Fakta Hidup "Si Mantan Preman" Bagas Suratman, Jadi Petani Sukses hingga Omset Rp 15 Juta Per Hari

Kompas.com - 20/02/2019, 17:01 WIB
Bagas Suratman saat mengikuti Roadshow BBC Get Inspired di kampung Universitas Merdeka Malang, Jawa Timur, Kamis (14/2/2019). GULANG FA CANDRABagas Suratman saat mengikuti Roadshow BBC Get Inspired di kampung Universitas Merdeka Malang, Jawa Timur, Kamis (14/2/2019).

KOMPAS.com - Titik balik kehidupan Bagas Suratman (38) terjadi saat dirinya melihat tiga buah hatinya yang sudah mulai beranjak dewasa.

Mantan preman dan penjudi tersebut akhirnya banting setir menjadi petani. Keputusan pria asal Tangerang, Banten, tersebut akhirnya berbuah manis.

Bagas menjadi petani sukses dengan penghasilan kurang lebih Rp 15 juta. Selain itu, kerja keras Bagas berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi para pengangguran.


Berikut ini fakta di balik kisah inspiratif dari sosok Bagas Suratman:

1. Dunia "jalanan" sempat menjerumuskan hidup Bagas

Bagas Suratman (tiga dari kanan) foto bersama dengan Rektor Universitas Merdeka Prof Dr Anwar Sanusi SE MSi (berdasi) dan anak muda inspiratif lainnya dalam acara roadshow BBC Get Inspired di Kampus Universitas Merdeka Malang, Kamis (4/2/2019).KOMPAS.com/ FARID ASSIFA Bagas Suratman (tiga dari kanan) foto bersama dengan Rektor Universitas Merdeka Prof Dr Anwar Sanusi SE MSi (berdasi) dan anak muda inspiratif lainnya dalam acara roadshow BBC Get Inspired di Kampus Universitas Merdeka Malang, Kamis (4/2/2019).

Bagas Suratman masih teringat kerasnya hidupnya sebelum menekuni sebagai petani. Bagas mengaku, pernah bekerja sebagai porter di bandara, kondektur, hingga menjadi preman.

Selain itu, dirinya sangat akrab dengan minuman keras dan meja judi. Kehidupan jalanan tersebut ternyata berimbas kepada pekerjaannya.

"Saya juga sudah menjalani banyak pekerjaan. Namun, ending-nya enggak enak. Selalu dipecat," kata Bagas di depan peserta roadshow BBC Get Inspired di Kampus Universitas Merdeka Malang, Jawa Timur, Kamis (14/2/2019).

Baca Juga: Lepaskan Jabatan Manajer di Perusahaan Asing, Pria Ini Memilih Jadi Petani

2. Hidup Bagas berubah karena alasan ini...

Lahan kebun sayur siap tanam yang dikelola Bagas Suratman di Tangerang, Banten.BAGAS SURATMAN Lahan kebun sayur siap tanam yang dikelola Bagas Suratman di Tangerang, Banten.

Titik balik kehidupan Bagas Suratman (38) terjadi saat pria tiga anak itu kerap memperhatikan anak-anaknya mulai beranjak dewasa. Hal ini menyadarkan dirinya akan kebutuhan biaya pendidikan mereka.

"Dari melihat anak itulah saya mulai sadar bahwa saya harus berubah, apalagi anak-anak sudah mulai dewasa dan membutuhkan biaya pendidikan," kata Bagas, Kamis (14/2/2019).

Berjalannya waktu, Bagas akhirnya menemukan kehendak hati untuk menjadi petani. Niat itu muncul saat Bagas sering melihat para petani menyirami tanaman sayur mereka.

"Saya waktu pulang kerja sebagai porter di bandara (Bandara Soekarno-Hatta) naik angkot karena waktu itu jarang ada motor. Saya sering melihat dia begitu ulet menyiram sayur. Saya jadi tertarik," katanya.

Keuletan dan kesabaran para petani tersebut menyita perhatian Bagas.

Baca Juga: Kisah Bagas Suratman: Dulu Preman dan Pemabuk, Kini Jadi Petani Sukses

3. Berasal dari keluarga petani yang malu jadi petani

Bagas SuratmanBBC Indonesia Bagas Suratman

Keluarga Bagas sebenarnya adalah keluarga petani. Namun, karena gengsi, Bagas enggan untuk meneruskan pekerjaan orangtuanya.

"Waktu itu saya tidak mau jadi petani karena gengsi. Menjadi petani itu enggak keren," katanya.

Cara pandang itu pun dia ubah. Bagas kembali belajar secara otodidak bagaimana menanam sayur. Darah petani di tubuhnya dia salurkan kembali hingga akhirnya menuai sukses.

Bagas kemudian mencoba menyewa lahan tanah tidur seluas 3.000 meter persegi untuk ditanami sayuran dan buah-buahan. Tanah tersebut tepat berada di pinggir Bandara Soekarno-Hatta.

"Modalnya dari hasil dagang sedikit-sedikit. Sebelumnya saya juga sempat dagang," kata Bagas.

Baca Juga: Bergaya "Blusukan", Pria Ini Untung Puluhan Juta dari Jus Buah

4. Alami musibah banjir, namun bangkit lagi

Ilustrasi BanjirKOMPAS.com/IRWAN NUGRAHA Ilustrasi Banjir

Pada 2007, Bagas mengalami musibah. Kebun sayur yang dikelolanya diterjang banjir. Semua tanaman sayur dan buah-buahan terendam.

"Padahal, besok mau dipanen. Semuanya habis karena terendam banjir," kenang Bagas. Namun, musibah itu tidak membuat Bagas menyerah.

Ia tetap bangkit untuk menjalankan usaha taninya yang sudah dirintis cukup lama itu.

Kini, dari transaksi sayuran dan buah-buahan, Bagas meraup omzet kotor hingga Rp 15 juta per hari. Pendapatan itu belum dipotong untuk membayar gaji pekerja dan biaya lain.

Bagas juga sudah mampu menyewa lahan seluas 26 hektar untuk ditanami sayuran dan buah-buahan seperti melon.

Ia memasok hasil usaha taninya ke pasar-pasar tradisional dan supermarket-supermarket di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Baca Juga: Ada Panen Raya, Petani Jagung Dihantui Penurunan Harga

5. Membuka lapangan pekerjaan bagi para pengangguran

Pekerja sedang memilah dan membersihkan sayuran di kompleks kebun sayur Bagas Suratman di Tangerang, Selasa (19/2/2019).BAGAS SURATMAN Pekerja sedang memilah dan membersihkan sayuran di kompleks kebun sayur Bagas Suratman di Tangerang, Selasa (19/2/2019).

Pengalaman dipecat dari sejumlah pekerjaan membuat Bagas ingin membantu para pengangguran, khususnya preman, untuk mendapatkan pekerjaan.

Bagas pun merekrut para pengangguran, pemabuk, mantan preman, dan lain sebagainya, termasuk mantan teman-temannya yang dahulu berkecimpung di dunia yang disebutnya "jalanan". Rata-rata pekerja di kebun Bagas bertato.

“Tidak penting berapa pendapatan saya. Yang terpenting adalah bagaimana saya bisa membuka lapangan pekerjaan,” ujar Bagas.

Bagas pun hanya mensyaratkan beberapa hal bagi para pencari pekerjaan tersebut, yaitu jujur dan mau bekerja keras.

"Hanya itu syarat yang saya berlakukan. Tidak penting dari kalangan mana. Siapa pun boleh bekerja di sini yang penting memenuhi syarat itu," katanya.

Baca Juga: Harga Sayur Kol Anjlok Drastis, Petani di Magetan Enggan Memanen

6. Terbuka bagi generasi muda untuk belajar bertani

Ilustrasi petaniKOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO Ilustrasi petani

Kisah perjuangan Bagas dari kehidupan terpuruk menjadi petani sukses menginspirasi banyak orang, apalagi setelah kisahnya itu muncul di media asal Inggris, BBC.

"Banyak orang yang menghubungi saya, baik melalui WhatsApp maupun media sosial," katanya.

Hampir setiap hari Bagas kerap dihubungi banyak orang, dari mulai ingin belajar bertani, mengajak kerja sama, hingga sekadar kagum.

"Kalau ada yang ingin belajar, saya sangat terbuka. Siapa pun boleh datang," katanya.

Bagas pun berpesan kepada para generasi muda untuk tidak melupakan pekerjaan petani.

"Bertani itu sentral hidup banyak orang. Bayangkan saja kalau petani mogok, nanti orang makan apa," kata Bagas.

Baca Juga: [BERITA POPULER] Ricuh Gara-gara "Lahan Prabowo" | Usia 21 Tahun Jualan Gethuk, Omzet Rp 2,2 Miliar

Sumber: KOMPAS.com (Farid Assifa)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kondisi Membaik, Bayi yang Dibuang di Jember Diserahkan ke PSAB

Kondisi Membaik, Bayi yang Dibuang di Jember Diserahkan ke PSAB

Regional
Suami Istri Sekap Siswi SMP dan Paksa Threesome di Brebes, Diduga Alami Kelainan Seksual

Suami Istri Sekap Siswi SMP dan Paksa Threesome di Brebes, Diduga Alami Kelainan Seksual

Regional
Jual Obat Penggugur Kandungan, Penjual Obat Kuat di Madiun Ditangkap

Jual Obat Penggugur Kandungan, Penjual Obat Kuat di Madiun Ditangkap

Regional
Ningsih Tinampi Klarifikasi Ucapannya Soal Datangkan Malaikat

Ningsih Tinampi Klarifikasi Ucapannya Soal Datangkan Malaikat

Regional
Negatif Corona, Mahasiswa Maluku yang Dikarantina Akhirnya Pulang ke Rumah

Negatif Corona, Mahasiswa Maluku yang Dikarantina Akhirnya Pulang ke Rumah

Regional
Seorang Pria di Lampung Ditemukan Tewas Mengenaskan, Diduga Korban Pembunuhan

Seorang Pria di Lampung Ditemukan Tewas Mengenaskan, Diduga Korban Pembunuhan

Regional
Puluhan Rumah Warga di Karawang Rusak akibat Terjangan Puting Beliung

Puluhan Rumah Warga di Karawang Rusak akibat Terjangan Puting Beliung

Regional
Tak Dipinjamkan Sepeda Motor, Adik Bakar Rumah Abang Ipar di Aceh Utara

Tak Dipinjamkan Sepeda Motor, Adik Bakar Rumah Abang Ipar di Aceh Utara

Regional
Lewat Jalur Darat, Pengantaran Jenazah Pratu Yanuarius Dikawal hingga Atambua

Lewat Jalur Darat, Pengantaran Jenazah Pratu Yanuarius Dikawal hingga Atambua

Regional
Petugas Lapas Banceuy Bandung Temukan 30 Gram Sabu di Tong Sampah

Petugas Lapas Banceuy Bandung Temukan 30 Gram Sabu di Tong Sampah

Regional
Petani Buat Sayembara untuk Tangkap Pembuang Sampah di Selokan Mataram

Petani Buat Sayembara untuk Tangkap Pembuang Sampah di Selokan Mataram

Regional
Sertu Ikrar, Korban Helikopter MI-17, Dimakamkan di TMP Kota Sorong

Sertu Ikrar, Korban Helikopter MI-17, Dimakamkan di TMP Kota Sorong

Regional
Langka dan Mahal, Pemkab Cilacap Kirim 10.000 Masker untuk Pekerja Migran di Hong Kong

Langka dan Mahal, Pemkab Cilacap Kirim 10.000 Masker untuk Pekerja Migran di Hong Kong

Regional
Wagub Jabar Sebut Pembakaran Kantor Desa di Tasikmalaya Upaya Hilangkan Barang Bukti Dugaan Korupsi

Wagub Jabar Sebut Pembakaran Kantor Desa di Tasikmalaya Upaya Hilangkan Barang Bukti Dugaan Korupsi

Regional
Baru Kumpulkan 10.000 KTP, Calon Perseorangan Pilkada Kabupaten Semarang Berharap Ada Keajaiban

Baru Kumpulkan 10.000 KTP, Calon Perseorangan Pilkada Kabupaten Semarang Berharap Ada Keajaiban

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X