Ketika Bumi Berguncang, Rinjani Bergemuruh, Ribuan Pendaki Lari Tak Tentu Arah...

Kompas.com - 01/08/2018, 08:15 WIB
Petugas membantu pendaki Gunung Rinjani yang sempat terjebak longsor akibat gempa bumi, Suharti (tengah), setelah berhasil dievakuasi dan tiba di Lapangan Sembalun Lawang, Lombok Timur, NTB, Selasa (31/7/2018). Tiga orang pendaki yang terjebak akibat gempa berhasil dievakuasi menggunakan helikopter. ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAYPetugas membantu pendaki Gunung Rinjani yang sempat terjebak longsor akibat gempa bumi, Suharti (tengah), setelah berhasil dievakuasi dan tiba di Lapangan Sembalun Lawang, Lombok Timur, NTB, Selasa (31/7/2018). Tiga orang pendaki yang terjebak akibat gempa berhasil dievakuasi menggunakan helikopter.

MATARAM, KOMPAS.com — Saat gempa terjadi pada Minggu (29/7/2018) pagi, pendaki Gunung Rinjani mengaku merasakan keras guncangannya dan durasinya cukup lama.

Hampir 1.000 orang yang berada di kawasan itu panik. Bagaimana tidak, saat bumi berguncang begitu keras, tanah tanah retak, batu dan longsoran tebing berjatuhan dari puncak Rinjani.

“Kami saat itu baru saja berjalan turun dari puncak dan berada di Pelawangan. Rencananya akan ke Danau Segara Anak. Tiba-tiba semua berguncang, gemuruh, dan kami tak saling lihat karena debu menutup pandangan kami, semua berteriak," kata Budi Kiswantoro alias Wawan, pendaki asal Makassar, kepada Kompas.com, Selasa (31/7/2018).

Saat bertemu dengan Wawan, dan sejumlah rekannya di Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Sembalun, Lombok Timur, mereka tengah menerima telepon dari keluarga Mochmad Ainul Taksim (26), pendaki yang meninggal akibat tertimpa longsoran dan bebatuan di kawasan Rinjani.

Saat itu, keluarga Ainul terus menanyakan proses evakuasi yang tengah dilakukan di kawasan pendakian Rinjani.

“Ini benar-benar sulit bagi kami karena kami sama-sama berangkat dari Makassar dengan Bang Inul, muncak bareng, dan setelah gempa semua berubah. Semua tidak menentu. Kami semua berlarian tak terarah, panik, karena gemuruh, guncangan dan lonsoran tanah juga batu batu ke arah kami, semua tak terlihat, debu mengepul di mana-mana,” tutur Wawan.

Wawan tampak lusuh karena memang baru turun dari kawasan pendakian Gunung Rinjani setelah dievakuasi petugas. Baju yang dipakainya pun tak diganti. Namun dia bersedia menceritakan detik-detik terakhir bersama kawan terbaiknya, Ainul.

“Waktu itu dia kan lari, terus jatuh. Mungkin dia tertimpa batu. Waktu itu saya cari dia, saya menemukan dia dan saya angkat dia bersama kawan lain taruh ke tempat yang aman. Terus saya pangku. Karena darahnya mengucur dari telinga dan kepala, saya angkat kepalanya agar tidak banyak yang mengucur darahnya," suara Wawan bergetar menahan tangis.

“Dia meninggal di pangkuan saya,” katanya pelan.

Saat itu, gempa terus mengguncang. Getaran dan longsoran datang bertubi-tubi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemprov Sulsel Klaim 12 Kabupaten Sudah Aman dari Covid-19

Pemprov Sulsel Klaim 12 Kabupaten Sudah Aman dari Covid-19

Regional
Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Regional
Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Regional
Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Regional
Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Regional
Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Regional
Empat Wilayah di Sumsel Bersiap 'New Normal', Palembang Tak Masuk

Empat Wilayah di Sumsel Bersiap "New Normal", Palembang Tak Masuk

Regional
Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Regional
Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Regional
Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Regional
Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Regional
3 Warga Ngada NTT Tewas Keracunan Belerang Saat Bakar Sarang Lebah

3 Warga Ngada NTT Tewas Keracunan Belerang Saat Bakar Sarang Lebah

Regional
Perawat Diancam Usai Periksa Pasien Covid-19, Ganjar Minta Pelakunya Diusut

Perawat Diancam Usai Periksa Pasien Covid-19, Ganjar Minta Pelakunya Diusut

Regional
Bayi Kembar Usia 1 Tahun Terpapar Corona dari Klaster Jemaat HOG Batam

Bayi Kembar Usia 1 Tahun Terpapar Corona dari Klaster Jemaat HOG Batam

Regional
Halusinasi Kapolsek Berujung Pemecatan, Tabrak Rumah Warga hingga Tewaskan Balita

Halusinasi Kapolsek Berujung Pemecatan, Tabrak Rumah Warga hingga Tewaskan Balita

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X