Bengawan Solo Tercemar Ciu, Diklaim Ada 200 Unit Industri Kecil Alkohol di Sepanjang Sungai

Kompas.com - 09/11/2019, 07:07 WIB
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Pencemaran limbah alkohol terjadi di aliran sungai Bengawan Solo sehingga menyebabkan tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perumda Air Minum Toya Wening Solo sempat tidak beroperasi.

Pencemaran aliran sungai terpanjang di Jawa itu berdampak pada layanan terhadap sekitar 16.000 pelanggan perusahaan air minum daerah itu.

Pencemaran yang terjadi di Sungai Bengawan Solo disumbang oleh sejumlah anak sungai yang bermuara di sungai tersebut. Salah satu sungai yang ikut mencemari Bengawan Solo adalah Sungai Samin.

Baca juga: Saat Bengawan Solo Tercemar Ciu, Sungai Menghitam hingga Bau Alkohol

Di aliran sungai itu warna air terlihat cukup hitam pekat serta mengeluarkan bau ciu yang merupakan salah satu produk olahan alkohol.

Sukir, seorang warga yang tinggal tak jauh dari pertemuan antara aliran Sungai Bengawan Solo dengan Sungai Samin, menyebut aliran sungai tersebut sudah tercemar limbah ciu.

Sejumlah orang yang belakangan ini berendam di tempuran antara kedua sungai itu, kata Sukir, mengaku merasa gatal.

"Kalau buat berendam, gatal. Banyak yang sudah merasakan gatal-gatal, seperti orang yang mancing dan menjaring ikan merasa gatal kalau terkena air tercemar itu," ucapnya kepada BBC News Indonesia.

Baca juga: Sungai Bengawan Solo Tercemar Ciu, Ikan Mati dan Air Tak Bisa Diolah

Penghentian produksi air bersih di Bengawan Solo diprediksi sempat terdampak ke 16.000 pelanggan. BBC News Indonesia/Fajar Sodiq Penghentian produksi air bersih di Bengawan Solo diprediksi sempat terdampak ke 16.000 pelanggan.

Kepala Instalasi Produksi Wilayah Selatan Perumda Air Minum Toya Wening Solo, Nuryanto, mengatakan pencemaran yang terjadi menyebabkan produksi di IPA Semanggi terhenti sejak Jumat lalu.

Alasannya, kata Nuryanto, IPA Semanggi tidak mampu mengolah bahan baku air yang tercemar tersebut. Ia berkata, warna bahan baku air itu sangat pekat dan sangat berbau alkohol.

"Kami berhenti mengolah air karena limbah seperti itu bukan kapasitas alat kami," tutur Nuryanto.

"Terlalu berlebihan, baik warna maupun bahan kimia yang mencemari sehingga kami tidak bisa mengendapkannya. Kemampaun instalasi ini memang tidak untuk mengolah bahan baku air seperti itu," ujarnya.

Baca juga: Sumpah Pemuda, Warga Ramai-ramai Bersihkan Sungai yang Tercemar di Purwakarta


Air pekat

Lokasi instalasi pengolahan air bersih Semanggi. BBC News Indonesia/Fajar Sodiq Lokasi instalasi pengolahan air bersih Semanggi.
Nuryanto menunjukkan sampel air Sungai Bengawan Solo yang tercemar limbah alkohol. Ia membuka tutup botol berisi air sungai yang terkontaminasi limbah alkohol dan memperlihatkan tingkat kepekatan warna serta bau ciu yang menyengat.

"Kalau kita campurkan satu tutup botol air tercemar dengan satu botol air kemasan 1.500 mililiter, nanti warnanya akan hitamnya luar biasa."

"Itu baru satu tutup. Kalau yang terjadi endapan di Kali Samin begitu dalam, maka akan seperti apa kira-kira pekatnya," ujar Nuryanto.

Juru Bicara Perumda Air Minum Toya Wening Solo, Bayu Tunggul, menyebut kondisi air di aliran Sungai Bengawan Solo masih hitam hingga 8 November ini.

Baca juga: Sungai Cilamaya di Jawa Barat Dinyatakan Tercemar Limbah Pabrik

Meski demikian, ia mengklaim perusahaannya sudah mengoperasikan lagi tiga IPA, yaitu Semanggi, Jebres dan Jurug.

"Laporan dari staf IPA Semanggi mengatakan bahwa air baku masih hitam. Tetapi mau tidak mau kalau IPA ini mati nanti yang terdampak kurang lebih 16.000 pelanggan PDAM Solo," tuturnya.

Para pelanggan yang terdampak penghentian aliran air bersih diklaim bakal mendapat jatah air bersih yang diangkut enam mobil tangki air milik PDAM Solo.

"Kalau yang dilayani IPA Semanggi itu sekitar 6.400 pelanggan, sementara itu IPA Jebres dan IPA Jurug itu melayani 10.000 pelanggan. Gara-gara IPA berhenti, gantinya kita pakai mobil tangki untuk mengantar air bersih," ucapnya.

Baca juga: Pipa Pertamina di Cilacap Bocor, Air Sumur Tercemar Solar, Tanaman Rusak

Instalasi pengolahan air di sekitar Bengawan Solo kini mulai dioperasikan kembali. BBC News Indonesia/Fajar Sodiq Instalasi pengolahan air di sekitar Bengawan Solo kini mulai dioperasikan kembali.
Meski kondisi air baku masih berwarna hitam, Bayu memastikan bahwa tiga IPA yang dimiliki Perumda Air Minum Toya Wening Solo itu sudah mulai beroperasi.

Hasil pengolahan tersebut memang belum maksimal. Namun Bayu menyebut hasilnya sudah sesuai paramater Peraturan Menteri Kesehatan 492/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

"Jadi hasilnya tidak bisa seperti musim penghujan dan estetikanya masih kurang karena masih ada semburat warna sedikit. Tapi sudah tidak berbau," ujarnya.

Menurut Bayu, penghentian operasional pengolahan air awalnya terjadi 31 Oktober lalu. Saat itu operator IPA Semanggi melaporkan bahwa kondisi air baku Sungai Bengawan Solo sangat buruk.

Baca juga: Dinkes Ciamis Pastikan Ranitidin di Puskesmas Tidak Tercemar Zat Pemicu Kanker

Setelah diolah, kata Bayu, air yang dihasilkan berbau tidak enak dan berwarna kuning.

"Ternyata kita lihat pada waktu itu kalau orang Solo bilang terjadi 'beladu'. Beladu itu ikan-ikan mabuk semua dan mati. Bahkan ikan sapu-sapu yang tergolong paling kuat menahan limbah juga ikut mati," jelasnya.

Bayu berkata, di sepanjang aliran Kali Samin terdapat kawasan industri kecil alkohol skala rumah tangga. Jumlah rumah produksi ciu di lokasi itu diklaim sekitar 200 unit.

Industri minuman keras itu disebut Bayu mencakup dua kecamatan di Kabupaten Sukoharjo. Salah satu kecamatan di antaranya, tuding Bayu, tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah.

Baca juga: Jembatan Tiba-tiba Ambruk, Truk Tangki Air Pesanan Warga Terjun ke Sungai

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah mengatakan melakukan pendekatan dan pembinaan terhadap usaha kecil dan mikro agar tidak menggelontorkan limbah secara sembarangan.

Bayu Tunggul dari Perumda Air Minum Toya Wening Solo menilai pencemaran sungai juga diperparah dengan limbah batik. Selain sebagai sentra industri alkohol, daerah Bekonang juga merupakan kawasan perajin batik.

"Dampak industri memang luar biasa sekali ke Bengawan Solo," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Regional
Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Regional
Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Regional
Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Regional
Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Regional
BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

Regional
Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Regional
Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Regional
Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Regional
Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Regional
Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Regional
KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

Regional
Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Regional
Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Regional
Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.