Kompas.com - 25/04/2019, 10:23 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com – Program Citarum Harum yang digulirkan pemerintah 2018 lalu berimbas pada industri tekstil khususnya pencelupan di sekitaran Citarum.

Setidaknya, ratusan pabrik pencelupan di sekitaran Citarum mengurangi produksi hingga 50 persen. Hal ini dikarenakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dimiliki pabrik tersebut tidak memenuhi standar baku mutu.

“Memang banyak industri yang belum memiliki IPAL atau IPAL-nya tidak sesuai dengan kapasitas,” ujar Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Kevin Hartanto dalam acara Cotton Council International (CCI) di Jalan Ir Djuanda Bandung, Kamis (25/4/2019).

Baca juga: Wali Kota Bandung Dukung Program Citarum Harum yang Digagas Pemerintahan Jokowi

Kevin mengaku, mau tidak mau, industri memang harus mengikuti standar baku mutu agar tidak lagi mengotori Citarum. Pembenahan ini, membutuhkan waktu yang berbeda untuk setiap pabriknya.

Ada pabrik yang hanya membutuhkan waktu 6 bulan untuk membenahi IPAL. Namun jika ingin set-up IPAL dari awal, membutuhkan waktu mencapai 2 tahun.

Selama pembenahan tersebut, pabrik tidak bisa beroperasi dengan maksimal. Saat ini, rata-rata produksi industri pencelupan berkisar di angka 50-70 persen.

Ketika pabrik pencelupan bermasalah, maka industri terkait lainnya, ikut terimbas, misalnya industri benang ataupun kain.

“Produksi baru akan normal setelah IPAL selesai,” katanya.

Baca juga: Citarum Harum yang Dianggap Tak Maksimal..

Persoalan kemudian datang seiring tingginya kebutuhan kain di masyarakat, sedangkan produksi menurun. Kondisi ini membuat impor kain, terutama dari China semakin menggeliat. Bahkan ia mencatat, hingga kini impor kain dari China mencapai 80 persen.

Ia tidak memegang data detail tentang kenaikan impor pasca program Citarum Harum. Namun ia memberi contoh impor salah satu jenis kain dalam kurun waktu 2017-2018 naik 100 persen.

Apalagi, China memang begitu gencar mengekspor produknya. Bahkan China menguasai 40 persen kebutuhan dana pada produk tekstil.

“Kita (indsustri tekstil Indonesia) di pasar dunia kurang dari 2 persen. Tapi China menguasai 40 persen kebutuhan dunia,” pungkasnya.

Citarum Harum secara normatif diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kejar Pembangunan Quran Center di Riau, Syamsuar Lakukan Kunker ke Maqari Quraniyah di Madinah

Kejar Pembangunan Quran Center di Riau, Syamsuar Lakukan Kunker ke Maqari Quraniyah di Madinah

Regional
Walkot Bobby Ajak Mahasiswa Beri Saran Terkait Energi Terbarukan Pengganti BBM

Walkot Bobby Ajak Mahasiswa Beri Saran Terkait Energi Terbarukan Pengganti BBM

Regional
Awasi Perkembangan Inflasi, Maidi Pilih 'Ngantor' di Pasar Besar Madiun

Awasi Perkembangan Inflasi, Maidi Pilih "Ngantor" di Pasar Besar Madiun

Regional
Bobby Berikan Subsidi Ongkos Angkot untuk Masyarakat Medan

Bobby Berikan Subsidi Ongkos Angkot untuk Masyarakat Medan

Regional
Luncurkan JSDDD, Jembrana Jadi Kebupaten Pertama yang Gunakan Data Desa untuk Pembangunan

Luncurkan JSDDD, Jembrana Jadi Kebupaten Pertama yang Gunakan Data Desa untuk Pembangunan

Regional
Di Masa Depan, Orang Papua Harus Mengelola 'Emas' Sendiri

Di Masa Depan, Orang Papua Harus Mengelola "Emas" Sendiri

Regional
Tekan Inflasi, Siswa SD dan SMP di Kota Madiun Tanam Cabai di Sekolah

Tekan Inflasi, Siswa SD dan SMP di Kota Madiun Tanam Cabai di Sekolah

Regional
BERITA FOTO: Tanah Bergerak, Akses Jalan Kampung Curug Rusak Parah

BERITA FOTO: Tanah Bergerak, Akses Jalan Kampung Curug Rusak Parah

Regional
Yogyakarta Mengembalikan 'Remiten' dari Mahasiswa

Yogyakarta Mengembalikan "Remiten" dari Mahasiswa

Regional
Temui Dubes RI di Mesir, Gubernur Syamsuar: Kami Sedang Bangun Pariwisata Syariah

Temui Dubes RI di Mesir, Gubernur Syamsuar: Kami Sedang Bangun Pariwisata Syariah

Regional
Kunjungi Al-Azhar Kairo Mesir, Gubernur Syamsuar: Kita Coba Jalin Kerja Sama Antar-perguruan Tinggi

Kunjungi Al-Azhar Kairo Mesir, Gubernur Syamsuar: Kita Coba Jalin Kerja Sama Antar-perguruan Tinggi

Regional
Di Balik Misteri Terbunuhnya PNS Saksi Kunci Kasus Korupsi

Di Balik Misteri Terbunuhnya PNS Saksi Kunci Kasus Korupsi

Regional
Walkot Bobby Kenalkan UMKM dan Musisi Medan di M Bloc Space

Walkot Bobby Kenalkan UMKM dan Musisi Medan di M Bloc Space

Regional
Tingkatkan Efektifitas Perjalanan Warga, Wali Kota Bobby Resmikan Kehadiran Aplikasi Moovit di Medan

Tingkatkan Efektifitas Perjalanan Warga, Wali Kota Bobby Resmikan Kehadiran Aplikasi Moovit di Medan

Regional
Cegah Dampak Inflasi dan Kenaikan BBM, Khofifah Pastikan Jatim Siapkan Anggaran Perlindungan Sosial Rp 257 Miliar

Cegah Dampak Inflasi dan Kenaikan BBM, Khofifah Pastikan Jatim Siapkan Anggaran Perlindungan Sosial Rp 257 Miliar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.