Cerita Pasha, Anak Keluarga Miskin Ditolak di SMP Negeri, Terlanjur Beli Alat Sekolah hingga Mengurung Diri di Kamar

Kompas.com - 12/07/2019, 11:33 WIB
Pasha Pratama (12) warga Padukuhan Bulu, RT 05 RW 14, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul Saat Ditemui Kamis (11/7/2019) MARKUS YUWONOPasha Pratama (12) warga Padukuhan Bulu, RT 05 RW 14, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul Saat Ditemui Kamis (11/7/2019)

KOMPAS.com - Muhammad Pasha Pratama (12), warga Padukuhan Bulu, RT 05 RW 14, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, merasa kecewa saat tahu namanya tak tercantum di papan pengumuman SMPN 2 Karangmojo, Gunungkidul, DIY.

Kondisi keluarganya yang pas-pasan, membuat harapan Pasha untuk melanjutkan sekolah, pupus.

Nenek Pasha, Rebi (65), menceritakan, ibu kandung cucunya itu sudah lama meninggal dunia dan ayahnya, Sugeng, mengidap gangguan jiwa. 

Sementara itu, Pasha ternyata tak seorang diri. Romi Kurniawan (12), yang rumahnya tidak jauh dari rumah Pasha, sempat ditolak di SMPN Karangmojo.

Namun, karena kondisi ekonomi keluarganya lebih baik dari Pasha, Romi akhirnya mendaftarkan diri di sekolah swasta. 

Berikut ini fakta lengkapnya:

1. Kondisi keluarga Pasha

Ilustrasi miskin dan kayaerllre Ilustrasi miskin dan kaya

Pasha hanya bisa tertunduk malu ketika para wartawan berkunjung ke rumah sederhana milik kakek dan neneknya di Padukuhan Bulu.

Dia masih tampak kecewa karena tidak bisa masuk ke SMPN 2 Karangmojo. Padahal, sekolah tersebut hanya berjarak 2 kilometer dari rumah kakek neneknya.

Pasha dan ayahnya, Sugeng, telah lama tinggal di rumah kakek-neneknya itu. Sugeng sendiri pun kondisinya sedang mengalami gangguan jiwaa.

Sementara itu, ibu kandung Pasha telah lama meninggal dunia sejak Pasha duduk di kelas 3 SD.

Rebi sendiri hanya bekerja sebagai buruh tani tidak seberapa hasilnya. Hal itu membuat keluarganya pasrah saat Pasha tidak diterima di SMPN 2 Karangmojo.

"Membeli air saja susah, mengingat saat ini masa kekeringan dan sulit untuk mencari air untuk pengairan," ucap Rebi.

Baca juga: Gagal PPDB, Anak dari Keluarga Miskin Ini Tak Bisa Lanjutkan Sekolah

2. Pasha menangis saat lihat pengumuman

Ilustrasi kecewa, bad moodmonkeybusinessimages Ilustrasi kecewa, bad mood

Pasha menceritakan, saat dirinya bersama teman-temanya mendaftar ke SMPN 2 Karangmojo, ada harapan besar dirinya akan diterima.

Selain nilai yang lumayan bagus dan jarak rumah dengan sekolah tersebut sudah sesuai aturan sistem zonasi, maka Pashap pun lebih yakin akan bisa bersekolah lagi.

Namun, saat hari pengumuman dan melihat namanya tak tercantum, Pasha pun menangis sedih.

"Saya cari nama saya di papan pengumuman kok tidak ada, ternyata saya tidak diterima dan itu rasanya sedih sekali. Tapi teman saya yang nilainya lebih rendah dan rumahnya lebih jauh (dari SMP N 2 Karangmojo) malah keterima. Itu yang membuat saya kecewa, padahal nilai saya tidak begitu buruk yaitu 15,83 dan teman saya yang nilainya 13 malah keterima," ujarnya.

Baca juga: 2 Siswi Asal Jakarta Arungi Danau Toba Sejauh 135 Km dengan Kayak

3. Sudah siapkan alat sekolah dari hasil menabung

Ilustrasi sekolah rusakShutterstock Ilustrasi sekolah rusak

Semangat Pasha ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP memang terlihat saat dirinya sudah membeli peralatan sekolah sebelum lulus SD.

Dirinya mengaku membeli peralatan sekolah tersebut dari uang hasil menabung beberapa tahun.

"Saya inginnya sekolah di SMP 2 Karangmojo, karena dekat, dan teman-teman saya juga banyak yang mau sekolah di situ," katanya kepada wartawan di rumahnya Kamis (11/7/2019).

Baca juga: Ditolak Masuk SMP Negeri karena Terlalu "Tua", Remaja Putri Ancam Bunuh Diri

4. Harapan sang nenek untuk Pasha

Ilustrasi sekolahKOMPAS.com/Junaedi Ilustrasi sekolah

Hingga kini Pasha belum memutuskan mendaftarkan ke sekolah lain. Jarak SMP swasta yang terdekat dari rumah Pasha sekitar 5 kilometer.

Namun karena keterbatasan ekonomi, keluarga Pasha masih bingung tentang biaya sekolahnya nanti. Rebi pun mengaku setiap hari Rebi memberi semangat pada sang cucu.

"Saya ingin Pasha sekolah," katanya.

Sementara itu, menurut salah satu tetangga Rebu, Sarwanto, dirinya juga sering memberikan semangat untuk Pasha. Pasalnya, sejak tidak diterima sekolah, Pasha sempat mengurung diri di rumah.

"Lalu saya tanya kalau sekolah tidak di SMP 2 Karangmojo bagaimana? Pasha mengaku bingung harus naik apa kesekolah mengingat disini tidak ada angkutan umum. Sudah lama daerah sini tidak ada angkutan umum," ucapnya.

Baca juga: Guru Diduga Terlibat Praktik Jual Beli Kursi PPDB

5. Pasha tak sendirian, Romi pun juga alami hal yang sama

Ilustrasi siswa SD.Dok Disdikbud Bulungan Ilustrasi siswa SD.

Romi Kurniawan (12), tetangga Pasha, juga tidak diterima di SMP 2 Karangmojo meski nilainya 18, karena sistem zonasi.

"Saat mendaftar posisi berada di tengah-tengah lalu lama kelamaan tergeser dan akhirnya terlempar dari SMP 2 Karangmojo. Pilih di SMP 2 Karangmojo karena dekat dengan rumah, sedangkan tetangga ada 4 orang yang diterima di SMP 2 Karangmojo. Nilai saya 18 dan yang diterima nilainya kurang dari saya," ucapnya.

Namun, Roni, dirinya lebih beruntung karena keluarganya tergolong mampu. Untuk berangkat sekolah dirinya pun diantar oleh keluarganya. Akhirnya dirinya mendaftar ke sekolah swasta di Kota Wonosari.

Baca juga: Kekurangan Murid, PPDB SMP di Magetan Diperpanjang Tanpa Sistem Zonasi

6. Penjelasan Dinas Pendidikan Gunungkidul

Ilustrasi PPDBRONY ARIYANTO NUGROHO Ilustrasi PPDB

Kepala Bidang SMP, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, Kisworo, mengatakan, saat pendaftaran ada 3 kriteria yang menentukan apakah siswa tersebut diterima atau tidak.

Adapun 3 kriteria itu, yang pertama diprioritaskan adalah jarak dari rumah ke sekolah, keduanya adalah umur, dan ketiga adalah saat pendaftaran.

Pihaknya sudah mendengar keluhan para siswa yang gagal masuk ke sekolah tersebut.

"Kita sudah cek langsung, dan memang ada murid yang lebih dekat dibandingkan Pasha. Kalaupun jaraknya sama kalah di usia berdasarkan berkas yang bersangkutan lebih tua tiga hari," ucapnya.

Pihaknya tidak bisa berbuat banyak terkait adanya kebijakan dari pusat. Batasan usia pendaftar PPDB SMP tidak lebih dari 15 tahun.

Namun, jika rata-rata usia pendaftar adalah 12 tahun atau 12 tahun lebih 1 hari maka otomatis Pasha terlempar dari peringkatnya.

Baca juga: Disdik Padang Buka Kembali Pendaftaran PPDB untuk Bangku Kosong SMP

Sumber: KOMPAS.com (Markus Yuwono)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tidur di Ruang Tamu Saat Jaga Ibunya yang Sakit, Gadis Ini Malah Disetubuhi Ayah Tiri

Tidur di Ruang Tamu Saat Jaga Ibunya yang Sakit, Gadis Ini Malah Disetubuhi Ayah Tiri

Regional
Jumlah Murid yang Diduga Dicabuli Guru Ngaji di Makassar Bertambah

Jumlah Murid yang Diduga Dicabuli Guru Ngaji di Makassar Bertambah

Regional
Detik-detik Pembunuhan Bermotif Cemburu di Puskesmas Tanjung Bumi Bangkalan

Detik-detik Pembunuhan Bermotif Cemburu di Puskesmas Tanjung Bumi Bangkalan

Regional
Jenazah yang Ditemukan di Gunungkidul Dipastikan Korban Pantai Goa Cemara

Jenazah yang Ditemukan di Gunungkidul Dipastikan Korban Pantai Goa Cemara

Regional
8 Orang Tewas dalam Kecelakaan di Tol Cipali, Ini Nama-nama Korban

8 Orang Tewas dalam Kecelakaan di Tol Cipali, Ini Nama-nama Korban

Regional
1 Staf KCD Disdik Jabar Positif Covid-19, Semua Pegawai Jalani Tes Swab

1 Staf KCD Disdik Jabar Positif Covid-19, Semua Pegawai Jalani Tes Swab

Regional
Delapan Guru dan 14 Pelajar di Kalbar Positif Corona, Gubernur Tunda Sekolah Tatap Muka

Delapan Guru dan 14 Pelajar di Kalbar Positif Corona, Gubernur Tunda Sekolah Tatap Muka

Regional
Cuci Timah di Sungai, Penambang Tewas Diduga Diserang Buaya

Cuci Timah di Sungai, Penambang Tewas Diduga Diserang Buaya

Regional
Mulai Senin Ini, Tidak Pakai Masker di Pekanbaru Denda Rp 250.000

Mulai Senin Ini, Tidak Pakai Masker di Pekanbaru Denda Rp 250.000

Regional
Picu Bentrokan dan Identik Ugal-ugalan, Polisi Tasikmalaya Akan Tindak Tegas Pemilik Knalpot Bising

Picu Bentrokan dan Identik Ugal-ugalan, Polisi Tasikmalaya Akan Tindak Tegas Pemilik Knalpot Bising

Regional
Gubernur Kalsel: Wali Kota Banjarbaru Kepala Daerah yang Gigih Perangi Covid-19

Gubernur Kalsel: Wali Kota Banjarbaru Kepala Daerah yang Gigih Perangi Covid-19

Regional
Delapan Guru dan Belasan Pelajar di Kalbar Positif Covid-19

Delapan Guru dan Belasan Pelajar di Kalbar Positif Covid-19

Regional
Staf KCD Disdik Jabar Positif Covid-19, Semua Pegawai Dikarantina

Staf KCD Disdik Jabar Positif Covid-19, Semua Pegawai Dikarantina

Regional
Terlelap Tidur, Warga Desa di Situbondo Diserang Massa, 4 Mobil Dirusak, Satu Kios Bensin Dibakar

Terlelap Tidur, Warga Desa di Situbondo Diserang Massa, 4 Mobil Dirusak, Satu Kios Bensin Dibakar

Regional
Suara Knalpot Bising Hampir Memicu Bentrokan Warga di Tasikmalaya

Suara Knalpot Bising Hampir Memicu Bentrokan Warga di Tasikmalaya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X