Musim Kemarau, 25 Hektar Sawah Gagal Panen, Petani Merugi hingga Rp 5 juta

Kompas.com - 06/07/2019, 22:00 WIB
Razali ketua tani (ketua blang) Desa Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar memperliharkan kondisi tanaman padi mereka yang kering, Sabtu (05/07/2019) KOMPAS.COM/ RAJA UMARRazali ketua tani (ketua blang) Desa Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar memperliharkan kondisi tanaman padi mereka yang kering, Sabtu (05/07/2019)

ACEH BESAR, KOMPAS.com - Dua puluh lima hektar tanaman padi milik warga Desa Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar kering akibat dilanda musim kemarau sejak beberapa bulan terakhir ini. Dipastikan seluruh tanaman padi para petani gagal panen.

“Kondisi tanaman padi kami sudah kering, karena musim kemarau, dan tidak ada sumber air yang dapat dialiri,” kata Razali, Ketua Kelompok Tani (ketua blang), Desa Lambadeuk, kepada Kompas.com, Sabtu (6/7/2019).

Menurut Razali, selama musim kemarau, lahan sawah seluas 25 hektar yang dimiliki 60 orang petani itu tidak dapat dialiri air dari bendungan (Embung Lambadeuk) karena kondisi debit air di bendungan terus menyusut.

Baca juga: BPBD: DKI Siaga Kekeringan, Pakai Air Seperlunya


“Air dari bendungan tidak dapat dialiri karena debitnya menyusut, kondisi kemarau kali ini merupakan yang terparah dari yang pernah terjadi sebelumnya”, katanya.

Akibat tanaman padi yang telah berusia 3 bulan masa tanam mengering dan pusong karena dilanda musim kemarau yang paling parah terjadi kali ini, seluruh tanaman padi warga seluas 25 hektar itu tak dapat dipanen lagi.

Para petani mengaku mengalami kerugian masing-masing mulai dari Rp 3 hingga Rp 5 juta.

Baca juga: Kekeringan di Karawang, Warga Gali Sumur di Sungai dan Ambil Air Pukul 2 Dini Hari

“Kondisi padi sekarang kering dan tidak dapat lagi di panen. Harapan kami ada bantuan dari Pemerintah Aceh Besar untuk biaya bibit, pupuk dan biaya bajak pada musim tanam mendatang karena untuk biaya tanam padi pada musim depan sudah tidak memiliki modal akibat gagal panen,” sebutnya.

Embung Juga untuk PDAM

Sementara itu Darman, petani warga Lambadeuk yang mengalami gagal panen menyebutkan, Embung Lambadeuk itu selasai dibangun pada 2013 dengan menghabiskan biaya Rp 33 milliar.

Baca juga: Hadapi Kekeringan di Indramayu, Kementan Siagakan Ratusan Pompa

Embung yang memiliki luas 6 hektare lebih itu berkapasitas daya tampung air yang bersumber dari alur di pegunungan sebesar 258.992,80 m3. Namun, selain untuk mengaliri air ke lahan persawahan warga, embung itu juga difungsikan untuk menyuplai air PDAM ke rumah warga.

“Jadi kalau musim kemarau dengan kondisi air terbatas hanya disuplai untuk kebutuhan warga saja, sementara air ke sawah tidak dialiri, dan kami juga harus ada kejelasan dari Pemerintah berapa persen pembagian air untuk petani dan untuk PDAM,” katanya.

Darman mengaku lahan sawah mereka sebelum ada bendungan embung lambadeuk tidak pernah mengalami kekeringan walau pada saat musim kemarau, karena mereka dulunya dapat langsung mengaliri air melalui irigasi teknis dari alur gunung langsung ke sawah.

Baca juga: Lebih dari 100 Ribu Warga Gunungkidul Terdampak Kekeringan

Namun, setelah bendungan itu dibangun kebutuhan air untuk lahan sawah tergantung dari embung.

“Sebelum dibangun embung kami ada irigasi teknis dari alur gunung langsung dapat dialiri ke sungai. Tapi setelah dibuat embung, irigasi teknis kan sudah hilang dijadikan bendungan, sehingga saat debit air terbatas tidak dialiri ke sawah karena juga sudah digunakan sumber air PDAM”, ujarnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Duduk Perkara Ikan Bertuliskan Kata 'Ambon' dan 'Maluku'', Diduga dari Koran yang Menempel

Duduk Perkara Ikan Bertuliskan Kata "Ambon" dan "Maluku"", Diduga dari Koran yang Menempel

Regional
Puluhan Rumah di Medan Terbakar, Warga Bingung Tinggal di Mana

Puluhan Rumah di Medan Terbakar, Warga Bingung Tinggal di Mana

Regional
Cerita di Balik Terbakarnya Lamborghini Aventador Milik Raffi Ahmad, Tembus Harga Rp 19 Miliar...

Cerita di Balik Terbakarnya Lamborghini Aventador Milik Raffi Ahmad, Tembus Harga Rp 19 Miliar...

Regional
Kronologi Siswa Tikam Guru hingga Tewas Setelah Ditegur karena Ketahuan Merokok

Kronologi Siswa Tikam Guru hingga Tewas Setelah Ditegur karena Ketahuan Merokok

Regional
Ibu-ibu Ini Berhasil Olah Koro Beracun Jadi Keripik Lezat dan Sehat

Ibu-ibu Ini Berhasil Olah Koro Beracun Jadi Keripik Lezat dan Sehat

Regional
'Menghilang' 155 Tahun, Ibis Sendok Raja Kembali Terlihat di Sulawesi

"Menghilang" 155 Tahun, Ibis Sendok Raja Kembali Terlihat di Sulawesi

Regional
Kronologi Santri Tewas Jatuh dari Pohon Kelapa Versi Pesantren

Kronologi Santri Tewas Jatuh dari Pohon Kelapa Versi Pesantren

Regional
[POPULER NUSANTARA] Siswa SMA Nyamar Jadi Wanita Tipu Rp 141 Juta | Air Sumur Mendidih di Ambon

[POPULER NUSANTARA] Siswa SMA Nyamar Jadi Wanita Tipu Rp 141 Juta | Air Sumur Mendidih di Ambon

Regional
Fakta di Balik Nenek Paulina Tinggal Sendiri di Gubuk Reyot hingga Dapat Uang Rp 10 Juta dari Presiden Jokowi

Fakta di Balik Nenek Paulina Tinggal Sendiri di Gubuk Reyot hingga Dapat Uang Rp 10 Juta dari Presiden Jokowi

Regional
Bentrok di Universitas Negeri Makassar, 2 Mahasiswa Kena Tikam

Bentrok di Universitas Negeri Makassar, 2 Mahasiswa Kena Tikam

Regional
Angin Kencang Menerjang Puncak Bogor, 300 Penduduk Desa Diungsikan ke Masjid.

Angin Kencang Menerjang Puncak Bogor, 300 Penduduk Desa Diungsikan ke Masjid.

Regional
Peringati Hari Santri, Khofifah Minta Warga Jatim Mengheningkan Cipta

Peringati Hari Santri, Khofifah Minta Warga Jatim Mengheningkan Cipta

Regional
Mulai 2020, Disparbud Jabar Akan Jadikan Situs Purbakala Wisata Sejarah

Mulai 2020, Disparbud Jabar Akan Jadikan Situs Purbakala Wisata Sejarah

Regional
Ancam Akan Bunuh, Ayah Cabuli Putri Kandung Usia 14 Tahun

Ancam Akan Bunuh, Ayah Cabuli Putri Kandung Usia 14 Tahun

Regional
Kunjungi Pengungsi Angin Kencang, Khofifah Minta Sekolah Darurat Didirikan

Kunjungi Pengungsi Angin Kencang, Khofifah Minta Sekolah Darurat Didirikan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X