Wabup Garut Hentikan Jalan yang Lewati Hutan Lindung, Ini Alasannya

Kompas.com - 26/02/2020, 17:39 WIB
Wakil Bupati Garut Helmi Budiman saat diwawancara, Rabu (26/02/2020) KOMPAS.COM/ARI MAULANA KARANGWakil Bupati Garut Helmi Budiman saat diwawancara, Rabu (26/02/2020)

GARUT, KOMPAS.com - Wakil Bupati Garut Helmi Budiman menghentikan pengerjaan proyek pembangunan jalan poros tengah yang menghubungkan Kecamatan Cilawu dan Banjarwangi mulai Rabu (26/02/2020).

"Mulai hari ini kita hentikan," jelas Helmi saat ditemui usai membuka sebuah acara di Fave Hotel, Rabu (26/02/2020) siang.

Helmi mengakui, pembangunan jalan tersebut memang belum dilengkapi dengan dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

Baca juga: Bikin Jalan Lewati Hutan Lindung di Garut, Pegiat Lingkungan Protes

 

Karenanya, prosesnya akan dihentikan sampai dokumen tersebut ada dan izin pinjam pakai kawasan selesai.

"Kita sudah berkomunikasi dengan Perhutani soal izin pinjam pakai kawasan," kata Helmi.

Pelaksanaan pembangunan sendiri, menurut Helmi, memang dilakukan secara swakelola oleh dinas. Swakelola ini memang diperbolehkan dan ada aturannya.

Secara terpisah, Konsorsium Penyelamatan Cikuray (KPC) melalui Yayasan Tangtudibuana yang ditugaskan oleh KPC untuk melakukan investigasi dan dokumentasi lapangan terkait pembangunan jalan poros tengah mencatat, banyak pelanggaran dan kerusakan hutan yang terjadi akibat pengerjaan jalan tersebut.

"Ada penebangan pohon tanpa izin di kawasan hutan lindung, perusakan DAS sungai hingga ada potensi erosi yang besar," jelas Agung Kurniawan, ketua Tim Investigasi lapangan Yayasan Tangtudibuana.

Dari data-data yang dikumpulkan, menurut Agung, ada beberapa pelanggaran perundang-undangan yang dilakukan dalam pembangunan jalan poros tengah, terutama terkait undang-undang lingkungan hidup dan kehutanan.

"Kita melihat tanah galian pembukaan jalan dan akar-akar pohon dibiarkan menghalangi DAS Ciwulan," katanya.

Sebelumnya, aktivis lingkungan memprotes rencana Pemerintah Daerah Kabupaten Garut membangun ruas jalan baru yang menghubungkan Kecamatan Cilawu dan Kecamatan Banjarwangi.

Jalan itu disebut-sebut sebagai jalan poros tengah, mendapat protes keras dari pegiat lingkungan.

Baca juga: Sempat Tertimbun Longsor, Jalan Menuju Desa Nglopang Bisa Dilalui

 

Badan Pembina Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Barat, Dedi Kurniawan menyampaikan, pembangunan ruas jalan tersebut menabrak lahan hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani.

Hutan lindung tersebut, selama ini dikenal menjadi habitat dari satwa-satwa langka dan dilindungi endemik Pulau Jawa seperti macan tutul, elang jawa, owa jawa dan merak hijau.

"Kita punya rekaman kamera di kawasan tersebut yang menangkap keberadaan macan tutul," jelas Dedi saat dihubungi, Selasa (25/02/2020).



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemkot Yogyakarta Klaim Sudah Minta Indonesian Scooter Festival Diawasi

Pemkot Yogyakarta Klaim Sudah Minta Indonesian Scooter Festival Diawasi

Regional
Polisi Dalami Keterlibatan FPI Dalam Demonstrasi di Rumah Mahfud MD

Polisi Dalami Keterlibatan FPI Dalam Demonstrasi di Rumah Mahfud MD

Regional
Buat Kerumunan di Yogyakarta, Indonesian Scooter Festival Dibubarkan

Buat Kerumunan di Yogyakarta, Indonesian Scooter Festival Dibubarkan

Regional
Debat Publik Pilkada Surabaya, Kedua Paslon Ungkap Gagasan Jaga Toleransi

Debat Publik Pilkada Surabaya, Kedua Paslon Ungkap Gagasan Jaga Toleransi

Regional
Bertahun-tahun Jembatan Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Bima Nekat Terjang Sungai

Bertahun-tahun Jembatan Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Bima Nekat Terjang Sungai

Regional
Teriak 'Bunuh..Bunuh', Pedemo Rumah Mahfud MD Ditetapkan Tersangka

Teriak "Bunuh..Bunuh", Pedemo Rumah Mahfud MD Ditetapkan Tersangka

Regional
Anggota DPRD Diduga Jadi Penadah Hasil Rampokan Oknum Polisi di Lampung

Anggota DPRD Diduga Jadi Penadah Hasil Rampokan Oknum Polisi di Lampung

Regional
Cerita Nenek Lumpuh di Pematangsiantar Pasrah Tenggelam Saat Banjir

Cerita Nenek Lumpuh di Pematangsiantar Pasrah Tenggelam Saat Banjir

Regional
Bunuh Anak Tirinya, Perempuan Ini Sempat Mengaku Korban Meninggal karena Sakit

Bunuh Anak Tirinya, Perempuan Ini Sempat Mengaku Korban Meninggal karena Sakit

Regional
13 Pejabat Bantaeng Positif Covid-19, Alami Gejala Demam dan Batuk

13 Pejabat Bantaeng Positif Covid-19, Alami Gejala Demam dan Batuk

Regional
Sudah 2 Pekan Jalan Penghubung Rohul-Bengkalis Terendam Banjir

Sudah 2 Pekan Jalan Penghubung Rohul-Bengkalis Terendam Banjir

Regional
Gunung Ile Lewotolok Meletus 3 Kali pada Hari Ini

Gunung Ile Lewotolok Meletus 3 Kali pada Hari Ini

Regional
62 Kades di Jateng Langgar Netralitas Pilkada, Bawaslu Lapor ke Mendagri

62 Kades di Jateng Langgar Netralitas Pilkada, Bawaslu Lapor ke Mendagri

Regional
Sesosok Mayat Ditemukan Mengambang di Perairan Pulau Komodo

Sesosok Mayat Ditemukan Mengambang di Perairan Pulau Komodo

Regional
Ambisi Sumedang Jadikan Waduk Jatigede Wisata Kelas Dunia, Ingin Kalahkan Banyuwangi

Ambisi Sumedang Jadikan Waduk Jatigede Wisata Kelas Dunia, Ingin Kalahkan Banyuwangi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X