Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dilarang Mudik, yang Bertahan dan yang Bersikeras untuk Pulang

Kompas.com - 25/04/2020, 14:40 WIB
Rachmawati

Editor

Pemantauan di Jawa dan Sumatra

Hal yang sama juga terpantau di Stasiun Solo Balapan di Solo, Jawa Tengah, dan di Stasiun Tanjung Karang di Bandar Lampung.

Kepala Stasiun Balapan, Suharyanto bahwa adanya kebijakan larangan mudik itu tidak berdampak terhadap lonjakan pemudik yang datang pada hari ini.

"Di Balapan tidak ada peningkatan baik untuk yang datang maupun berangkat karena masih tetap sepi," ujarnya kepada BBC Indonesia.

Baca juga: Ada Larangan Mudik, Bus dari Terminal Kalideres Menuju Jawa Tengah Disuruh Putar Arah

Bahkan, berdasarkan data kedatangan penumpang yang turun di Stasiun Balapan Solo hanya sedikit.

"Seperti semalam di KA Bima hanya empat orang yang turun. Dan hari ini KA Bima jalan terakhirnya belum juga menunjukkan adanya peningkatan," jelasnya.

Executive Vice President PT KAI Divre IV Tanjung Karang, Lampung, Edy Setiawan, mengatakan bahwa pihaknya akan membatalkan rute kereta api dari Tanjung Karang ke Baturaja dari tanggal 25-30 April guna mengurangi jumlah pemudik.

Baca juga: Kisah Gagal Mudik Korban PHK, Cari Peluang Agar Bisa Pulang

"Salah satu upaya kami adalah membatalkan kereta api. Kereta api yang sudah kita batalkan adalah kereta api Sriwijaya, yaitu S1 dan S2, dari Tanjung Karang ke Kertapati, itu sudah kita batalkan sejak 1 April lalu."

"Mulai 25 April besok kami juga akan membatalkan satu perjalanan kereta api yaitu dari Tanjung Karang ke Baturaja, pulang pergi."

"Memang betul secara objektifnya itu okupasinya menurun sekarang ini, kisaran 20% -30%, secara sistem sudah kita batasi penjualan tiketnya maksimal 50%," katanya kepada BBC Indonesia.

Baca juga: Bus Nekat Beroperasi saat Larangan Mudik, Siap-siap Harus Putar Balik

Pelabuhan Bakauheni, Lampung. dok BBC Indonesia Pelabuhan Bakauheni, Lampung.
Beberapa terminal bus di Jawa juga terpantau lengang. Di Terminal Leuwipanjang, Bandung, tercatat ada sekitar 150 penumpang yang datang dari wilayah Jabodetabek sampai Kamis (23/4/2020) pukul 14.00.

"Masih tetap sepi [hari ini] karena kalau penumpang yang turun di Leuwipanjang itu adalah sisa penumpang yang turun di gerbang tol Pasir Koja dan di Jalan Soekarno Hatta. Jadi nggak terpantau. Tidak ada peningkatan signifikan," kata Kepala Terminal Leuwipanjang, Asep Hidayat kepada BBC Indonesia.

"Ada penurunan penumpang sekitar 70% dari biasanya. Jadi jumlah penumpang yang berangkat sari Leuwipanjang hanya 30%. Masih sepi. Bis berangkat antara 1 jam sampai 1 jam setengah."

Baca juga: Desa di Banyumas Siapkan Tempat Karantina Mandiri Bagi Warga yang Nekat Mudik

Sementara itu, di Solo, Jawa Tengah, Koordinator Terminal Tipe A Tirtonadi, Joko Sutriyanto mengatakan tidak ada lonjakan kedatangan pemudik di wilayahnya.

"Yang kami amati, untuk mudik atau datang dari Jabodetabek dan wilayah luar Solo itu stagnan. Ya cuma satu, dua penumpang yang turun di Tirtonadi," kata Joko.

"Ya efek dari himbauan Pak Walikota mengatakan kalau nekad mudik akan dikarantina mungkin menjadi takut untuk mudik. Terus kalau nggak mau dikarantina ya disuruh pulang lagi ke kota awal. Kemarin ada yang sampai Solo langsung kembali lagi ke Surabaya."

Baca juga: Mudik Dilarang, Ini Cara Refund Tiket Bus di Terminal

Menurut Joko, lonjakan kedatangan pemudik itu telah terjadi jauh hari sebelum Presiden Joko Widodo mengeluarkan keputusan larangan mudik tersebut.

Para pemudik bahkan ada yang menyewa bus dan turun langsung di daerah tujuan mudik seperti Wonogiri.

"Rata-rata para pemudik itu sudah pulang ketika Solo menetapkan KLB virus corona. Mungkin mereka itu rombongan pemudik yang menyewa bus secara mandiri jadi tidak masuk terminal, langsung ke tujuan," ucapnya.

Baca juga: Tindak Lanjut Larangan Mudik, Ini 3 Titik Penyekatan Tol Trans-Jawa

Tradisi mudik

Petugas bus menaikkan motor ke dalam bus di Terminal Kalideres, Jakarta, Rabu (22/4).Antara/FAUZAN Petugas bus menaikkan motor ke dalam bus di Terminal Kalideres, Jakarta, Rabu (22/4).
Menurut Imam Prasodjo, sosiolog dari Universitas Indonesia, mudik adalah tradisi yang sulit dihilangkan mengingat tipe masyarakat Indonesia adalah masyarakat komunal.

Hal ini tercermin dari acara halal bi-halal yang unik ditemukan dalam tradisi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia.

"Masyarakat Indonesia kan masyarakat komunal, mereka punya keluarga besar dengan sistem kekerabatan atau extended family, mereka punya kebiasaan setelah puasa, baik mereka yang pekerja temporer di kota-kota atau bahkan orang yang sudah tinggal permanen di kota-kota, biasanya mereka pulang ke kampung halamannya untuk bertemu dengan kerabat keluarga, dengan teman-teman yang janjian atau secara bersamaan juga pulang," katanya.

Baca juga: Cerita Polisi Bujuk Masyarakat yang Masih Ngotot Mudik meski Dilarang

Selain itu, di kota besar ada juga pekerja temporer yang bekerja hanya dalam jangka waktu tertentu. Bagi mereka, tidak terpikirkan bagaimana melewati Lebaran tanpa keluarga di kampung.

"Banyak juga orang yang datang ke kota sebagai migran temporer, mereka kerja satu minggu, satu bulan, dua bulan dan mereka kembali [ke kampung]. Tapi lebih khusus setelah Ramadan karena [momen] saat sholat Ied jadi hilang kalau tidak bersama istri dan anaknya. keluarga seperti tidak utuh, oleh karena itu pekerja migran yang istri dan anaknya ada di kampung halaman itu memaksakan diri untuk pulang apapun [caranya], itu yang membuat mudik setelah Ramadan jadi begitu penting," kata Imam.

Baca juga: Larangan Mudik, Terminal Pulo Gebang dan Kampung Rambutan Hanya Layani Bus Dalam Kota

Bertahan di Jakarta

Pengendara sepeda motor melintas di samping spanduk sosialisasi aturan pemudik wajib lapor di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (22/4). Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kediri melakukan sosialisasi agar pemudik melaporkan diri ke ketua Rukun Tetangga (RT) setempat agar mudah terpantau dan diberi tindakan sesuai dengan prosedur guna menghindari penyebaran Covid-19Antara/Prasetia Fauzani Pengendara sepeda motor melintas di samping spanduk sosialisasi aturan pemudik wajib lapor di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (22/4). Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kediri melakukan sosialisasi agar pemudik melaporkan diri ke ketua Rukun Tetangga (RT) setempat agar mudah terpantau dan diberi tindakan sesuai dengan prosedur guna menghindari penyebaran Covid-19
Salah satu yang bertahan di Jakarta adalah Amirullah. Penjual nasi goreng ini terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang ke Pekalongan untuk bertemu dengan kedua anaknya yang berusia 15 tahun dan 15 bulan. Istrinya, Susmanti, masih mempertimbangkan untuk bisa pulang ke Pekalongan, kata Amirullah.

"Anak saya yang kecil, saya kangen, anak perempuan saya…. kangen banget, itu saja sudah," kata pria berusia 40 tahun yang akrab disapa Amir tersebut.

"Lebaran kali ini bakalan beda, jauhlah... beda sama tahun kemarin. Tahun kemarin saya bisa pulang, tahun sekarang belum tentu, karena kan ada larangan mudik mulai tanggal 24 [April], jadi gak bisa pulang."

Baca juga: 6 Fakta Larangan Mudik, dari Larangan Terbang hingga Sanksi jika Melanggar

Amir mengatakan ia terakhir kali bertemu anak-anaknya dua bulan lalu. Meski rindu, ia mengatakan akan menuruti larangan mudik demi kesehatan anak-anak dan keluarganya di Pekalongan.

"Ya mau nggak mau dah, sebenarnya saya sudah menyuruh istri saya tidak pulang pas Lebaran. Takut juga Jakarta ini kan zona merah, takutnya dia di sini sehat, takutnya di sana [tidak sehat], kan gak tau namanya di perjalanan, enam jam naik bis ke Pekalongan," katanya.

"Saya bilang [ke anak saya], 'gimana lagi, saya di sini dulu, kalau ayah pulang takutnya segala macam.' Terus diisolasi di sana dulu 14 hari, mau pulang ke rumah malah gak bisa pulang ke rumah, jadi diisolasi dulu sampai 14 hari, akhirnya saya di sini saja."

Baca juga: Larangan Mudik, Calon Penumpang Pesawat Bisa Reschedule atau Diganti Voucher Tiket

Selain itu, ia juga masih berniat mengumpulkan uang untuk keluarganya di kampung, meski pendapatannya menurun sejak adanya wabah virus corona.

"Penghasilan menurun jauh sejak virus corona, biasanya lumayan, sekarang jauh pokoknya.

Biasanya saya 8 liter habisnya jam 21.00, sekarang cuma empat liter kadang-kadang jam 23.00, jam 24.00, belum tentu habis," kata Amir.

Di hari Lebaran nanti, Amir mengatakan akan mengunjungi orangtuanya di Bojonggede, Bogor, dengan menaiki kereta rel cepat Jakarta-Bogor yang masih beroperasi.

Baca juga: Patuhi Larangan Mudik, Kapal Pelni Tidak Jual Tiket Penumpang hingga 8 Juni

Sementara itu, Sumi, pendatang asli Jember, mengaku pasrah jika tidak mudik dari Jakarta tahun ini.

Ia sudah berusaha mencari tiket kereta api ke desanya, tapi tidak berhasil. Perempuan berusia 33 tahun ini mengatakan perjalanan ke desanya akan terlalu jauh jika ditempuh dengan menggunakan bus.

Salah satu alasan Sumi ingin pulang adalah karena ia telah kehilangan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, sehingga ia khawatir tidak bisa membayar sewa kos sebesar Rp700,000 per bulan.

Baca juga: Dilarang Mudik, 555 Polisi Kawal Penutupan Bandara Soekarno-Hatta

"Pengen mudik karena sudah tidak kerja, di sini kan bayar kosan ya, terus harus pulang juga sih karena setiap tahun harus pulang. Lebih enak [mudik tahun lalu, kalau sekarang kan sudah di sini zona merah Covid-19, terus di sini juga nggak ada kerjaan, kita mau makan apa, ngekos juga kan, harus bayar," katanya.

Ketika ditanya apakah ia masih akan tetap mudik setelah ada larangan, Sumi mengatakan ia akan tetap di Jakarta.

"Aku nggak [mudik] dulu deh, soalnya jauh banget nyari tiket [bus ke Jember], memang lagi gak beroperasi [keretanya] soalnya Iya gak mudik gimana keretanya nggak beroperasi," katanya.

"Gimana lagi ya, jalan satu-satunya kereta, ya kan? Kereta tidak beroperasi. Kalau kereta beroperasi kan aku udah mudik dari kemarin."

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com