Mbah Wiro Balung, Sosok Penting Dibalik Berdirinya Museum Trinil yang Kumpulkan Fosil Sejak 1967

Kompas.com - 12/06/2019, 09:05 WIB
 Banner tentang kegigihan Mbah Wirobalung mengumpukan tulang temuan warga sehingga terbangunnya Museum Trinill di pojok sebelah kiri dari diorama pithecanthropus erectus di ruang pamer museum yang sering terabaikan. KOMPAS.com/SUKOCO Banner tentang kegigihan Mbah Wirobalung mengumpukan tulang temuan warga sehingga terbangunnya Museum Trinill di pojok sebelah kiri dari diorama pithecanthropus erectus di ruang pamer museum yang sering terabaikan.

NGAWI, KOMPAS.com - Tidak banyak pengunjung Museum Trinil yang memperhatikan informasi tentang sejarah pendirian Museum Trinil yang dipasang di sebelah kanan diorama manus purba. Kebanyakan pengunjung lebih tertarik memperhatikan diorama Pithecanthropus erectus, manusia purba yang menghuni kawasan Desa Kawu tempat museum tersebut didirikan pada 1 juta tahun yang lalu.

Pada papan informasi sederhana tersebut, diceritakan sosok Wirodiharjo atau dikenal dengan nama Mbah Wiro Balung yang punya peran penting dibalik berdirinya Museum Trinil. Nama Balung yang disematkan, dalam Bahasa Jawa berarti tulang belulang.

Agus Hadi Widiarto, petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya BPCB Trowulan mengaku mengenal langsung sosok Mbah Wiro Balung. Saat itu, Agus adalah siswa SMA Soeryo yang sering berkunjung ke museum untuk belajar teori evolusi. Seringnya berkunjung ke museum, membuat Agus kenal dekat dengan Mbah Wiro Balung.

"Saya lulus dari SMA Soeryo tahun 1990 dan mulai bertugas di Museum Trinil dari BPCB Trowulan tahun 1992,” ujarnya Senin (10/06/2019).


Baca juga: Kesan Pengunjung Museum Fatahillah: Murah, Menghibur, hingga Gerah...

Perjalanan hidup Mbah Wiro Balung, kata Agus, sempat terlunta-lunta usai gagal mencalonkan diri sebagai bayan atau perangkat desa. Mbah Wiro Balung yang tinggal di Desa Kawu bagian Selatan akhirnya diberi kepercayaan oleh Kepala Desa Kawu, Suwandi untuk memelihara dan menjaga keberadaan tugu penemuan fosil Pithecanthropus erectus yang dibangun oleh Eugene Dubois pada tahun 1889.

"Dulu kan banyak peneliti datang ke sini dan di sini ada tugu penemuan yang dibangun. Mbah Wiro Balung ini yang tinggal di sini merawat tugu,” katanya.

Karena tinggal di kawasan situs penggalian fosil, Mbah Wiro Balung akhirnya mempunyai kepedulian untuk mengumpulkan tulang fosil yang saat itu banyak ditemukan oleh warga.

Warga menyebut temuan tulang yang kebanyakan adalah tulang hewan dan fosil pohon dengan tulang buto. Menurut masyarakat setempat, Buto merupakan makhluk yang berbadan sangat besar.

"Karena tulang yang ditemukan itu berukuran besar, warga menyebutnya tulang buto,” imbuh Agus.

Berkat kegigihan Mbah Wiro Balung memberikan pemahaman akan pentingnya nilai historis tulang tersebut, warga dengan suka rela menyerahkan temuan fosil tulang kepadanya.

Baca juga: Risma Akan Bangun Museum Pendidikan di Aset Tanah Milik China yang Telah Dikembalikan

Mbah Wiro Balung juga meminta kepada warga untuk tidak menjual tulang fosil temuan mereka kepada kolektor yang sering berburu fosil. Alhasil rumah yang ditinggali mbah Wiro Balung penuh dengan temuan fosil tulang yang diserahkan warga.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X