai, tetapi sekarang giliran para pengrajin tempe yang protes.

Harga tahu dan tempe sekarang sudah bisa menembus Rp 17.000 per kilogram karena harga kedelai menembus US$15 per gantang, kata Oke.

"Saya paham petani masih punya alternatif untuk menanam yang lain tetapi bagaimana dengan pengrajin tahu-tempe, begitu harga naik?

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Pedagang Tempe Tahu di Semarang Banyak Dikomplain Pembeli

"Jadi itu alasannya mengapa sampai saat ini kedelai masih diatur bebas. Karena produksi dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan dari masyarakat Indonesia yang masih senang tahu-tempe," kata dia.

Alasan itu diamini para pengrajin tempe di Kampung Sanan, Malang.

Dikenal sebagai sentra industri tempe dan keripik tempe, Kampung Sanan adalah rumah bagi lebih dari 600 pengrajin tempe yang biasanya membutuhkan bahan baku kedelai hampir 40 ton per hari.

Para pengrajin tempe di Kampung Sanan masih bergantung pada kedelai impor dari Amerika Serikat.

Baca juga: Singgung Soal Tahu-Tempe, Jokowi Minta Perbaikan Produksi Kedelai Lokal

Iis mengatakan para pengrajin tak akan ragu untuk beralih ke kedelai lokal jika bahannya tersedia.dok BBC Indonesia Iis mengatakan para pengrajin tak akan ragu untuk beralih ke kedelai lokal jika bahannya tersedia.
Ifan Kuncoro (43) salah satu pengrajin tempe di Kampung Sanan, mengaku kesulitan mencari kedelai lokal.

"Adapun itu kualitasnya kurang bagus, ada yang bagus kualitasnya sama dengan impor tapi harganya juga mahal," ia berkata kepada BBC.

Meski begitu ia mengatakan bahwa jika ada kedelai lokal yang tersedia dan harganya terjangkau, para pengusaha di Kampung Sanan akan beralih.

"Kalau memang barangnya ada, kualitasnya sama, barangnya sama, mungkin kita cenderung ke lokal. Karena kalau kedelai lokal, selain tempe ini makanan asli Indonesia, rasanya juga lebih enak," kata Ifan.

Baca juga: Imbas Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Tempe Tasikmalaya Kurangi Ukuran

Jawaban serupa dilontarkan Iis, pengrajin tempe dan keripik tempe "Amanah" di Kampung Sanan.

Ia mengatakan, kedelai lokal lebih sulit diproses menjadi keripik tempe, dan dapat menghasilkan produk yang rasanya "agak kecut".

Meski begitu, ia tidak akan ragu beralih jika kedelai lokal tersedia.

"Kalau Indonesia punya kedelai lokal, kenapa enggak pakai produknya Indonesia sendiri. Dan kita akan belajar, itu merupakan tantangan orang Indonesia sendiri termasuk pengrajin tempe dan keripik tempe," ungkapnya.

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Ukuran Tahu dan Tempe Diperkecil

Penyelamat rakyat di masa kolonial

Ilustrasi kedelaiKOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI Ilustrasi kedelai
Fakta bahwa tempe masih tergantung pada kedelai impor adalah sebuah "ironi" mengingat tradisi dan sejarah tempe di Indonesia berkaitan erat dengan produksi kedelai di dalam negeri.

Hal tersebut dijelaskan sejarawan kuliner Fadly Rahman dan penulis buku Rijstaffel: Budaya Kuliner di Indonesia masa Kolonial 1870-1942.

Fadly mengatakan tempe disebut dalam Serat Centhini, yang ditulis dalam abad ke-17 Masehi. Namun berdasarkan bukti tertulis, masyarakat Jawa kuno sudah mengenal teknik fermentasi di masa abad 8-10 Masehi.

Baca juga: Sandiaga Pernah Kritik Tempe Setipis Kartu ATM, Bagaimana Sikap Gerindra Sekarang?

Menurut pakar tempe dari Universitas Gajah Mada, Profesor Mary Astuti, teknik membuat "tempe" mungkin berasal dari makanan di masa Jawa kuno bernama tumpi, yang terbuat dari sagu dicampur kedelai hitam.

"Itu sudah ada jauh sebelum datangnya kedelai dari Tiongkok yang berwarna kuning," kata Fadly.

Ia menjelaskan, sejak abad ke-10 Masehi kedelai dari Tiongkok kemungkinan sudah dibudidayakan di Nusantara, tepatnya di Pulau Jawa, sebagaimana tertulis dalam prasasti Watukura di Jawa Timur yang mengatakan ada makanan bernama tauhu atau tahu yang kita kenal sekarang.

Baca juga: Naiknya Harga Kedelai dan Saling Sindir Jokowi-Sandiaga soal Tempe Setipis Kartu ATM...

Ilustrasi tempe kedelai di atas nampan. SHUTTERSTOCK/ARIF RELANO OBA Ilustrasi tempe kedelai di atas nampan.
Sejak itu, dari abad ke abad pembudidayaan kedelai berkembang masif di Nusantara, khususnya di Jawa.

Fadly mengatakan, produksi kedelai saat itu hampir setara dengan beras.

Pada abad ke-17, seorang ahli botani asal Jerman yang bekerja untuk VOC - organisasi dagang di zaman kolonial Belanda - Rumphius, mengatakan bahwa orang Jawa mengonsumsi sejenis makanan yang difermentasi dari kacang kedelai untuk memenuhi kebutuhan protein hewani.

Kemungkinan, makanan yang dimaksud itu adalah tempe.

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Perajin Tak Bisa Lagi Kurangi Ukuran Tempe hingga Terpaksa Kurangi Bonus Pegawai

"Orang-orang Jawa, walaupun saat itu belum mengenal pengetahuan gizi seperti sekarang, boleh dikatakan mereka sangat paham kedelai ini memiliki kandungan protein yang setara dengan protein hewani," ujarnya.

Literatur-literatur tersebut menarik perhatian orang-orang Belanda - khususnya para ahli pangan, ahli gizi, dan ahli botani - yang melihat tempe sebagai makanan rakyat jelata.

Awalnya mereka menganggap rendah tempe, namun seiring dengan temuan-temuan di bidang gizi, nilai tempe naik di mata mereka pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 sebagai makanan penyelamat di masa sulit.

Baca juga: Kedelai Mahal, Produsen Naikkan Harga dan Kurangi Panjang Tempe

Ilustrasi tempe bakar buat lauk.SHUTTERSTOCK/VINSENSSANDY Ilustrasi tempe bakar buat lauk.
Fadly menjelaskan, perkembangan tempe di masa tanam paksa atau cultuurstelsel semakin meningkatkan pamor tempe sebagai makanan penyelamat rakyat Jawa.

"Karena mereka [rakyat Jawa] bekerja di perkebunan-perkebunan milik orang Belanda dan tidak sempat mengurus ternaknya, lahan pertaniannya, sehingga banyak ternak yang mati dan lahan pertanian gagal panen, dan yang paling mereka andalkan itu adalah kedelai dan produk-produk olahannya - di Jawa Barat ada oncom, di Jawa Tengah dan sekitarnya ada tempe.

"Dan ternyata dari penelitian yang dilakukan oleh para ahli gizi Belanda, mereka melihat bahwa yang membuat orang-orang Jawa bisa bertahan hidup sekalipun mereka mengalami krisis pangan, karena mereka bisa menggantikan kebutuhan protein hewani mereka dengan tempe," kata Fadly.

Baca juga: Polemik Harga Tahu Tempe Melonjak, Berawal dari Keluhan Produsen soal Mahalnya Kedelai

Salah satu puncak kejayaan tempe adalah ketika krisis ekonomi global pada tahun 1930-an, yang dampaknya juga dirasakan di Indonesia.

Orang-orang Belanda sudah tidak bisa lagi hidup bermewah-mewahan dengan makan daging - dan produk-produk hewani seperti mentega dan keju itu sangat langka dan sangat mahal.

Para ahli di masa itu menemukan dalam uji laboratorium mereka, kata Fadly, bahwa tempe memiliki kandungan gizi yang luar biasa - bahkan pada tahun 1930-an, ia sudah mendapatkan reputasi sebagai 'superfood'.

Hasil penelitian itu bahkan dipresentasikan di Paris dan Belanda, sampai dilakukan eksperimen di laboratorium-laboratorium di Eropa yang mengganti tepung gandum dengan tepung kacang kedelai.

Baca juga: Tetap Produksi meski Harga Kedelai Mahal, Begini Cara Perajin Tempe Agar Tak Merugi

Dan hasil uji laboratorium di Eropa inilah yang diterapkan di negeri-negeri jajahan, termasuk Indonesia, demikian Fadly menjelaskan.

"Sehingga di buku-buku panduan masak di tahun 1930-an itu trennya bukan lagi daging tetapi mengarahkan para pembacanya supaya melakukan substitusi terhadap kacang kedelai, dan salah satu produknya itu adalah tempe," ujarnya.

Namun pamor tempe turun setelah Indonesia merdeka, dan ia kembali dianggap sebagai makanan kelas dua, salah satunya - ini juga ironis - karena pendiri bangsa dan presiden pertama Indonesia, Sukarno.

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Pedagang Tempe Tahu di Semarang Banyak Dikomplain Pembeli

Dalam pidato kemerdekaan pada 17 Agustus 1963, Sukarno menyerukan agar bangsa Indonesia tidak menjadi "bangsa tempe". Maksud sang pendiri bangsa ialah menyemangati bangsa Indonesia supaya tidak lembek dan tidak meminta-minta bantuan dari negara lain.

Namun asosiasi tempe dengan "makanan rendahan" melekat di hati masyarakat Indonesia.

"Bung Karno mungkin tidak menyadari saat itu dia terjebak dalam paradigma lama dari kolonialisme yang memandang awalnya tempe sebagai makanan rendahan," kata Fadly.

Baca juga: Usai Mogok 3 Hari, Pedagang Tempe di Pasar Induk Kramatjati Mulai Berjualan Lagi

'Lebih gurih dan enak'

Sutono berpose bersama tempe buatannya, yang menggunakan kedelai lokal.dok BBC Indonesia Sutono berpose bersama tempe buatannya, yang menggunakan kedelai lokal.
Membuat tempe dari kedelai lokal tidak hanya menguatkan identitasnya sebagai makanan khas Indonesia, itu juga bisa membuatnya menjadi lebih enak.

Sutono (53) telah memproduksi tempe dari kedelai lokal sejak awal dekade 2010-an. Ia menganggap kedelai lokal sebagai kedelai yang segar, sehingga menghasilkan tempe yang enak.

"Jadi kedelai lokal itu, freshness-nya (kesegaran) dapat, taste-nya (rasa) dapat. Orang lebih melihat itu sebagai konsumsi yang bergengsi, kalau tempenya pakai kedelai lokal," kata pengusaha yang berbasis di Surabaya itu.

Baca juga: Satgas Pangan Polda Jatim: Harga Kedelai Masih Tinggi di Sejumlah Daerah

BBC News Indonesia diberi kesempatan mencoba tempe yang dibuat dari kedelai lokal dan membandingkannya dengan tempe dari kedelai impor. Hasilnya, tempe dari kedelai lokal memiliki tekstur yang lebih lembut dan rasanya memang lebih gurih.

Harga tempe Hienak (singkatan dari higienis dan enak) buatan Sutono memang sedikit lebih mahal dari tempe di pasar.

Namun para pelanggan Sutono masih bisa menerimanya. Ia menyalurkan tempenya ke supermarket dan menjualnya secara online, tanpa ongkos kirim.

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu: Terpaksa Naikkan Harga walau Rugi

Ilustrasi Tempe GembusKompas.com Ilustrasi Tempe Gembus
Sutono mengatakan perusahaannya, Pendekar Tempe Sakti, tengah merintis untuk mengekspor tempenya ke Korea, Jepang, dan Inggris. "Tanggapan mereka bagus," katanya.

Dalam seluruh tahapan produksi tempenya, Sutono berusaha menerapkan standar kebersihan dan keamanan yang baik hingga produknya mendapat sertifikat ISO 9001 dan 22000.

Bagi dirinya, itu merupakan salah satu cara untuk membuat tempe kembali "naik kelas".

"Jadi kalau semuanya itu di lingkungan kerja yang baik, semuanya distandarkan baik maka orang itu akan jadi percaya, dan itu akan menaikkan pamor dari produk kita sendiri," ujarnya.

Baca juga: Harga Kedelai Dunia Turun, Kemendag Berharap Produsen Tempe Makin Bergairah

Bagaimanapun, fakta bahwa sebagian besar kedelai yang menjadi bahan baku tempe berasal dari luar negeri tidak menjadikan makanan itu "kurang Indonesia", menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman.

Itu karena tradisi dan sejarahnya sangat khas Indonesia.

Namun alangkah baiknya, kata Fadly, jika Indonesia dapat memenuhi kebutuhan kedelainya dari dalam negeri, karena dengan itu masyarakat Indonesia bisa mempertahankan tempe "secara paripurna" sebagai identitas kulinernya.

"Sehingga dengan begitu kita mengangkat martabat para petani kedelai kita supaya tidak selalu kalah dengan kedelai-kedelai impor."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fakta Tragedi Susur Sungai Ciamis, 11 Siswa MTs Harapan Baru Tewas Diduga Terbawa Arus

Fakta Tragedi Susur Sungai Ciamis, 11 Siswa MTs Harapan Baru Tewas Diduga Terbawa Arus

Regional
Cerita Dokter RS Terapung Unair Jalankan Misi ke 12 Pulau Kecil di Sumenep, Berantas Hoaks hingga Vaksinasi 3.000 Warga

Cerita Dokter RS Terapung Unair Jalankan Misi ke 12 Pulau Kecil di Sumenep, Berantas Hoaks hingga Vaksinasi 3.000 Warga

Regional
[POPULER NUSANTARA] Tangisan Eks Kapolsek Percut Sei Tuan | Mahasiswa yang Dibanting Polisi Dibawa ke RS

[POPULER NUSANTARA] Tangisan Eks Kapolsek Percut Sei Tuan | Mahasiswa yang Dibanting Polisi Dibawa ke RS

Regional
11 Siswa MTs Harapan Baru Ciamis Tewas dalam Tragedi Susur Sungai, Ini Kata Bupati

11 Siswa MTs Harapan Baru Ciamis Tewas dalam Tragedi Susur Sungai, Ini Kata Bupati

Regional
Polisi Sebut MTs Harapan Baru Ciamis Tak Laporkan Kegiatan Susur Sungai yang Tewaskan 11 Siswa

Polisi Sebut MTs Harapan Baru Ciamis Tak Laporkan Kegiatan Susur Sungai yang Tewaskan 11 Siswa

Regional
Tragedi Susur Sungai Ciamis, Air Meluap dari Hulu dan Sapu 11 Siswa MTs Harapan Baru hingga Tewas

Tragedi Susur Sungai Ciamis, Air Meluap dari Hulu dan Sapu 11 Siswa MTs Harapan Baru hingga Tewas

Regional
Daftar Nama 11 Siswa MTs Harapan Baru Korban Tewas Tragedi Susur Sungai Ciamis

Daftar Nama 11 Siswa MTs Harapan Baru Korban Tewas Tragedi Susur Sungai Ciamis

Regional
Kronologi Ditemukannya Jenazah 11 Siswa MTs Harapan Baru Korban Tragedi Susur Sungai Ciamis

Kronologi Ditemukannya Jenazah 11 Siswa MTs Harapan Baru Korban Tragedi Susur Sungai Ciamis

Regional
Gibran Sebut Pernyataan FX Rudy Tenangkan Kisruh Banteng Vs Celeng di PDI-P

Gibran Sebut Pernyataan FX Rudy Tenangkan Kisruh Banteng Vs Celeng di PDI-P

Regional
Diduga Aniaya Seorang Pendeta, Anggota DPRD Sumba Tengah Dilaporkan ke Polisi

Diduga Aniaya Seorang Pendeta, Anggota DPRD Sumba Tengah Dilaporkan ke Polisi

Regional
11 dari 150 Siswa MTs Harapan Baru Ciamis Tewas Tenggelam Saat Susur Sungai Kegiatan Pramuka

11 dari 150 Siswa MTs Harapan Baru Ciamis Tewas Tenggelam Saat Susur Sungai Kegiatan Pramuka

Regional
Harapan Keluarga TKW Asal Sulbar yang Terancam Hukuman Mati di Malaysia

Harapan Keluarga TKW Asal Sulbar yang Terancam Hukuman Mati di Malaysia

Regional
Khofifah Siapkan Bonus bagi Peraih Medali PON XX Papua, Besaran Masih Dihitung dengan DPRD

Khofifah Siapkan Bonus bagi Peraih Medali PON XX Papua, Besaran Masih Dihitung dengan DPRD

Regional
Polda Banten Tahan Brigadir NP yang Banting Mahasiswa hingga Kejang

Polda Banten Tahan Brigadir NP yang Banting Mahasiswa hingga Kejang

Regional
Jatim Peringkat 3 di PON Papua, Khofifah: Saya Tetap Bangga Atas Kerja Keras Atlet dan Pelatih

Jatim Peringkat 3 di PON Papua, Khofifah: Saya Tetap Bangga Atas Kerja Keras Atlet dan Pelatih

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.