Puluhan Aktivis di Semarang Turun ke Jalan Serukan Keadilan bagi Korban KDRT, Minta Pelaku Dihukum Berat

Kompas.com - 05/05/2021, 05:12 WIB
Aktivis di Semarang gelar bentang spanduk di Jalan Tri Lomba Juang Semarang, Selasa (4/5/2021). KOMPAS.com/istimewaAktivis di Semarang gelar bentang spanduk di Jalan Tri Lomba Juang Semarang, Selasa (4/5/2021).

SEMARANG, KOMPAS.com - Puluhan aktivis menggelar aksi turun ke jalan menyerukan penolakan kekerasan terhadap perempuan.

Mereka berorasi menggunakan pengeras suara menuntut keadilan dan perlindungan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Aksi yang digelar di Jalan Tri Lomba Juang itu merupakan bentuk protes terkait kasus KDRT yang baru-baru ini melibatkan anggota komisioner Komisi Informasi Provinsi Jawa Tengah (KIP Jateng).

Baca juga: Tangani Kasus KDRT Komisionernya, KIP Jateng Bakal Gelar Sidang Etik

Dalam aksinya mereka membawa karangan bunga bertuliskan "Tiada Maaf Bagi Pelaku KDRT" dan sejumlah pamflet berisi berbagai seruan stop kekerasan terhadap perempuan.

Mereka membentangkan spanduk besar bertuliskan "Berhentikan SH (anggota komisioner KIP Jateng) pelaku KDRT, perselingkuhan, penyalahgunaan kewenangan"

Aktivis yang tergabung dalam Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jateng mendesak Majelis Etik untuk menindak tegas pelaku KDRT yang dilakukan anggota komisioner KIP Jateng.

"Kami menuntut Majelis Etik untuk memberikan sanksi berat berupa pemberhentian tetap kepada SH," kata Korlap Aksi Nia Lishayati, Selasa (4/5/2021).

Baca juga: Jadi Korban KDRT Lebih 10 Tahun, Warga Semarang Alami Luka Fisik dan Psikis

Perbuatan SH itu diduga melanggar Peraturan Komisi Informasi Nomor 3 Tahun 2016 tentang Kode Etik Anggota Komisi Informasi, Undang-Undang (UU) Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, serta UU Nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.

"Kami juga meminta Majelis Etik untuk memeriksa atas laporan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan SH dengan adil, transparan, akuntabel, tidak bias gender, tidak menstigma dan menstereotip korban, serta memenuhi rasa keadilan korban dan harapan masyarakat," ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya meminta proses persidangan agar digelar secara terbuka agar tidak ada intervensi dari pihak-pihak yang terkesan membela pelaku.

"Karena semakin menguatkan dugaan adanya skenario untuk melindungi dan membebaskan SH dengan memberikan sanksi ringan atau sanksi sedang," ujarnya.

Sebagai informasi, SH diduga telah melakukan KDRT terhadap istrinya H.

Seringkali kekerasan fisik tersebut dilakukan di hadapan anaknya yang masih kecil, orangtua dan keluarga H.

Puncaknya pada 6 dan 27 Maret 2021, SH melakukan kekerasan berupa penamparan, pelemparan barang dan pemukulan pada bagian kepala korban hingga pendarahan di hidung.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Provinsi Jambi Tambah Ruangan Isolasi Covid-19

Pemerintah Provinsi Jambi Tambah Ruangan Isolasi Covid-19

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 16 Mei 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 16 Mei 2021

Regional
Penyekatan Mudik di Kabupaten Bogor, Polisi Sebut 20.112 Kendaraan Diputar Balik

Penyekatan Mudik di Kabupaten Bogor, Polisi Sebut 20.112 Kendaraan Diputar Balik

Regional
Longsor, Jalan Penghubung Gayo Lues-Aceh Tenggara Putus

Longsor, Jalan Penghubung Gayo Lues-Aceh Tenggara Putus

Regional
6 Pemudik Reaktif Berdasarkan Tes Antigen di Pos Balonggandu Karawang

6 Pemudik Reaktif Berdasarkan Tes Antigen di Pos Balonggandu Karawang

Regional
Video Viral Warga Demo di Laut, Minta Petugas Kembalikan Banana Boat yang Disita

Video Viral Warga Demo di Laut, Minta Petugas Kembalikan Banana Boat yang Disita

Regional
Modus Warga agar Lolos Penyekatan di Puncak, Pura-Pura Pingsan hingga Ketinggalan Barang di Hotel

Modus Warga agar Lolos Penyekatan di Puncak, Pura-Pura Pingsan hingga Ketinggalan Barang di Hotel

Regional
Muncul Lagi Klaster Covid-19 di Banyumas, Bupati: Terpaksa 'Micro Lockdwon'

Muncul Lagi Klaster Covid-19 di Banyumas, Bupati: Terpaksa "Micro Lockdwon"

Regional
Hendak Mencuri dan Memerkosa Seorang Remaja, Pria Ini Babak Belur Dihajar Warga

Hendak Mencuri dan Memerkosa Seorang Remaja, Pria Ini Babak Belur Dihajar Warga

Regional
Gara-gara Ayam Masuk ke Kebun, 2 Keponakan Keroyok Paman hingga Tewas

Gara-gara Ayam Masuk ke Kebun, 2 Keponakan Keroyok Paman hingga Tewas

Regional
Mobil Hancur Ditabrak Kereta Api, Sopir Berusia 61 Tahun Lolos dari Maut

Mobil Hancur Ditabrak Kereta Api, Sopir Berusia 61 Tahun Lolos dari Maut

Regional
Kronologi Kaburnya Lima Tahanan BNNP Sumut: Sebelum Kabur Petugas Disiram Air Cabai dan Dianiaya

Kronologi Kaburnya Lima Tahanan BNNP Sumut: Sebelum Kabur Petugas Disiram Air Cabai dan Dianiaya

Regional
Polda Jatim: Mobilitas Masyarakat ke Malang Raya dan Surabaya Raya Jadi Perhatian Kami

Polda Jatim: Mobilitas Masyarakat ke Malang Raya dan Surabaya Raya Jadi Perhatian Kami

Regional
Terus Bertambah, Kini Sudah Lebih 100 Orang Terjangkit Covid-19 di Klaster Sangon Kulon Progo

Terus Bertambah, Kini Sudah Lebih 100 Orang Terjangkit Covid-19 di Klaster Sangon Kulon Progo

Regional
Tak Bisa Mudik, Ribuan Diaspora di Jerman hingga AS Berbagi Kerinduan Secara Online

Tak Bisa Mudik, Ribuan Diaspora di Jerman hingga AS Berbagi Kerinduan Secara Online

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X