Melihat Kondisi Lapas Langkat Pascakerusuhan 16 Mei (1)

Kompas.com - 24/05/2019, 15:27 WIB
Bangkai kendaraan yang dibakar narapidana saat kerusuhan pada 16 Mei 2019 masih tergeletak di halaman Lapas Narkotika Klas III Langkat, Sumatera Utara, Jumat (24/5/2019) KOMPAS.com/MEI LEANDHA Bangkai kendaraan yang dibakar narapidana saat kerusuhan pada 16 Mei 2019 masih tergeletak di halaman Lapas Narkotika Klas III Langkat, Sumatera Utara, Jumat (24/5/2019)

MEDAN, KOMPAS.com - Terik beranjak naik saat Kompas.com tiba di Desa Cempa, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Lima menit membelok ke kanan dari jalan lintas Langkat-Aceh, terlihat gerbang tanpa pagar.

Inilah pintu masuk menuju Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas III Langkat. Saat menyusurinya, suasana terasa gersang meski beberapa pohon jati tumbuh menghalau panas.

Tepat di halaman gedung, bangkai kendaraan yang dibakar para narapidana saat kerusuhan pada 16 Mei lalu, masih tergeletak. Kaca-kaca jendela pecah, sebagian pecahan kaca masih bertengger di kusen.

Bekas terbakar pun masih terlihat jelas di beberapa sudut. Memasuki pintu tanpa daun, isi gedung terlihat kosong melompong. Seorang pria berseragam biru langit dengan simbol Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkumham), menyambut.


Baca juga: Pascakericuhan, Kepala Lapas Narkotika Langkat Dicopot, Seluruh Pegawai Diganti

Setelah mengenalkan diri dan maksud kedatangan ingin melihat kondisi terkini, serta jika memungkinkan mewawancarai beberapa tahanan. Petugas bertubuh kecil itu mengarahkan masuk ke ruang tunggu dan bertanya kepada petugas di sana.

Kembali melewati pintu kaca yang bolong. Beberapa petugas Lapas yang hampir seluruhnya orang baru dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Wilayah Sumut setelah mendengarkan tujuan kedatangan kompak tidak mengizinkan bertemu Pelaksana Tugas Kepala Lapas yang baru, Muhammad Tavip.

Seorang narapidana membawa alat pengangkut saat membersihkan lokasi Lapas Narkotika Kelas III Langkat yang rusak pasca-kerusuhan, di Langkat, Sumatera Utara, Jumat (17/5/2019). Akibat kerusuhan tersebut sejumlah ruangan rusak, tiga mobil dan 13 sepeda motor petugas hangus terbakar,154 narapidana melarikan diri, 103 di antaranya berhasil ditangkap dan menyerahkan diri.ANTARA FOTO/IRSAN MULYADI Seorang narapidana membawa alat pengangkut saat membersihkan lokasi Lapas Narkotika Kelas III Langkat yang rusak pasca-kerusuhan, di Langkat, Sumatera Utara, Jumat (17/5/2019). Akibat kerusuhan tersebut sejumlah ruangan rusak, tiga mobil dan 13 sepeda motor petugas hangus terbakar,154 narapidana melarikan diri, 103 di antaranya berhasil ditangkap dan menyerahkan diri.

Alasan mereka, yang bisa memberikan keterangan hanya orang yang jabatannya satu tingkat lebih tinggi di atas Plt Kalapas, misalnya kepala divisi atau langsung kepala kantor wilayah.

Dijelaskan sudah mendapat izin dari Humas Kanwilkumham Joshua Ginting, petugas bernama Indra menyuruh menunggu sebentar.

Baca juga: 6 Fakta Kerusuhan Lapas Narkotika Langkat, Ratusan Napi Kabur hingga Dipicu Oknum Petugas Lapas Pukul Napi

Sambil menunggu, terlihat para tahanan pendamping (tanping) berkaos hijau dan merah sibuk membersihkan puing-puing, pecahan kaca, dan mengepel lantai.

Seorang petugas bernama Syahrial terlihat membaur bersama para tanping. Dipancing obrolan ringan, dia mengaku sepeda motornya menjadi salah satu korban pembakaran. Padahal, kata dia, baru saja selesai kreditnya.

"Sedang menikmati masa-masa cicilan lunas, jadinya malah begini. Entah apa maksudnya mereka, kok merusaki barang yang tidak bersalah. Diganti gak itu, ya?" ujarnya, Selasa (21/5/2019) siang.

Ditanya saat kerusuhan terjadi, dirinya berada di mana, Syahrial bilang lari menyelamatkan diri daripada cari mati. Menurutnya, para warga binaan bukan berniat melarikan diri, hanya ingin merusak.

Setelah melakukan perusakan, para warga binaan berkumpul di halaman lalu menurut masuk kembali ke dalam Lapas saat digiring petugas. Memang ada juga yang mengambil kesempatan kabur, tapi jumlahnya tak sebanyak yang kembali ke tahanan.

"Lari, ya lari Buktinya 1.000 lebih yang lari cuma 50 kan? Berarti orang itu memang gak berniat lari, niatnya merusak," katanya lagi.

Tak lama, Plt Kalapas Tapiv datang. Dia langsung blak-blakan mengatakan dirinya tidak punya kewenangan memberikan keterangan apapun kecuali kadivpas atau kakanwil.

"Mohon maaf, semua informasi apapun (wewenang) kantor wilayah. Yang memperbaiki ini kantor wilayah, bukan saya. Saya di sini cuma mengendalikan saja, tolonglah mengerti kawan-kawan. Saya-kan sibuk di dalam, dipanggil nanti saya gak datang, gak enak. Kalau kalian mau tahu, tidur saja gak jelas di mana, saya puasa," ucapnya sambil menjawab panggilan masuk ke ponselnya.

Usai menjawab suara dari seberang, intonasi suara Tapiv merendah. Dia bilang, setiap hari pasca-kerusuhan, petugas dari Kanwilkumham Sumut datang untuk mendata kerusakan dan apa saja yang akan diperbaiki. Dia mengarahkan bertanya langsung kepada mereka.

Perlahan, dirinya bercerita, kerusakan paling parah terjadi di gedung satu dan dua yang berfungsi sebagai kantor pelayanan dan ruang penyimpanan arsip. Kerusakannya mencapai 90 persen.

Kerusakan tambahan adalah terbakarnya tiga unit mobil, 13 sepeda motor, dan rusaknya satu unit ambulans.

"Habis semua terbakar, berkas-berkas warga binaan, untung kita punya soft copy-nya di Kanwil. Ini kursi meja, pinjam itu. Tapi target kita, sebelum Lebaran sudah selesai semua perbaikan," ujar Kepala Bidang Pembinaan Bimbingan dan Teknologi di Kemenkumham Sumut ini.

Tidak ada yang berubah pasca-kerusuhan, semua berjalan normal. Begitu juga soal pengamanan kepada para pengunjung, meski mesin x-ray mengalami sedikit kerusakan. Barang bawaan pengunjung masih bisa diperiksa secara manual.

"Lagi diperbaiki, hari ini sudah bisa digunakan mesin itu," imbuhnya.

Melihat Tavip sudah mulai bersahabat, sedikit bujukan membuatnya mengizinkan Kompas.com masuk ke dalam Lapas. Namun dengan syarat dan berulang kali diingatkannya, hanya melihat-lihat saja, tidak boleh mengambil gambar, dan berbicara dengan para tahanan.

Pria berfostur tinggi besar bermarga Marbun, yang sebelumnya bertugas di bagian administrasi Rutan Tanjungpura yang kini menjadi Kepala Subseksi Keamanan dan Ketertiban Lapas Narkotika Langkat mendampingi berkeliling.

Setelah meresmikan, Menkumham Yasonna Hamonangan Laoly mencopot jabatan Kalapas Klas III Narkotika Langkat Bakhtiar Sitepu usai kerusuhan 16 Mei 2019 lalu KOMPAS.com/MEI LEANDHA Setelah meresmikan, Menkumham Yasonna Hamonangan Laoly mencopot jabatan Kalapas Klas III Narkotika Langkat Bakhtiar Sitepu usai kerusuhan 16 Mei 2019 lalu

Tiba di dalam, terlihat proses bersih-bersih sedang berlangsung di gedung dua. Pecahan kaca berjatuhan dari lantai dua bangunan. Samping dekat gerbang keluar, berkas-berkas yang masih bisa diselamatkan sedang dijemur.

Ambulans yang dirusak massa sudah kembali ke posisi semula tapi kaca depannya bolong. Kata Marbun, belum bisa difungsikan karena harus diperbaiki lagi.

Terik matahari yang menyengat mengajak kami berteduh di samping dapur yang tidak rusak sama sekali. Aroma ikan goreng terbang bersama angin mengganggu penciuman.

Tidak lama berada di dalam, kami keluar komplek lapas yang bentuknya mirip gudang-gudang pabrik itu. Soalnya, bangunan sel dan menara pemantaunya seperti terbuat dari almunium, unik.

Selaras dengan pagar-pagar tinggi sebagai pembatas yang di puncaknya kawat duri bergulung-gulung, juga dari alumunium. Kami melewati ruang berukuran 2x3 sentimeter, Marbun bilang, ini ruang Kepala Subseksi Keamanan dan Ketertiban Lapas Narkotika Langkat Sunardi.

Informasi yang didapat, kemarahan para narapidana sebenarnya kepada Sunardi yang dianggap sewenang-wenang memperlakukan tahanan.

Saat kerusuhan, Sunardi berhasil menyelamatkan diri, alhasil, kendaraannya yang jadi bulan-bulanan massa. Ditanya soal informasi ini kepada Marbun, laki-laki asal Kota Sibolga itu tak mau menjawab.

Petugas Lapas yang hampir seluruhnya orang baru dari Kanwilkumham Sumut di ruang tunggu yang tak berkaca jendela KOMPAS.com/MEI LEANDHA Petugas Lapas yang hampir seluruhnya orang baru dari Kanwilkumham Sumut di ruang tunggu yang tak berkaca jendela

55 narapidana masih buron

Dampak dari kerusuhan Lapas Klas III Narkotika Langkat adalah kaburnya 147 narapidana. Sepekan pascakerusuhan atau mulai 16 Mei sampai 22 Mei 2019, sudah 92 warga binaan yang kembali. Sisanya, 55 narapidana menjadi buronan.

Mereka yang menyerahkan diri dan kembali, menurut Kepala Kanwil Kemenkumham Sumut Dewa Putu Gede belum semuanya berada di Lapas Narkotika.

"Beberapa kita tempatkan di Lapas Binjai, Lapas Pangkalanbrandan, dan Lapas Pemuda Tanjungpura," kata Dewa, Rabu (22/5/2019).

Kepada warga binaan yang belum kembali, dirinya mengimbau untuk kooperatif dengan menyerahkan diri secara sukarela. Bagi yang ingin menyerahkan diri, bisa mendatangi aparat desa masing-masing, aparat keamanan atau ke Kanwilkumham Sumut.

Bisa juga langsung mendatangi Lapas Kelas III Narkotika Langkat atau lapas-lapas yang terdekat dengan tempat pelariannya.

"Saya jamin yang kembali dan menyerahkan diri tidak akan mengalami tindakan kekerasan. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat, keluarga, dan warga binaan yang berniat baik kembali ke lapas. Anggaplah kami seperti orangtua mereka di wilayah Sumut ini,” pungkas Dewa.

Selain menangkap kembali para narapidana, untuk perbaikan semua kerusakan sarana dan prasarana Kemenkumham khususnya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) sudah mengirimkan meja, sofa, laptop serta beberapa infrastruktur pendukung perkantoran lainnya.

Barang-barang tersebut sudah tiba di lapas melalui Tim Perencanaan dan Barang Milik Negara.

Ditjenpas, kata Dewa, sudah mengirimkan tiga tim untuk membantu percepatan normalisasi Lapas yaitu tim dari Direktorat Keamanan dan Ketertiban (Kantib), tim informasi, dan tim yang mengkalkulasi dampak kerusakan.

Soal aktivitas di dalam lapas, Dewa mengatakan, tidak mengalami gangguan karena fasilitas-fasilitas penunjang warga binaan tidak ada yang mengalami kerusakan.

"Blok tahanan, rumah ibadah, poliklinik, dan dapur bisa digunakan seperti biasa," ucapnya.

Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto yang dimintai komentarnya sewaktu meninjau proses rekapitulasi di KPU Sumut mengatakan, setelah identitas para narapidana diumumkan, dia memberi waktu sepekan agar para narapidana menyerahkan diri.

Lewat batas waktu yang ditentukan, polisi tidak akan mentoleransi lagi dan tak segan-segan memberikan tindakan tegas.

"Mereka secara internal ( Lapas Langkat) pasti berbenah. Dari data valid yang kita terima dari Lapas, berikut identitas dan alamatnya, imbauan kita agar menyerahkan diri. Kita kasih waktu satu minggu, kalau mereka melawan, kita tidak ragu untuk melakukan tindakan tegas," kata Agus.

Tak hanya sanksi kepada para narapidana, sanksi tegas juga diberikan Menkumham Yasonna Hamonangan Laoly dengan mencopot jabatan Kalapas Kelas III Narkotika Langkat Bakhtiar Sitepu usai kerusuhan.

Yasonna juga memindahtugaskan hampir seluruh pegawai dan petugas lapas. Kemudian melimpahkan kasus penganiayaan yang dilakukan petugas lapas kepada warga binaan ke Polres Langkat untuk diproses hukum.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X